Pendidikan Kritis dan Emansipatoris ala Dahlan

Kiai Dahlan dan para muridnya (Dok SM)

Oleh: Arief Hanafi

Kemajuan suatu bangsa, bisa dilihat dari kualitas sumber daya manusia (SDM). Sedangkan untuk melahirkan SDM yang berkualitas, dibutuhkan model pendidikan yang kontekstual searah dengan perkembangan zaman. Pendidikan akan dianggap sebagai simbol tanpa makna jika tidak mampu mencandra segala persoalan sosial. lebih ironis, jika pendidikan digunakan sebagai alat legitimasi penguasa untuk melakukan hegemoni.   

Maka tidak heran jika pemerhati pendidikan di awal pergerakan nasional mamaknai pendidikan sebagai investasi yang besar bagi sebuah bangsa. Sebut saja Ahmad Dahlan, Pendiri organisasi Muhammadiyah ini memberikan perhatian penuh pada pendidikan. Ulama’ asal Desa Kauman, Yogyakarta tersebut tidak rela jika akses pendidikan hanya dinikmati oleh lapisan sosial tertentu.

Bagi Ahmad Dahlan ketimpangan sosial dan ekonomi di era kolonial bisa diubah melalui pendidikan. Persoalannya, pendidikan saat itu dimonopoli oleh kalangan bangsawan/priayi dan Eropa. Kebijakan diskriminatif tersebut dijawab Ahmad Dahlan dengan mendirikan sekolah dan mengadopsi kurikulum Barat tanpa menghilangkan pelajaran agama Islam.

Usaha yang dilakukan Ahmad Dahlan bertujuan agar rakyat miskin dan mustadh’afin mendapatkan ilmu pengetahuan umum, namun tetap mengamalkan ajaran Islam sehari-hari. Maka tidak berlebihan jika gagasan Ahmad Dahlan saat itu telah melampaui pemikiran manusia pada umumnya. Ia berani mendobrak tradisi pemikiran yang berkembang di masyarakat.

Fakta sejarah tersebut sebagai bukti, bagaimana pendidikan dimaknai sebagai alat pembebasan manusia dari belenggu kebodohan dan kejumudan. Karena hanya dengan sistem pendidikan kritis dan emansipatoris, sebuah bangsa mampu keluar dari zona nyaman, dan mampu tampil sebagai bangsa yang disegani oleh bangsa-bangsa lain. Maka dari itu, menjadi bangsa yang berkemajuan merupakan cita-cita bersama.

Namun, cita-cita tersebut agaknya masih jauh dari harapan. Pasalnya kondisi sosial, kultural masyarakat kita akhir-akhir ini memang semakin mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, alih-alih pendidikan sebagai kunci moralitas manusia untuk lebih bermartabat, namun beberapa peristiwa dalam dunia pendidikan kita semakin merendahkan harkat dan martabat manusia. Hancurnya nilai-nilai moral, merebaknya ketidakadilan, menjamurnya kasus korupsi, terkikisnya rasa solidaritas telah terjadi dalam dunia pendidikan kita.

Baca Juga:   Tolong Hindarilah Kerumunan, Ini Bukan Urusan Takut Mati atau Tidak

Dari sini timbul pertanyaan ada apa dengan pendidikan kita? Ternyata usaha perbaikan di bidang pendidikan dirasa tidak hanya cukup dengan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan saja, melainkan membutuhkan perencanaan kurikulum yang sangat matang yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan zaman.

Pendidikan Kritis

Konsep pendidikan kritis sebenarnya bukan terfokus pada sistem pendidikan secara makro. Melainkan fokus pada kesadaran manusia terhadap kondisi sosialnya. kesadaran tentang adanya masalah dalam masyarakat, seperti ketidakadilan, kemiskinan, struktur sosial yang menindas dll turut menjadi isu yang berperan dalam pengubahan pembelajaran dalam kurikulum di lembaga sekolah.  

Peran siswa dalam proses pembelajaran di sekolah pun tidak sekadar menerima ilmu dari tenaga didik. Melainkan mampu malakukan kontekstualisasi antara ilmu dan praktek. Pendidikan yang jauh dari realitas masyarakat, mengakibatkan siswa terjebak sebagai sebagai penerima ilmu saja. Padahal pendidikan seharusnya bisa memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis terhadap keadaan sosial dan masyarakat di luar sekolah.

Bahkan, dalam pendidikan kritis, tidak hanya menciptakan pendidikan yang membebaskan siswa dalam berpikir kritis saja, lebih dari itu arah perubahan untuk masyarakat. Sehingga perlu kiranya diangkat kembali prinsip ini sejalan dengan kehidupan sosial-budaya masyarakat. Tentu, berfikir kritis disini tidak selalu dibayangkan dengan demo atau semacamnya, tetapi lebih kepada kesadaran untuk  berfikir, bertindak dan melawan jika ada kemungkaran.

Mengutip dari Nuryanto, dalam bukanya yang berjudul Mazhab Pendidikan Kritis, pendidikan kritis bukan hanya berfungsi dalam sistem pendidikan yang berlaku di sekolah, melainkan juga bagaimana menerapkan pemikiran kritis terhadap siswa. Serta yang lebih penting, memberikan peluang bagi siswa untuk berpikir transformatif terhadap perubahan sosial di masyarakat.

Emansipatoris

Pendidikan kritis tidak berhenti pada wilayah gagasan dan wacana. Namun ada gerakan praksis untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Gerakan praksis tersebut dalam usaha untuk membebaskan manusia dari masalah. Proses pendidikan kritis dan emansipatoris ini bisa dilihat dari kisah Ahmad Dahlan saat berdiskusi dengan santrinya.

Baca Juga:   KH Ahmad Dahlan: Bukan Penulis Prolifik

Suatu ketika Ahmad Dahlan mengajak santrinya melakukan aksi sosial dalam rangka melaksanakan perintah agama. Ketika itu Ahmad Dahlan memberikan pengajian tentang surat al-Maun. “Pendusta agama adalah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak memberi makan orang miskin” (QS al-Maun 107: 1-4).

Penafsiran dari ayat tersebut tidak hanya sekali dibahas, bahkan setiap pertemuan materi pengajian tidak ditambah. Hingga salah satu santri bertanya, “mengapa mengulang surat yang sama dan tidak ke surat lain kiai?”

Mendengar pertanyaan itu Ahmad Dahlan menanggapi, “apakah kalian sudah hafal surat Al-Maun?” Serentak santri menjawab bahwa mereka tidak hanya hafal namun juga mengerti. Lantas Dahlan bertanya, “apa sudah kalian amalkan?”

“Kami sudah mengamalkan dengan membaca saat sholat kiai,” jawab santri. Dahlan pun menanggapi, bahwa yang dimaksud mengamalkan adalah jika kalian sudah menyantuni anak yatim dan memberikan sebagian harta kalian untuk fakir miskin. “Sudahkah kalian berbuat demikian?”

Pengajian akhirnya ditutup dengan tugas mencari anak yatim dan fakir miskin untuk dibawa ke rumah para santri, lalu dimandikan dan diberi pakaian yang layak untuk mereka. Dialog antara Ahmad Dahlan dan santrinya tersebut kelak menjadi inspirasi berdirinya sekolah, rumah sakit, panti asuhan yatim-piatu hingga rumah orang terlantar yang terus berkembang hingga saat ini.

Meski dalam pandangan Islam membaca Alquran adalah hal yang baik, namun tradisi Muhammadiyah menganjurkan umatnya untuk tidak berhenti pada level ini. Karena wahyu tidak sekadar dipelajari namun sebagai spirit emansipasi. Maka sangat disayangkan, ketika Tuhan menurunkan Alquran sebagai petunjuk kepada umatnya, tapi disaat yang sama kita membatasi diri pada pembacaan teks tanpa dikolaborasikan pada kondisi sosial.

Arief Hanafi, Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo