Lanscape Islam Yang Berubah

labirin bercahaya

Kehadiran Islam di negeri manapun selalu menghadapi perkembangan zaman. Kini, masyarakat dunia berada dalam era modern abad 21. Di antara cirinya manusia berinteraksi melalui dunia maya atau virtual seperti media sosial. Tidak kecuali di  masyarakat Indonesia, mereka dalam bermedia-sosial mengalami lompatan yang luar biasa. Pengguna medsos dan lahirnya generasi milenial yang dikenal era zaman Now, begitu meluas. Bangsa ini memasuki dunia sosial baru.

Orang Indonesia dari kota sampai desa hingga pelosok-pelosok terjauh menggunakan handphone dan bermedia-sosial secara luas. Hubungan sosial mereka melalui teknologi informasi dan digital yang canggih itu, sehingga dapat berkomunikasi dan berhubungan  dengan mudah dan cepat satu sama lain. Berita dan berbagai informasi dalam tempo cepat dan meluas sampai ke tangan. Bukan hanya berita peristiwa, tetapi juga tulisan dan berbagai jenis pesan dengan secepat kilat menyebar ke setiap orang. Inilah era revolusi teknologi informasi yang menandai masyarakat modern.

Berita dan pesan-pesan dakwah pun dengan cepat meluas. Siapapun dapat berbagi informasi dan pesan dakwah tanpa terikat organisasi Islam mana pun. Demikian pula dengan organisasi-organisasi Islam dan keagamaan lain berlomba menyebarkan informasi dan pesan-pesan keagamaan sesuai dengan misi dan paham agamanya. Semuanya tentu bertujuan menyebarluaskan pandangan keislaman atau keagamaan untuk menanamkan keyakinan keagamaan di kalangan umat.

Masyarakat Indonesia memang tengah berubah. Dalam dunia virtual mereka mengandalkan relasi sosial tidak langsung secara fisik sebagaimana berlaku dalam masyarakat paguyunan. Corak kehidupannya patembayatan alias hubungan serba organistik ala  mesin. Manusia saling terhubung melalui alat yang objektif yang bernama instrumen digital yang bercorak virtual. Hubungannya langsung tetapi maya, bersifat maya tetapi nyata. Itulah landscape atau tataruang sosial baru masyarakat saat ini.

Baca Juga:   Tantangan Kebudayaan Saat Ini

Dalam dunia medsos yang virtualistik manusia terbentuk alam pikirannya yang bersifat instrumental. Setiap orang berkomunikasi melalui alat yang tidak berasa, sehingga ibarat hubungan antarkomponen suatu mesin. Itulah dunia media sosial saat ini yang menjadi ciri masyarakat posmodern yang virtualis. Karena tidak ada hubungan tatap muka langsung secara fisik, kecuali lewat alat, manusia luruh dimensi rasanya, yang muncul kognisi atau otak rasionalnya,

Masyarakat yang hidup dalam jejaring medsos kalau berujar ketika menumpahkan kemarahan atau hal-hal yang tidak senang akan menunjukkan wataknya yang meluap tanpa rasa canggung,  karena tidak berhadapan secara fisik. Berbagai ujaran kebencian, ketidaksukaan, amarah, dan segala hal negatif diekspresikan secara terbuka layaknya mesin atau instrumen teknologi lainnya. Lahirlah insan-insan modular, manusia ala robot atau mesin, yang berotak tanpa rasa. Nalarnya, meminjam istilah Max Weber, bercorak nalar instrumental.

Dunia media sosial sisi positifnya banyak. Segala hal dapat dikomunikasikan dengan mudah dan cepat. Masyarakat atau siapapun dapat memanfaatkan medsos untuk memobilisasi kepentingan publik secara luas. Seperti dalam mengadvokasi orang yang teraniaya dalam  kasus pembelaan terhadap Prita beberapa tahun lalu ketika menghadapi kesewenang-wenangan sebuah rumah sakit di Tangerang. Dunia medsos dapat dijadikan alat dakwah yang efektif dan luas.  Berbagai pesan dakwah dapat disalurkan secara terbuka dan leluasa, dengan sifatnya yang demokratis. Orang akan memilih pesan-pesan dakwah dengan pilihan sadar tanpa paksaan.

Lembaga-lembaga dakwah, termasuk Majelis Tabligh Muhammadiyah, dituntut makin sigap dan cerdas memanfaatkan media sosial untuk memberikan bimbingan, panduan, pandangan, dan arah moral keagamaan secara piawai. Pesan-pesan Islam, baik yang normatif maupun pemikiran, dapat disajikan dengan kemasan ala dunia medsos yang keren. Islam yang dihadirkan mampu memberi pesan moral yang senapas zaman kekinian, yang secara populer disebut “zaman now.” Islam yang kontemporer, dengan tetap kokoh di atas prinsip ajarannya yang murmi dan mencerahkan.

Baca Juga:   SM Road Show 2017 Kembali Menyapa Agen dan Pelanggan

Islam Zaman Now tentu saja Islam berkemajuan. Islam yang menampilkan agama akhir zaman ini sebagai agama untuk membangun peradaban (Din al-Hadlarah) sesuai dinamika zaman yang hadir setiap fase kehidupan umat. Islam yang prokehidupan secara dinamis dan mencerahkan sehingga mampu membangun peradaban utama di era modern abad ini dan ke depan dengan gemilang! (hns).

(Dari Majalah Suara Muhammadiyah 02/103, 16-13 Januari 2018)