Solusi Islam Millenial

Mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin adalah upaya menjadikanya sebagai sumber solusi atas berbagai problem kamanusiaan yang ada. Upaya itu kemudian makin menguatkan bahwa Islam shalih li kulli zaman wa makan, sejalan seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Hal ini erat kaitanya dengan strategi dan metode dakwah yang ditempuh oleh individu maupun kelompok atau organisasi Islam, seperti Muhammadiyah. Dakwah Islam yang digaungkan lewat strategi tertentu yang disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan zaman sangat menentukan keberhasilannya di masa yang akan datang.

Dalam hal ini, kata Dadang Kahmad Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang membidangi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI), Muhammadiyah agak terlambat. Era digital yang banjir informasi seperti sekarang ini belum direspon baik oleh Muhammadiyah. Bukan hanya itu persoalanya. Era digital dengan kecanggihan gadget, umumnya berbentuk smart phone, telah membentuk tatanan masyarakat baru, generasi millenial, istilah trennya kids zaman now. Yaitu masyarakat yang menghendaki kebebasan, doyan sesuatu yang instan, dan jauh dari sikap kritis. Sebab suguhan yang siap saji dan cepatlah yang mereka dahulakan. Benar, salah, menyimpang atau tidak, bukan jadi masalah asal itu dianggapnya sesuai tren.

“Sebenarnya lewat berbagai amal usahanya yang bergerak di bidang media, Muhammadiyah telah dan tengah berupaya hadir dalam berbagai bentuk digital. Tinggal memperbanyak konten yang dipandang bermanfaat dan pas untuk anak muda generasi millenial,” ucapnya.

Bagi Irfan Amalee Sekretaris MPI PP Muhammadiyah, tren digital memang harus diikuti, sebab zaman selalu berkembang dan tidak pernah mundur. Terpenting segera dilakukan, katanya, adalah memaksimalkan peran gadget untuk meningkatkan minat baca masyarakat. “Masyarakat Indonesia budayanya masih nonton dan mendengar, sehingga dunia gadget bisa jadi memperparah tingkat konsumsi (menonton dan mendengar) masyarakat Indonesia,” terangnya.

Baca Juga:   BEM PUT Unismuh Resmi Dilantik

Namun demikian, Irfan meyakini, biarpun generasi millenial memiliki tatanan gaya hidup baru, tapi hal itu tidak bisa menggeser keberadaan rasa empati. Siapapun yang memiliki empati, keberadaannya tetap akan diperhitungkan. Dakwah dan gerakkan Muhammadiyah pun dari awal basisnya adalah rasa empati. Empati terhadap kesejahteraan masyarakat menggerakkan Muhammadiyah untuk mendirikan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, hingga memberikan pendampingan-pendampingan khusus bagi daerah 3T. Artinya secara umum Muhammadiyah memiliki modal dan potensi yang cukup guna mengikuti persaingan di zaman now, sebab empati lah dasar dalam setiap gerakkannya. Selanjutnya tinggal bagaimana Muhammadiyah, baik secara organisasi maupun individu mulai mewarnai dunia digital.

Solusi lain, Dahlan Rais Ketua Bidang Konsolidasi Organisasi dan Kaderisasi PP Muhammadiyah menyampaikan, adalah menggerakkan dan menguatkan dakwah komunitas. Ia menegaskan, Muktamar Muhammadiyah ke-47 mengamanahkan adanya diversifikasi dakwah yang secara tegas disebutkan bentuknya adalah dakwah komunitas. “Seharusnya semua ortom (organisasi otonom) Muhammadiyah bisa mengembangkan sayap dakwahnya ke komunitas-komunitas yang ada,” tandasnya.

Misalnya, ia mencontohkan, selain bela diri, Tapak Suci juga seharusnya masuk ke cabang olah raga lain, atau Hizbul Wathan menghidupkan kembali sepak bola (Persatuan Sepak Bola HW) dan bulu tangkisnya. “Ortom lain saya kira pun sama, dan ini PR (pekerjaan rumah) kita semua,” tutup Dahlan. (gsh).

(Dari Majalah Suara Muhammadiyah 02/103, 16-13 Januari 2018)