Menggapai Ikhlas

Saudaraku, pada kesempatan yang lalu, kita pernah berbincang tentang sifat warisan iblis yang kadang tumbuh dan menelusup di hati kita tanpa terasa. Sifat warisan iblis itu adalah rasa sombong. Rasa sombong itu kadang menyelinap di hati kita sesaat setelah kita berbuat baik. Tumbuhnya keinginan di hati supaya diakui sebagai orang yang paling baik atau pun paling shalih bisa dikatakan sebagai bibit dari rasa sombong itu. Untuk membunuh tumbuhnya bibit kesombongan itu, para ulama kita menasehati agar selalu ikhlas dalam berbuat segala hal. Semua perbuatan kita hanya diniatkan untuk Allah. Bukan untuk menerima pujian dan penghargaan dari para makhluk. Diuji atau tidak, diketahui orang lain atau tidak, kita harus tetap berbuat baik.

Sesungguhnya, apakah sih ikhlas itu?

Saudaraku, konsep ikhlas dapat dikatakan sebagai sesuatu yang penting dan mendasar dalam ajaran Islam. Sebab, kita tahu bahwa syarat diterimanya amal adalah harus dilandaskan pada iman dan dilakukan atas dasar keikhlasan. Tanpa keikhlasan semua amal dapat dikatakan sia-sia!

Menurut Syekh Abu ‘Ali al-Daqqaq, keikhlasan adalah menjaga diri dari campur tangan makhluk. Sehingga, orang ikhlas tidak akan bersifat riya’. Senada dengan hal itu, menurut Zun Nun al-Misri, tanda keikhlasan itu ada tiga. Pertama, manakala orang yang bersangkutan memandang sama antara pujian dan celaan dari manusia. Kedua, melupakan amal ketika beramal. Ketiga, mengesampingkan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal kebaikannya itu.

Dari sini, kita menjadi tahu bahwa ikhlas itu kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Sulitnya menjaga rasa ikhlas juga dirasakan oleh orang ‘alim yang bernama Yusuf bin al-Hunain. Ia menyatakan “milikku yang paling berharga adalah keikhlasan, betapa seringnya aku membebaskan hatiku dari rasa riya’. Namun setiap kali aku berhasil, ia muncul kembali dengan bentuk yang lain”. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita harus belajar dan membiasakan diri menjadi orang yang selalu ikhlas (mukhlis).

Baca Juga:   Di Sebagian Ilmu dan Kompetensi Kita, Ada Hak Mereka

Dalam Tafsir Maudhui yang disusun oleh Balitbang dan Diklat Kemenag RI, setidaknya ada tiga langkah menuju ikhlas. Pertama, melupakan segala perbuatan baik. Kedua, menyadari segalanya adalah milik Allah. Ketiga, memperbanyak amal dengan istiqamah.

Mengapa kita harus segera melupakan perbuatan baik yang telah kita lakukan? Adalah karena manusia cenderung merasa senang dan puas setelah berbuat baik. Bahkan, akan bertambah senang jika perbuatan baiknya itu dipuji orang lain. Tentu saja, kita tidak bisa mencegah orang lain untuk memuji kita. Namun, yang terpenting adalah kita tidak boleh menikmati pujian tersebut. Kalaulah ada yang terus memuji dan berkata kepada kita tentang jasa-jasa yang telah kita lakukan, maka hal itu tidak usah kita pikirkan. Kalau hal itu kita pikirkan, maka kita akan terjebak untuk menikmati setiap sanjungan. Katakan saja Alhamdulillah. Kalau orang yang memuji itu masih nekat memuji, alihkanlah pembicaraannya dengan bijak.

Orang yang bisa segera melupakan perbuatan baiknya adalah orang yang benar-benar berbuat baik. Ia melakukan perbuatan itu hanyalah karena dorongan iman, bukan yang lain. Hal ini sesuai dengan Surat An-Nahl [16]  ayat (97)

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan. (QS. al-Nahl [16]: 97).

Kata fahuwa mu’minun (dan dia mukmin) dalam ayat ini bisa dipahami dengan “atas dasar keimanan”.  Artinya, ketika motivasinya adalah Allah, maka dia sama sekali tidak akan keberatan apabila harus segera melupakannya. Kita juga tidak perlu kecewa ketika tidak ada yang memujinya.

Baca Juga:   Akhlakul Karimah dalam Kehidupan

Pada dasarnya, selalu mengingat-ingat kebaikan hanya akan melalahirkan rasa kecewa di kemudian hari. Sebab orang yang telah kita bantu tidak akan selalu melakukan apa yang kita inginkan. Jika kita merasa kecewa apalagi menyesali perbuatan baik itu, maka derajat kita sudah hampir sama dengan Fir’aun yang menyebut-nyebut, mengungkit perbuatan baiknya, dan menagih balasannya (istilah Jawanya, ngundat-ngundat), sebagaimana disebut Allah dalam surat al-Syu’ara ayat 18-19.

قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ
وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ ٱلَّتِى فَعَلْتَ وَأَنتَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ

Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu Telah berbuat suatu perbuatan yang Telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna. (QS. al-Syu’ara [26]: 18-19).

Oleh karena itu, agar terhindar dari potensi mengungkit pemberian dan kebaikan yang telah kita lakukan, sebagaiman Fir’aun yang mengungkit jasa kebaikannya kepada Nabi Musa, maka kita harus segera melupakan hal itu. Kalau kita ingin menulis perbuatan baik itu, maka hanya boleh menuliskannya di atas pasir di tepi pantai yang akan segera pasang.

Isngadi Marwah Atmadja, Catatan Bulan Suci, Kumpulan Bahan Kultum Ramadhan