Puasa yang Tak Biasa

suaramuhammadiyah.id Sudah berapa tahun kita rutin berpuasa Ramadhan? Adakah dampak puasa dalam kehidupan sehari-hari? Puasa yang tidak biasa, yang membawa dampak luar biasa, harus dilakukan sepenuh jiwa. Tidak hanya sebagai rutinitas tahunan yang hampa makna.

Shiyam atau shaum memiliki makna alimsak atau menahan diri. Inilah hakikat puasa yang sesungguhnya. Puasa merupakan ajang riyadhah. Puasa sebagai latihan atau olah jiwa untuk menaklukkan hawa nafsu dan keinginan manusia yang tak terbatas dan tak pernah puas. Puasa sebagai wujud kepatuhan dan pelatihan jiwa raga. Kepatuhan mendorong kita untuk mempersembahkan hidup hanya kepada Tuhan semesta.

Puasa melatih sikap ihsan, merasa seluruh hidup kita diawasi oleh-Nya. Jiwa ihsan mendorong kita untuk menjalani hidup dengan keluhuran moral. Setiap tindakan dan ujaran kita senantiasa disorot kamera raksasa, dan pada saatnya akan dimintai pertanggungjawaban. Kita akan tergerak untuk selalu menebar laku kebaikan kepada semua. Tidak akan merasa jumawa, tidak juga merendahkan sesama. Tidak sekadar baik ketika dilihat manusia. Allah hadir bersama kita.

Puasa adalah tangga menuju mi’raj ruhani, kata Haedar Nashir. Puasa yang sungguh-sungguh akan meningkatkan kualitas hidup, naik kepada tingkatan takwa. Seluruh kebaikan tertampung dalam makna takwa. Mi’raj ruhani dilakukan sebagaimana pengalaman spiritual Nabi melakukan isra’ dan mi’raj. Setelah naik dan bertemu dengan Allah, Nabi memilih kembali turun ke bumi. Puasa bukan berarti lari dari berbagai pergulatan hidup. Dimensi utama dari pribadi takwa dipancarkan dalam kesabarannya menjalani hidup yang penuh dilema dan tak pernah sempurna.

Takwa bermakna takut namun penuh harap akan anugrah-Nya. Takwa merupakan kualitas diri yang lulus dari ujian kehidupan. Berhasil menunda kenikmatan sesaat demi kebahagiaan yang abadi. Kata Jalaluddin Rumi, “Jangan biarkan jiwa mengemis pada tubuh!” Artinya, jangan biarkan kita dikendalikan oleh kesibukan memenuhi kebutuhan jasad belaka. Kenikmatan fisik tidak membawa pada kebahagiaan hakiki. Kenikmatan jasad bersifat fana, seperti orang meminum air laut. Semakin diminum, semakin bertambah haus, dan tidak menghilangkan dahaga.

Baca Juga:   Tantangan Kebudayaan Saat Ini

Puasa bukan menghabisi semua potensi diri yang dihadapi, namun mengendalikannya. Tujuan Islam, menurut Quraish Shihab, adalah mempertemukan kehendak jasmani dan ruhani. Itulah sikap moderat yang dijunjung oleh agama. Manusia tidak diperintahkan untuk selalu taat layaknya malaikat. Manusia dikecam jika selalu mengikuti nafsu rendah layaknya setan. Setan adalah musuh kemanusiaan. Kata pepatah Welsh: setan memiliki tiga anak yang diberi gelar, yaitu kesombongan, kebohongan, dan keirihatian.

Dalam diri manusia terdapat dua kecenderungan: fujur dan takwa. Potensi ini akan muncul ketika kita aktualkan dalam keseharian. Puasa menahan diri kita dari berbagai keinginan mengaktualkan laku kejahatan. Terlalu banyak keinginan atau nafsu yang tidak terkendali, mengantarkan manusia jatuh ke level terendah. Manusia diciptakan oleh Tuhan dari unsur tanah dan ruh ilahi. Unsur tanah mendorong manusia ke tingkatan rendah sementara unsur ruh ilahi akan membawa manusia untuk naik kelas.

Manusia diberi kehendak bebas untuk memilih, dibekali akal dan wahyu untuk menimbang. Namun ia dituntut bertanggung jawab atas apapun pilihan hidupnya. Dengan kelengkapan potensi akal, derajat manusia berada di atas hewan. Dan dengan adanya hawa nafsu, manusia juga berada di bawah derajat malaikat. Saat manusia terjerumus dengan hawa nafsunya, maka ia turun ke derajat hewan yang tak berakal. Ketika ia mampu mengendalikan nafsunya, maka ia naik ke level malaikat. Malaikat merupakan makhluk yang dekat dengan Allah.

Di sela ayat tentang puasa, Allah menyisipkan ayat 186 dari Surat Al-Baqarah. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Puasa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Kedekatan dengan-Nya merupakan kualitas diri yang didambakan semua hamba. Ketika menemukan dan dekat dengan Allah, kita tak lagi merasa butuh segala yang menyilaukan mata, tak lagi punya keinginan pada semua yang fana. Kita akan meniru sifat-sifat kesempurnaan-Nya, yang penyayang, pemurah, pemaaf, adil, melimpahkan rahmat, dan seterusnya. Kedekatan dengan sumber cahaya, membuat kita dilimpahi pantulan cahaya pengetahuan dan petunjuk menjalani hidup.

Baca Juga:   Aroma Ekonomi New Normal

Puasa itu melatih sikap sabar. Kesabaran dalam menahan segala larangan  yang dapat membatalkan puasa atau mengurangi pahala dan makna puasa. Sabar berarti menahan diri dari sikap ingin lepas kendali. Kemampuan menahan diri ini membuat manusia punya kesempatan untuk mengenali diri dan menyadari batas-batas kekuatan dan kelemahannya. Sabar mengantarkan manusia untuk mengakrabi dan mengevaluasi dirinya. Pengendalian diri selama berpuasa merupakan bagian dari ujian hidup.

Perlu kesadaran penuh supaya puasa kita tidak hanya menahan nafsu makan, minum, dan seks, namun juga menahan diri dari segala nafsu rendah yang merasa diri lebih tinggi. Puasa merupakan sarana menyinari hati dan menyucikan jiwa. Butuh usaha keras supaya kita mampu mengendalikan mulut dari ujaran yang mengurangi makna puasa. Dalam kehidupan hari ini, puasa menjadi benteng pertahanan kita dalam bertutur di media sosial. Puasa kita hendaknya juga tercermin dalam bermain gawai.

Rasulullah bersabda, “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan. Kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat bertemu dengan Rabbnya.” Kegembiraan berbuka kerap dipahami sebagai kegembiraan fisik, dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhan dipahami sebagai kegembiraan hati. Manusia merasakan suatu kenikmatan tersendiri ketika berhasil memikul suatu beban atau menyelesaikan suatu tanggungan. Kenikmatan ruhani ini melebihi kelezatan jasmani.

Prof Romli, Ketua PWM Sumatera Selatan, menyatakan bahwa puasa itu menahan diri dari yang dilarang. Menahan diri dari yang dilarang meniscayakan supaya kita mengerjakan sesuatu yang diperintahkan. Tidak hanya menahan diri secara pasif, namun juga melakukan sesuatu secara aktif. Sikap ini akan bermuara pada satu titik keseimbangan yang membentuk sebuah karakter utama. Yang tadinya pemarah menjadi ramah, yang sombong menjadi rendah hati, yang bakhil menjadi pemurah.

Di masa pandemi Covid-19 kali ini, rutinitas puasa Ramadhan kita menjadi berbeda. Kita mungkin tidak menemukan ritual agama yang semarak di rumah-rumah ibadah. Tidak ada parade keshalehan yang kadang hanya berada di lapis permukaan. Di masa wabah korona ini, napas-napas ketuhanan kita temukan dalam ruang sunyi kesendirian. Suara-suara wahyu akan kita temukan dalam kekusyukan dialog batin. Selama ini, dalam dunia yang gegap gempita, kadang kita abai untuk mengambil jeda dan berefleksi.