20.6 C
Yogyakarta
Minggu, Juli 5, 2020

Islam Zaman Now

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Inovasi Mahasiswa FT UM Magelang, Ciptakan Cetakan Gula Jawa Ergonomis

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Pandemi Covid-19 tidaklah menghalangi kreativitas mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Magelang. Terbukti mereka mampu membuat sebuah terobosan teknologi...

Download Logo Milad IPM ke-59

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ikatan Pelajar Muhammadiyah memperingati Milad ke-59 pada tanggal 18 Juli 2020. Pimpinan Pusat IPM telah...

Bantuan FKIP Unismuh untuk Masyarakat Terdampak Banjir Luwu Utara

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Kabupaten...

Kolaborasi dengan BEM, FAI UMY Bantu Mahasiswa Terdampak Pandemi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberikan bantuan donasi kepada mahasiswa terdampak pandemi Covid-19.  Wakil Dekan II...

Nelayan Aceh, Pahlawan Kemanusiaan

LHOKSEUMAWE, Suara Muhammadiyah - Dunia kembali dihebohkan dengan peristiwa para nelayan yang membantu para pengungsi ditengah lautan bebas. Kejadian ini terjadi pada...
- Advertisement -

‘Zaman now’—istilah yang secara bahasa sebenarnya keliru tetapi sudah terlanjur populer lewat media sosial—adalah zaman kacau ketika pola pikir lama dibenturkan dengan pola pikir baru di era kekinian. Arus informasi yang tidak terbendung di media massa dan media sosial telah menawarkan beragam corak pemahaman keislaman di masyarakat, terutama di kalangan generasi milenial.

Teknologi, koneksi, dan komunikasi adalah tiga kata kunci untuk memahami ‘zaman now.’ Kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi, telah melahirkan generasi baru yang melek teknologi. Koneksi internet telah membuka model jejaring sosial baru (netizen) yang secara instan dan massif membentuk pola relasi sosial generasi kekinian. Hadirnya media sosial dengan berragam platform mulai dari youtube, facebook, twitter, line, watsap, dan lain-lain yang begitu mudah diakses oleh siapa saja dengan biaya murah. Mudahnya orang memposting komentar atau menulis status telah mengaburkan standar kepakaran karena siapa saja tanpa melihat status sosial, tingkat pendidikan atau kompetensi dapat memberikan komentar tentang topik-topik atau kasus-kasus tertentu.

Di tengah gemerlap teknologi informasi saat ini, kita banyak menemukan warna-warni paham keislaman dari orang, kelompok atau komunitas tertentu. Kualitas dan coraknya juga berragam. Ada yang enteng-entengan dengan corak normatif dan menghibur. Ada yang serius dengan coraknya yang kekiri-kirian atau kekanan-kananan. Bahkan, ada pula yang ugal-ugalan sampai dianggap melenceng dari pakem keislaman.

Lihatlah betapa banyak orang yang mendadak dilabeli “ustad” di media sosial. Tidak peduli apakah itu “ustad abal-abal” atau memang “ustad beneran,” yang jelas karena postingan dan komentar yang menghibur dan kekinian di media sosial, jumlah followernya begitu banyak. Tren follower yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan kini menjadi tolak ukur popularitas seorang ustad di zaman now.

Lihat juga kelompok atau komunitas Islam yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan, kini dengan mudahnya mereka dapat menunjukkan identitas kelompoknya. Karena di zaman now, kelompok atau komunitas keislaman tertentu tidak harus bertemu dan bertatap muka dengan jama’ah, tetapi cukup dengan cara menggaet anggota lewat warga netizen. Dari situs-situs dan grup-grup jejaring sosial yang bertebaran di jagad maya, kita temukan aneka macam paham dan model keislaman di zaman now.               

Agama Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin yang senantiasa shalih li kulli zaman wa makan harus mampu merespon secara cepat tren keislaman di zaman now. Respon Islam harus cepat karena teknologi informasi berkembang begitu cepat mempengaruhi pola pikir manusia. Banjir informasi lewat kemajuan teknologi tentu tak dapat dibendung hanya dengan ceramah atau fatwa keagamaan formal.

Nah, bagaimanakah respon Islam menghadapi tren zaman now?  (Abu Aksa).

(Dari Majalah Suara Muhammadiyah 02/103, 16-13 Januari 2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles