Pragmatisme dalam Beragama

Foto Dok Kemal Jufri for The New York Times

Bobi Hidayat,SPd,MPd

Polemik agama sebagai wahana untuk menyampaikan kepentingan duniawi akan terus terjadi sesuai dengan dinamika zamanya. Mencapai tujuan dunia semata melaui perahu agama nampak terus akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin mengambil keuntungan duniawi semata atas suatu agama yang dipandang akan dapat membantu mencapai tujuanya.

Dan selanjutnya setelah tercapai tujuan yang diinginkan, agama seolah-olah ditinggalkanya tanpa adanya kepedulian terhadapnya. Apakah tidak boleh memanfaatkan agama untuk kepentingan duniawi saja?, atau memang harus dengan tulus hati beragama yang kemudian akan berdampak pada kehidupan duniawinya, bahkan sampai ukhrowi.

Dari sudut pandang agama islam, mari kita mengingat kembali Al Qur’an surat At-Thaubah ayat 65 yang artinya “Dan Kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab ‘sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah ‘mengapa kepada Alloh dan ayat-ayat-Nya serta Rosulnya kamu selalu berolok-olok?”.

Ayat ini menerangkan kepada kita akan larangan bermain-main terhadap agama. Perintah agama bukan bahan untuk diolok-olok. Perintah agama juga bukan bahan permainan. Agama yang datang dari Alloh dan disampaikan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad merupakan aturan dan petunjuk hidup manusia.

Perintah-perintahnya mengandung makna yang mendalam dan penuh arti, serta bukan untuk bahan bercandaan dan hanya sekedar untuk mencari popularitas pribadi semata. Mengambil keuntungan dengan memanfaatkan agama sebagai objek candaan yang memiliki nilai jual karena mendukung profesinya, apalagi dibawakan dengan cara yang tidak patut merupakan tindakan yang tidak dibenarkan.

Selain itu ada juga segolongan orang yang sengaja menyesatkan manusia yang lainya dari jalan Alloh dengan perkataan dan perbuatanya. Mereka menjadikan olok-olokan jalan Alloh itu, dan sudah diingatkan namun masih saja berlaku hal yang sama, seolah-olah seperti telinganya tersumbat sehingga tidak dapat mengdengar nasehat yang baik.

Baca Juga:   Petuah HM Yunus Anis: Jadi Orang Islam Jangan Pelit

Hal ini juga digambarkan oleh Alloh dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 6 dan 7 yang artinya “Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Alloh tanpa ilmu dan menjadikan olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang sangat menghinakan (ayat 6). Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan dikedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih (ayat 7).

Disisi lain, yang menarik untuk diperhatikan juga diakhir-akhir ini dan mungkin akan tetap terus berkelanjutan dalam beberapa waktu kedepan dan bahkan akan terjadi berulang-ulang adalah pergerakan orang-orang yang berada pada kalangan elit politik. Mereka berubah menjadi religious dalam waktu sesaat dan pada waktu-waktu tertentu saja. Ada apa dengan mereka?

Perubahan seseorang menjadi religius memang mungkin dapat terjadi secara cepat. Namun perubahan ini didasari atas niat dan hidayah yang didapat, bukan karena hal lain yang merupakan jalan untuk meraih simpati.

Berbeda dengan kebanyakan kalangan elit politik yang berubah menjadi religius dalam waktu yang cepat hanya sekedar mencari atau untuk mendulang suara dari kalangan masyarakat yang sebagian besar notabenya adalah muslim.

Kegiatan seperti ini merupakan kegiatan yang hanya mengambil keuntungan dari sebuah agama. Agama dijadikan jalan untuk menyukseskan misinya dalam berpolitik meskipun setelah itu ditinggalkanya, namun hal itu bias jadi tidak terjadi pada semua politikus. Masih banyak juga orang berpolitik dengan cara yang baik.

Fenomena mengambil keuntungan dalam beragama tidak hanya terjadi pada kebanyakan kalangan elit politik semata. Terkadang juga menjangkiti masyarakat jelata. Ntah karena tidak tau, tidak mau tau ilmunya, atau tidak/belum mampu dalam menjalankanya. Banyak dijumpai dimasyarakat sekitar kita bahwa dalam beragama hanya mengambil keuntungan semata.

Baca Juga:   Apa Kabar Para Guru Honorer?

Misalnya dalam pernikahan, karena harus berhubungan dengan agama maka agama digunakan walaupun keseharianya jauh dari perintah agama. Masalah kematian juga begitu, perintah agama digunakan karena memang tidak ada jalan yang lain lagi kecuali memakainya. Namun perintah-perintah yang lain misalnya sholat lima waktu sehari semalam. Karena merasa merugikan dan mengganggu saat mereka bekerja dan beraktivitas, maka perintah sholat lima waktu ditinggalkanya dengan berbagai alasan. Dan tentu masih banyak perintah-perintah agama lainya yang dirasa mengganggu sehingga tinggalkanya.

Telah sama-sama disadari bahwa menjalankan perintah agama yang komprehensif perlu kekuatan iman. Perlu kesungguhan dan tekad yang kuat. Akan tetapi belum tentu semua umat islam mampu menjalankan semuanya dengan baik dan benar. Namun demikian, bukan berarti terus acuh dan semaunya dalam menjalankan perintah agama. Apalagi menjalankanya dengan bermain-main dan bersenda gurau, serta perintah agama sampai dijadikan lelucon karena hanya mengambil keuntungan saja dalam beragama.

Akhir tulisan ini, marilah kita sadarkan diri kita masing-masing akan pentingnya beragama dengan baik dan menyeluruh, kaffah. Sama- sama kita sadari bahwa manusia tidak ada yang sempurna, namun dengan kemampuan yang manusia miliki dapat berupaya dengan sekuat tenaga untuk mengarah pada kesempurnaan manusia dipandu oleh agama, berusaha membersihkan diri dari dosa (Tazkiyatun Nafs).

Jangan sampai kita terjerumus pada upaya pengambilan keuntungan duniawi semata dari beragama, pragmatisme dalam beragama. Walaupun tentu kita semua terus berharap dalam menjalankan perintah agama dengan sungguh-sungguh dan tulus ikhlas akan mendapat imbalan langsung dari Alloh. Terhindar dari pemikiran bahwa “Apabila agama menguntungkan kita secara duniawi maka kita akan jalani, akan tetapi apabila perintah agama seolah-olah merugikan kita maka akan kita hindari”.

Baca Juga:   Merawat Dinamika Muhammadiyah