Kegiatan Keagamaan Sebagai Penyebar Covid-19?

Seorang tokoh di sebuah kecamatan di Jawa Tengah mendapat WA dari petugas Epidemologi  yang isinya mohon bantuan untuk memberikan informasi pelacakan Covid 19 apabila mengetahui informasi adanya seseorang di lingkungannya yang pernah mengikuti  Tabligh Akbar di Gowa Sulawesi Selatan dan  ada seseorang yang terkait dengan Pondok Pesantren Temboro Jawa Timur baik sebagai santri maupun karyawan. Inilah salah satu upaya petugas untuk memotong penyebaran Covid 19 di Jawa Tengah.

Di Jawa Tengah dan juga Daerah Istimewa Yogyakarta,  penyebaran melalui klaster Tabligh Akbar Gowa memang lagi menjadi isu hangat. Di hampir semua Kabupaten/Kota di Jawa Tengah dalam pelacakan ada kasus Covid 19 yang terkait dengan klaster Gowa ini.  Bahkan Klasster Temboro Jawa Timur juga telah “mengimpor” kasus covid 19 ini ke Malaysia.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menyatakan klaster Ijtima Dunia di Gowa, Sulawesi Selatan menjadi kelompok penularan virus corona (Covid-19) yang cukup besar di Jateng. Pasalnya, ada sekitar 1.500 warga Jateng mengikuti acara tersebut.

Sedangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta, paling tidak ada tiga klaster yang memengaruhii penyebaran Covid 19 ini, di antaranya terkait dengan Klaster Tabligh Akbar Gowa ini. Selain itu, juga ada klaster jamaat gereja GPIB di Kota Yogyakarta yang penyebarannya berasal dari kegiatan GPIB di Bogor Jawa Barat. Klaster GPIB ini, ternyata juga memengaruhi penyebaran Covid 19 di Propvinsi Banten.

Jawa Barat tidak hanya menyebarkan Covid 19 lewat klaster GPIB ini keluar Provinsi, tetapi juga lewat  kegiatan gereja  GBI Lembang. Selain banyak menyebar di Bandung, juga menyebar keluar Kota Bandung dan bahkan ada yang sampai ke Jawa Tengah.

Selain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat dan Banten, DKI Jakarta  yang merupakan epicentrum penyebaran Covid 19 di Indonesia  juga mencatatkan  kasus yang terkait dengan kegiatan keagamaan. Kasus ini melibatkan Sekolah Tinggi Teologi Bethel di Petamburan.Jakarta, 36 penghuni asrramanya terjangkit virus ini dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Darurat Covid 19 di Wisma Atlit Kemayoran.

Baca Juga:   Mendekatkan Antar Kelompok Masyarakat

Tetapi kasus penyebaran yang cukup besar ini, tidak melulu disebabkan oleh kegitan yang terkait dengan keagamaan. Kegiatan yang melibatkan massa yang besar dan tidak menghiraukan protokol kesehatan Covid 19 berpotensi untuk menjadi klaster penyebaran Covid 19 tersendiri. Kasus yang terjadi di Asrama Gereja Bethel Petanburan juga terjadi di Sekolah Polisi di Sukabumi. Bahkan melibatkan personil yang lebih banyak dibanding yang terjadi di Bethel Petamburan. Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, kasus Sukabumi menjadi klaster tersendiri.

Dalam hal pencegahan Covid 19 lewat kehidupan asrama ini, Muhammadiyah lebih antisipatif. Ribuan siswa Madrasah Muallimin dan  siswi Madrasah Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta yang tinggal di asrama  dipulangkan lebih dini ke rumah masing-masing sebelum wabah meluas seperti sekarang ini.

Selain klaster yang terkait dengan keagamaan, Jawa Barat mencatat Klaster Musyawarh HIPMI di Karawang Jawa Barat yang  juga menjadi klaster non keagamaan. Klaster Karawang ini diperkirakan ikut berperan terhadap terpaparnya Bupati Kerawang oleh virus Covid 19.

Dan yang mengejutkan terjadinya klaster Pasar di Jawa Timur, yaitu Klaster Pasar Grosir Surabaya yang sangat memengaruhi pesatnya penyebaran virus Covid 19 di Suarabaya Raya dan Bahkan Jawa Timur, selain klaster Asrama Haji Sukolilo Suarabaya. Yang masih hangat ada  tambahan klaster baru, klaster Pabrik Rokok Sampoerna di Rungkut Surabaya.

Lengkap sudah jenis penyebarannya, dari kegiatan sakral sampai kegiatan provan. Dari kegiatan rumah ibadah sampai kegiatan pasar semua punya potensi sebagai klaster bagi penyebaran virus Covid 19. Selagi ada kerumunan dan tak mengindahkan protokol kesehatan.

Semua orang pun bisa kena virus jika tak hati-hati, baik itu yang clubbing di discotik seperti yang dialami pasien covid pertama di Indonesia ataupun yang memakai cadar seperti yang dialami santri Pesantren Temboro Magetan Jawa Timur. Karenanya, hiduplah dengan protocol kesehatan Covid 19 agar penularan virus segera berakhir. Jangan hidup seenaknya, karena merasa tidak takut tertular virus dan sudah selalu siap untuk mati.

Baca Juga:   Hamim Ilyas: Post Truth Telah Ada di Era Rasulullah

Jangan nekad. Kalau berpikir ini pilihan saya menyangkut kesehatan saya sendiri serta hidup dan mati saya sendiri. Koreksilah pikiran itu, karena begitu anda terkena Covid-19 maka anda pasti akan merepotkan orang lain, kalaupun anda meninggal juga merepotkan orang lain, maka janganlah berpikir egois. Kekonyolan ini jelas membahayakan orang lain, lebih-lebih pada keluarga, sanak saudara dan handai taulan. Ingat, jangan berbuat dhalim kepada orang lain. (Lutfi).