Ketika Bulan Pendidikan antara Hijriyah dan Miladiyah Bertemu

Foto Dok Istimewa

Oleh: Miqdam Awwali Hashri

Hari Pendidikan yang biasa diperingati setiap tanggal 2 Mei, pada tahun ini jatuh pada bulan suci Ramadhan. Tentu ini menjadi moment yang special karena kedua bulan tersebut identik dengan bulan pendidikan. Ada kaitan erat antara ibadah puasa pada bulan Ramadhan dengan pendidikan.

Para ustadz atau mubaligh dalam setiap ceramah atau kultum juga sering menyebut bahwa bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah, atau bulan pembelajaran. Di bulan Ramadhan ini banyak dijumpai kajian-kajian ke-Islaman. Karena dalam kondisi wabah Covid-19 seperti sekarang ini, maka kajian-kajian yang ada, dilakukan secara daring. Inilah kesempatan umat Islam untuk memperdalam lagi pengetahuannya.

Namun sebetulnya pendidikan pada bulan Ramadhan lebih daripada sekedar kajian. Justru tujuan dari ibadah puasa, yaitu taqwa, adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Jika dikembalikan kepada ayat QS Al Baqarah 2:183, tujuan dari diwajibkannya orang-orang beriman untuk berpuasa adalah agar menjadi orang-orang yang bertaqwa. Dengan berpuasa secara benar dan meningkatkan aktivitas ibadah serta amal shalih, maka akan tercapailah peningkatan ketaqwaan bagi orang yang beriman. Kemudian di dalam QS Al Baqarah 2:282 juga disebutkan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar bertaqwa. Dengan bertaqwa kepada Allah, maka Allah-lah yang akan mendidiknya. Jadi kunci utama agar mendapatkan pendidikan dari Allah SWT adalah dengan cara bertaqwa. Bisa dibayangkan kualitas manusia yang dididik oleh Allah SWT.

Hal yang biasa dan normal, ketika ada seseorang yang belajar pada suatu sekolah atau kampus ternama, kemudian di sana Ia belajar dari para guru besar dan professor. Lalu lulus dari kampus ternama itu dengan menyandang gelar intelektual yang sangat dihormati. Namun kadangkala ilmu yang telah didapatinya itu, belum tentu dapat dicerna oleh kebanyakan orang atau bahkan belum tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga manfaatnya hanya bisa dirasakan oleh sebagian orang saja. Meskipun tentu tidak semuanya demikian.

Baca Juga:   Deklarasi Jatam, Haedar Nashir: Perlu Semangat Kedaulatan Pangan

Namun ada hal yang di atas normal. Kita bisa dapati orang-orang yang pada zamannya belum mengecap sistem pendidikan yang lebih maju dibandingkan zaman sekarang, namun meninggalkan karya dan pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan umat manusia, yang barangkali belum bisa dilampaui oleh generasi saat ini. Bahkan gagasan-gagasan orang-orang tersebut dapat menentukan arah suatu bangsa.

Kita ambil contoh tokoh bangsa kita seperti K.H.A Dahlan. Pendidikan yang beliau tempuh sangat sederhana. Diusia belia, beliau belajar langsung dari orang tuanya yaitu K.H Abu Bakar dan kepada kerabat dekat lainnya secara sorogan. Kemudian beliau melanjutkan belajar kepada ulama yang ada di Mekkah kala itu ketika menunaikan ibadah haji. Namun saat ini,  melalui organisasi Muhammadiyah, telah mencetak ratusan perguruan tinggi dan ribuan sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia yang bisa jadi di daerah tersebut belum ada perguruan atau sekolah pemerintah.

Tokoh lain kita bisa sebut yaitu Tuan Djazuli atau lebih dikenal dengan H. Fachrodin. Beliau merupakan salah satu murid dari K.H.A Dahlan yang juga merupakan pahlawan nasional. Beliau juga merupakan kawan karib H.O.S. Tjokroaminto saat berjuang bersama-sama di Central Sarekat Islam (CSI) dalam melawan kolonialisme melalui jalur politik. Dimana dibuka cabang CSI, maka disitu juga dibuka cabang Muhammadiyah. Beliau merupakan ketua Majlis Tabligh atau pada saat itu disebut dengan Hoofd Bestur Muhammadiyah Bahagian Tabligh. Gagasannya saat itu adalah menyelenggarakan Madrasah Mubaligh serta membina pondok luhur yang modern untuk mencetak ulama-ulama yang ulung lagi modern untuk membimbing umat yang terpelajar sehingga cahaya Islam memancar menerangi semesta alam. Wujudnya pun dapat dirasakan oleh generasi saat ini. Beliau tidak pernah mengeyam pendidikan formal padahal lahir dan tumbuh dari keluarga yang terhormat. Bahkan ketika ditanya darimana Ia dapatkan kemampuan menulis, berorasi, berorganisasi, berbisnis, hingga berpolitik, beliau hanya menjawab “saya hanyalah lulusan di bawah naungan pohon sawo”.

Baca Juga:   Muhammadiyah Siap Terbitkan Sukuk Rp 2 Triliun

Kita juga mengenal Mohammad Natsir atau lebih dikenal dengan panggilan Pak Natsir. Pendidikan terakhirnya adalah Algemeene Middelbare School (AMS) setingkat SMA untuk zaman saat ini. Beliau pernah ditawarkan untuk mendapatkan beasiswa dengan dua bidang yang bergengsi saat itu, yaitu bidang ekonomi dan hukum yang mana jika lulus dari pendidikan tersebut maka Pak Natsir dapat menyandang gelar Meester in de Rechten (Mr). Namun Ia lebih memilih menjadi seorang pendidik bersama-sama dengan Tuan Ahmad Hassan. Dan dikemudian hari melalui mosi integralnya, Pak Natsir menggagas bersatunya kembali system pemerintahan Indonesia yang sekarang dikenal dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan juga pernah menjadi Perdana Menteri di era Presiden Soekarno.

Barangkali masih banyak lagi orang-orang besar yang bisa kita sebut yang tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus, namun alam pikiran, gagasan, serta langkah-langkahnya memiliki pengaruh besar dalam terciptanya perubahan besar bagi umat manusia. Apa yang telah mereka lakukan tidak sebatas ilmu yang mereka dapatkan dari proses belajar, melainkan ada unsur lain yang sangat berpengaruh, yaitu taqwa.

Para tokoh dan pahlawan nasional yang disebut di atas bukanlah orang-orang yang sekedar mengejar materi atau kepentingan pribadi semata. Namun orang-orang besar yang telah dikenal integritasnya kepada Allah SWT sehingga apapun yang dilakukannya memiliki dampak besar bagi umat manusia. Sekalipun mereka tidak melalui proses belajar secara formal pada bidang tertentu, namun jika Allah yang mendidik, maka bukan suatu hal yang mustahil mereka mampu bersanding dengan orang-orang yang telah mempelajari bidang-bidang secara khusus. Bahkan bisa jadi kemampuannya ada di atas para cendekiawan yang memiliki sederet gelar kehormatan.

Setidaknya dengan bekal taqwa, sebagaimana disebutkan dalam QS Ath Thalaq ayat 2, 4, dan 5, bahwa orang yang bertaqwa akan diberikan tiga hal, yaitu jalan keluar dalam setiap permasalahan, diberikan kemudahan dalam setiap urusan, dan dihapuskan segala kesalahan serta dilipatgandakan balasan kebaikan.