Modernis-Tradisionalis, Liberal-Radikal, Saling Menyalahkan?

Ilustrasi Dok Skot Waldron

Oleh:  Suyanto Thohari

Viralnya  ceramah Prof  Noorhaidi Hasan, guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memunculkan istilah salafi radikal, menunjukkan istilah ini cukup sensi di tengah umat. Bagi yang belum melihat bisa menyaksikan di link berikut: https://youtu.be/LlEW74CvitI. Jika melongok pada sejarah, di Indonesia, benturan antara kaum tradisionalis dan modernis pernah terjadi dalam tensi yang cukup keras, dan biasanya menguat setiap kali ada momen politik.

Di Sumatra, terutama di Padang pernah terjadi, di Jawa demikian juga. Di Sumatra yang sangat terkenal biasanya disebut Perang Padri. Di Jawa, tensi perbedaan pendapat kaum tradisionalis dan modernis juga terjadi, antara NU dan Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai representasi kaum modernis, sementara NU sebagai representasi kaum tradisionalis. Tensi perbedaan menguat pada masa-masa pra kemerdekaan, dan menguat kembali pasca kemerdekaan seputar tahun 1950an sampai dengan 60an. Menguatnya perbedaan mengarah pertentangan karena ada momen politik. Istilah liberal-radikal belum dipakai untuk membuat kategorisasi pemahaman umat kala itu. Dalam konteks mendamaikan tradisionalis-modernis, menarik sekali kedua tokoh dari masing-masing kelompok itu menyadarkan umat.

Secara mengesankan KH. Hasyim Asy’ari menyadarkan umat akan bahaya perbedaan itu, seperti dikutip dalam Muktamar Nahdhatul Ulama tahu 1937: Djanganlah kalian djadikan perdebatan itoe menjadi sebab-sebab perpetjahan, pertengkaran, dan bermoesoeh-moesoehan. Atau kita teroeskan perpetjahan, saling menghina dan mendjatoehkan, saling dengki mendengki, kembali kepada kesesatan lama? Padahal agama kita satoe, Islam. Madzhab kita satoe, Sjafi’i. Daerah kita satoe, Indonesia. Dan kita sekalian ini seroempoen, Ahli Soenah wal Djama’ah. Demi Allah, hal sematjam itoe meroepakan moesibah dan keroegian jang amat besar.

KH. Mas Mansur dari Muhammadiyah juga menyampaikan hal yang sama, yang disampaikannya pada Kongres Umat Islam di Surakarta tahun 1939: Pada beberapa tahoen jang soedah, kita gemar berbantah-bantahan, bermoesoehan di antara kita oemat Islam, malahan perbantahan dan permoesoehan itoe di antara oelama dengan oelama. Sedangkan jang diboeat perbantahan dan permoesoehan itu perkara ketjil sadja. Adapoen timbulnja permoesoehan itoe, karena kita berpegang koeat pada hoekoem yang dihoekoemkan oleh manusia.

Baca Juga:   Sulit Menyebut Penolakan Lima Hari Sekolah Bukan Politis

Kita boekan hidoep pada 25 tahoen yang laloe. Kita soedah bosan, kita soedah pajah bermoesoeh-moesoehan. Sedih kita rasakan kalaoe perboeatan itoe timboel daripada oelama.

Padahal oelama itu lebih haloes budinja, berhati-hati lakoenya. Karena oelama itu sudah ditentoekan menoeroet firman Allah: oelama itoe lebih takoet kepada Allah. Karena oelama tentoenya lebih mengerti kepada dosa dan bahaja bermoesoeh-moesoehan.

Jika dulu benturannya atau sengaja dianggap berbenturan adalah kaum tradisonalis-modernis, era sekarang yang berbenturan atau dibenturkan adalah radikal dan liberal. Tradisionalis-modernis tidak lagi relevan untuk dibenturkan, karena memiliki wawasan keumatan dan kebangsaan yang sama. Liberal dan radikal masing-masing mencari panggung eksistensi dalam belantara pemahaman umat. Propaganda media sangat massif dilakukan, baik melalui media radio, website, TV, Youtub dan sebagainya. Pada aspek propaganda ini tampaknya memang kelompok liberal kalah massif dibandingkan radikal, meskipun belakangan menunjukkan gejala-gejala penguatan. Setiap kali berselancar ke dunia maya mencari jawaban akan topic keislaman tertentu, selalu yang muncul jawaban pertama dari kelompok yang dianggap radikal itu.

Haruskah saling menyalahkan?

Pertanyaan besarnya adalah, haruskah tradisionalis-modernis, liberal-radikal saling menyalahkan? Tidak bisakah hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan paham bahkan berseberangan itu?

Sepertinya pas sekali apa yang disampaikan KH. Hasyim Muzadi, yang perlu dibangun bukan Ukhuwah Islamiyah, tetapi ukhuwah bainal muslimin. Ukhuwah Islamiyah tidak ada persoalan, tetapi yang bermasalah adalah orang-orang Islamnya, yang karena perbedaan dalam memahami ajaran menjadi saling menyalahkan. Dan selamanya perbedaan itu akan ada, tidak mungkin dihapus dari muka bumi. Istilah yang sangat pas dari Kyai Hasyim Muzadi, modernis-tradisionalis itu ibarat sepasang sandal, perbedaan yang saling mengisi dan melengkapi. Termasuk dalam hal ini apa yang disebut liberal-radikal itu, semestinya dianggap pasangan yang mesti ada, tidak perlu saling menyalahkan dan menegasikan.

Baca Juga:   Pemahaman Hadits di Muhammadiyah

Adanya kategorisasi modernis-tradisionalis, liberal-radikal itu apakah bagian dari isyarat ayat an-Naba’: 8 ”wa khalaqnakum azwaja” (dan kami ciptakan kalian berpasang-pasangan)? Jika benar demikian, mestinya harus disikapi sebagai pasangan yang tidak perlu saling menyalahkan, tetapi hidup harmonis dalam kedamaian, menghargai dalam perbedaan. Meskipun berbeda, wawasan keumatannya sama, sama-sama ingin umat tercerahkan dengan ajaran agamanya, dapat kembali kepada Allah kelak secara muthainnah. Apakah mudah? Tentu saja tidak.

Padepokan Pondok Pesantren UII, Yogyakarta, Kamis, 7 Mei 2020

Suyanto Thohari, Alumni MAPK Yogyakarta, pengajar di Padepokan Pondok Pesantren UII, Yogyakarta