Menelisik Ramadhan Masa Pandemi di Negeri Bollywood

Menuju Karantina Foto Dok Reuters

NEW DELHI, Suara Muhammadiyah – Sudah sekitar empat bulan lamanya, sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan di Wuhan pada awal tahun 2020, seluruh dunia menyoroti terus perkembangan kasus ini dan selalu menjadi berita utama di media-media mana pun seluruh dunia.

Pandemi Covid-19 ini ternyata tak juga kunjung berakhir hingga memasuki bulan Ramadhan, bulannya bagi seluruh umat Muslim di dunia. Ketika wabah ini turut menjangkiti masyarakat di berbagai negara, tiap-tiap negara tentu saja melakukan berbagai macam upaya, setidaknya, untuk menghentikan laju penyebaran dan penjangkitan virus ke manusia. Menutup tempat-tempat umum dan meminimalisir adanya kerumunan salah satu upayanya. Termasuk masjid, yang pasti selalu ramai ketika Ramadhan tiba, juga ikut ditutup dan minimalisir kegiatan ibadah di dalamnya.

Kondisi semacam ini memang membuat tidak nyaman bagi banyak pihak. Namun tanpa banyak diketahui bahwa ada sebagian kaum Muslim yang menjalankan Ramadhan kali ini bukan saja hanya keterbatasan akses ke tempat ibadah, tapi juga akses untuk berkumpul dengan keluarga, mendapatkan persediaan yang cukup untuk sekedar sahur dan buka puasa, bahkan tidak mendapat keamanan bagi dirinya sendiri.

Inilah yang dirasakan oleh sebagian kaum Muslim di India.  Dilansir dari laporan Al Jazeera (29/04) seorang Muslim di India, Izhar Ahmad, 40 tahun, telah dikarantina hampir sebulan di kamp karantina. Durasi waktu karantina ini sebenarnya melebihi periode yang seharusnya diterapkan di bangsal isolasi pemerintah New Delhi,  bahkan dua kali lipat dari durasi yang semestinya.

Hal yang menjadi keheranan Ahmad ialah mengapa ia masih belum diizinkan pulang padahal, ia mengakui pada reporter Al Jazeera, bahwa ia telah melakukan tiga kali tes virus Corona dan hasil ketiganya ialah negatif.

“Sudah hampir sebulan dan tiga tes virus korona dilakukan pada saya yang hasilnya negatif, tetapi saya masih di sini di pusat ini, tidak diizinkan untuk bertemu keluarga atau teman-teman saya,” ujar Ahmad mengatakan kepada reporter Al Jazeera dari pusat karantina di Wilayah Wazirabad di Delhi.

Ahmad juga menceritakan bahwa ia merasa frustrasi dikarenakan ketersediaan makanan untuk sahur dan berbuka puasa yang tidak mencukupi, sehingga sangat sulit baginya, dan juga teman-teman muslim lainnya di karantina, untuk menjalankan ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan ini.

Baca Juga:   Kampanye Kreatif MCCC Edukasi Masyarakat

“Mereka tidak menyediakan makanan pada saat sahur, dan ketika saatnya berbuka puasa, kami hanya diberi kurma dan dua pisang,” jelasnya.

Ia mengungkapkan pula bahwa setidaknya ada empat hingga enam orang yang ditempatkan bersama di kamar darurat dengan kurangnya kipas angin sehingga membuat kondisi ruangan pengap dan lembap. Ini yang dirasanya tidak nyaman selama dalam kamar karantina tersebut. Perlu diketahui sebelumnya, bahwa Ahmad dijemput polisi pada 1 April dari Shastri Park di wilayah timur kota Delhi.

Menyoroti kondisi buruk di pusat-pusat karantina, ketua Komisi Minoritas Delhi, Zafarul Islam Khan  menuntut pembebasan Muslim yang ditahan di pusat-pusat karantina lebih dari 14 hari. Ia menuliskan sepucuk surat kepada Menteri Kesehatan Delhi, Satyendar Jain. Khan juga mengklaim bahwa fasilitas untuk makanan dan obat-obatan yang tersedia di kamp-kamp karantina Delhi itu buruk dan membutuhkan perhatian maksimal dari tim kesehatan.

“Sudah 28 hari orang-orang ini masih berada di pusat karantina, mereka tidak memberikan alasan mengapa mereka tidak dibebaskan,” kata Khan kepada Al Jazeera, seraya menambahkan bahwa Jain tidak menjawab satu pun dari surat-suratnya.

Sentimen anti Muslim, Jama’ah Tabligh, hingga #CoronaJihad

Pertanyaan-pertanyaan di atas mau tidak mau ada kecurigaan dengan kekacauan di India yang terjadi sebelum bulan-bulan Corona virus mulai menyebar dan menjangkiti ribuan orang di negara India. Peristiwa sentimen anti Muslim yang terjadi di India selama berbulan-bulan, tereskalasi sejak Januari 2020, membuat posisi umat Muslim di India terancam. Hal ini diakibatkan adanya pemberlakuan undang-undang baru terkait aturan kewarganegaraan atau Citizenship Amendment Act (CAA) yang diberlakukan oleh Perdana Menteri India, Narendra Modi, sedang undang-undang ini sangat mendiskriminasi kelompok Muslim.

Baca selengkapnya : Ribuan Muslim India Menolak Aturan Pemberian Kewarganegaraan India

Terlebih semenjak sentimen itu mencuat, banyak umat Muslim yang kemudian menjadi bulan-bulanan dari kelompok yang berseberangan dengan kelompok Muslim, dalam hal ini kelompok umat Hindu. Bukan hanya terjadi bentrokan antar kedua kelompok, disinyalir kelompok Hindu juga membakar rumah-rumah kelompok Muslim dan bahkan membakar Masjid setempat.

Baca Juga:   Yunahar Ilyas: Muhammadiyah bukan Kelompok Salaf !

Baca selengkapnya : Kericuhan CAA di India Berubah Penyerangan terhadap Muslim

Ketegangan ini kemudian tergantikan dengan kepanikan menghadapi virus Corona yang kasusnya terus meningkat pesat selama bulan Maret. Tercatat setidaknya ada 1000 kasus hingga akhir Maret 2020, dilansir OutlookIndia (28/03). Namun, sebelumnya kasus virus Corona sudah terdeteksi berada di India semenjak  30 Januari 2020, menginfeksi seorang mahasiswa yang pulang dari studinya di Wuhan, dilansir dari NDTV (30/01).

Di tengah-tengah kepanikan masyarakat India melihat jumlah kasus virus Corona yang kian meningkat, 31 Maret pemerintah India telah meluncurkan pencarian besar-besaran untuk melacak siapa saja yang telah menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh gerakan Jama’ah Tabligh pada tanggal 13-15 Maret. Hal ini dilakukan oleh pemerintah setelah setidaknya ada 24 orang dinyatakan positif mengidap virus corona dan setidaknya tujuh orang dilaporkan meninggal, dan mereka ternyata memiliki riwayat perjalanan pernah mengunjungi pertemuan dari Jama’ah Tabligh tersebut, dilansir dari Al Jazeera (31/03).

Kala itu ada enam daerah di India telah melaporkan kasus-kasus yang berhubungan langsung dengan agenda pertemuan oleh Jama’ah Tabligh. Hal ini kemudian menjadikan agenda yang diselenggarakan oleh Jama’ah Tabligh di  tersebut sebagai salah satu klaster yang mengakibatkan jumlah kasus akibat infeksi virus Corona kian meningkat di India.

Perlu diketahui, Jama’ah Tabligh merupakan salah satu organisasi Muslim terbesar yang ada di India. Didirikan pada tahun 1927 oleh Muhammad Ilyas Kandhlawi, di Mewat India. Markas organisasi ini terletak di Ma