Yang Baik Diam, yang Salah Malah Viral

Prof Dr Yunahar Ilyas Lc Mag Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih, Tajdid dan Tabligh

Kita menganjurkan kepada dai-dai untuk rajin menulis di media sosial. Karena media sosial itu jangkauannya cukup luas dan menulisnya tidak perlu panjang-panjang. Singkat saja. Kalau terlalu panjang, tidak dibaca, hanya dishare.

Kalau ada pesan negatif di media sosial satu kita harus mengirim pesan positif sepuluh. Sebab teorinya, kalau yang baik diam, maka yang salah dianggap benar. Sehingga harus lebih banyak yang benar. Tetapi harus kreatif.

Ini kelebihan anak-anak muda sekarang, kreatif. Dari huruf, warna, hingga karikatur. Ini kolaborasi saja. Yang berilmu sediakan kontennya, yang muda-muda yang mengemasnya. Ini harus betul-betul terjamah.

Tema-tema yang dibutuhkan yaitu tema-tema (1) memperkuat pondasi keagamaan; tema tauhid, akhlak, moralitas itu perlu; (2) mengajarkan keseimbangan, antara akal dan hati, antara dunia dan akhirat; (3) tentang spiritual, kisah-kisah nabi, sahabat, atau tokoh-tokoh. Misalnya tentang jujur, cari tokohnya.

Dunia pop tidak menghiraukan isi tetapi tokoh. Kita bisa memunculkan tokoh itu. Sering disebarluaskan maka akan menjadi tokoh. Dalam budaya pop, ketokohan begitu tidak bertahan lama. Tetap harus ada tokoh di dunia nyata. (Ribas)

Butuh Pendekatan Dakwah Milenial

Diyah Puspitarini, Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah

Karakter yang kuat dalam generasi ini tidak bisa dipisahkan dengan kecanggihan teknologi yang terus berkembang dan juga kompleksitas masalah sosial dalam lintas batas ruang dan waktu. Pola komunikasi mereka tidak lagi manual. Mereka memecahkan masalah lebih cepat karena kemudahan pemanfaatan akses teknologi.

Saya melihat kecenderungan berislam generasi saat ini yang lebih kepada hal-hal simbolik. Pemahaman sederhana nan singkat terkadang membuat generasi ini melalaikan habituasi memahami ajaran islam dengan tinjauan melalui berbagai presisi. Jadi yang trend di media sosial sepertinya lebih banyak diminati dan diikuti.

Baca Juga:   Minder Jadi Muslim Indonesia? Ini Jawaban Prof Azyumardi Azra

Tidak salah, pendekatan dakwah yang dipakai juga harus dakwah milenial. Manfaatkan media sosial sebaik baiknya, karena generasi milenial sangat mengandalkan media sosial. Model pendekatannya juga jangan keras dan seram. Tampilkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan bisa berkembang sesuai zaman.

Nasyiah hari ini adalah organisasi yg mulai memadukan organisasi-dakwah-teknologi. Media sosial menjadi salah satu kekuatan dalam dakwah. Kedua, dakwah yang kami bangun adalah image dakwah milenial. Pengajian dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi sudah bisa diakses dan dimanfaatkan. Ketiga, Nasyiah sedang merintis dakwah lintas negara. Dengan kecanggihan teknologi, Nasyiah mampu mengajak umat Islam diberbagai negara untuk turut mengenal dakwah Nasyiah meski melalui media sosial. (Th)

(Dari Majalah Suara Muhammadiyah 02/103, 16-13 Januari 2018)