Sifat Warisan Iblis

Ilustrasi: berita langitan

Saudaraku, di bulan suci ini, saya teringat kembali pada makhluk Allah yang terlaknat yang bernama Iblis. Sejak dulu, kita sangat membenci mereka. Mereka juga kita anggap sebagai musuh yang nyata. Namun, tanpa kita sadari, ternyata kita malah meneladani perilaku dasar mereka. Perilaku dasar yang membuat mereka dilaknat oleh Allah SwT dan menjadi dasar deklarasi permusuhan bangsa manusia dengan bangsa Iblis.

Perilaku dasar itu adalah rasa sombong. Oleh karena rasa sombong yang dimiliknya, Iblis menolak perintah Allah SwT untuk sujud kepada Adam a.s. Iblis merasa dirinya lebih hebat dari Adam lantaran asal-usul dirinya. Iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam hanya dari segumpal tanah.

Menurut Iblis, api lebih mulia dari tanah, maka tidak sepantasnya Iblis harus menyembah kepada Adam yang dicipta dari tanah. Rasa sombong di hati Iblis itu membutakan logikanya sendiri bahwa dia itu hanyalah makhluk ciptaan Allah yang seharusnya tunduk pada semua perintah Sang Pencipta.

Sikap Iblis ini berbeda dengan malaikat yang dicipta dari cahaya. Di hadapan perintah Alah, malaikat tidak membanggakan asal-usul dirinya. Kendati mengetahui dirinya dicipta dari cahaya, malaikat tetap sadar dan tahu siapa dirinya yang hanya berupa makhluk. Maka, ketika dia mendapat perintah Allah SwT untuk sujud (tunduk) pada Adam, dia pun sujud (tunduk).

Saudaraku, ketika Iblis diusir dari surga, dia membawa dendamnya kepada manusia. Iblis meminta kepada Allah diberi kesempatan untuk menyesatkan dan mengajak manusia ke neraka. Sejak saat itulah permusuhan antara manusia resmi dideklarasikan.

Oleh karena itu, supaya manusia bisa selamat dari godaan iblis, Islam mengajarkan kepada para penganutnya untuk menjauhi sikap dasar Iblis yang berupa sifat sombong itu. Sebagai gantinya, Islam senantiasa menekankan pentingnya sifat tawadhu’ (rendah hati). Menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang mempunyai banyak kekurangan, kesalahan, dan sama sekali tidak sempurna.

Baca Juga:   Memperkuat Spiritualitas Umat Islam di Tengah Pandemi (2)

Apabila sifat ini ada di dalam hati kita, maka kita akan merasa bahagia. Kita akan bisa menerima kekurangan dan kelebihan manusia atau makhluk lain dengan lapang dada. Kita tidak akan merasa sakit hati ketika ada orang lain yang melebihi kita dalam suatu hal. Kita juga tidak perlu merasa rendah diri ketika berhadapan dengan manusia lain yang lebih berkuasa.

Saudaraku, salah satu bentuk kesombongan yang  tidak kita sadari adalah kecenderungan untuk merendahkan dan menyalahkan orang lain. Setiap terjadi suatu hal, kita selalu merasa paling benar dan orang lain yang harus salah. Apabila rasa ini kita pertahankan, selama itu pula kita tidak menjumpai ketenangan.

Konon, ada dua keluarga yang tinggalnya bersebelahan. Anggota keluarga yang satu selalu bertengkar. Masalah apa pun selalu menjadi sebab keributan. Keluarga satunya sangat tenteram. Pada suatu hari, anggota keluarga yang selalu ribut itu bersilaturahim ke keluarga yang damai itu dan bertanya tentang rahasia kedamaiannya. Keluarga yang damai itu menjawab bahwa rahasia keluarganya adalah semua anggota keluarga itu selalu berebut kesalahan. Kalau ada masalah, pihak yang terlibat berebut mengakui kesalahannya. Misalnya, kalau ada yang tidak sengaja bersenggolan sehingga menumpahkan segelas air, kedua orang itu saling berebut mengaku salah. Bukan berebut mengaku benar seraya menyalahkan yang lain.

Kebiasaan itu ternyata berlaku sebaliknya di keluarga yang selalu ribut itu. Setiap ada perkara, pihak yang terlibat selalu berebut mengaku benar dan menimpakan kesalahan pada yang lain. Yang dituduh salah tentu tidak terima dan balik menuduh yang satunya. Akhirnya, keributan pun terjadi setiap saat.

Mengusir rasa sombong dari dalam jiwa memang tidak mudah. Sifat warisan Iblis ini dapat dikatakan sebagai penyakit hati yang tumbuhnya tidak terasa. Kadang, karena rasa puas setelah beribadah menimbulkan perasan dalam diri kita sebagai manusia yang paling  suci.

Baca Juga:   Berpuasa Di Negeri Oppa

Luasnya pengetahuan yang kita jelajahi kadang juga membuat diri kita merasa sebagai manusia yang paling mengerti kebenaran. Rasa diri paling suci dan paling mengerti kebenaran ini seringkali menjerumuskan kita melebihi sombongnya iblis. Mengapa bias begitu? Karena jika rasa ini terus tumbuh tanpa kita sadari, kita akan bertingkah layaknya jelmaan Tuhan di muka bumi. Semua orang yang berbeda pendapat dengan kita dianggap bodoh dan sesat, bila perlu  diberantas dengan kekerasan.

Saudaraku, kita tentu masih ingat mengapa Firaun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan? Adalah karena merasa dirinya paling berkuasa. Firaun merasa kekuasaannya tidak tertandingi. Di samping karena kekuatan militer yang ada di genggamannya, dia juga sudah merasa didukung secara total oleh kaum agamawan (penyihir) dan juga kaum intelektual. Demikian juga dengan halnya Qarun. Qarun menjadi sombong adalah karena merasa dirinya paling kaya. Dia merasa bisa membeli semua hal yang ada di dunia ini. Kesombongan menguasai jiwa dan pikiran manusia disebabkan oleh diri kita merasa paling kaya, cantik, tampan, berkuasa, gagah, suci, benar, dan segala pikiran yang merasa “lebih” dibandingkan orang lain.

Saudaraku, tampaknya kita harus sadar bahwa dalam segala aspek kehidupan terdapat kesempatan untuk riya dan sombong, bahkan dalam ibadah sekalipun. Rasa sombong itu bisa hadir dalam bentuknya yang bermacam-macam. Misalnya, ingin dipuji orang, dipandang suci, shalih, maupun alim. Oleh karena itu, saudaraku, kita juga harus mengenal kata ikhlas di dalam hidup ini. Ikhlas adalah penangkal dari jebakan itu.

Isngadi Marwah Atmadja, Catatan Bulan Suci, Kumpulan Bahan Kultum Ramadhan