Ramadhan dan Jihad Kolektif Melawan Covid-19

Muhbib Abdul Wahab

Ramadhan tahun ini diselimuti pandemi Covid-19 yang telah mewabah di lebih dari 210 negara. Covid-19 tidak hanya menakutkan, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa dan nyawa umat manusia tanpa mengenal agama, suku bangsa, budaya, strata sosial ekonomi dan pendidikan. Covid-19 telah membuat ekonomi dunia porak-poranda. Industri pariwisata, perhotelan, penerbangan, perdagangan, persepakbolaan, dan sebagainya nyaris lumpuh. Ketahanan pangan terganggu. Warga dunia dihadapkan krisis kemanusiaan global.

Secara teologis, Allah SWT tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan juga penawar atau obatnya (HR al-Bukhari, an-Nasa’i, dan Ibn Majah). Covid-19 termasuk wabah virus penyakit yang sangat berbahaya dan dapat menular dengan cepat dan massif, dari orang ke orang melalui kontak fisik atau kerumunan. Hingga saat ini, vaksin penawarnya belum ditemukan.

Dalam melawan Covid-19, kita tidak boleh menyerah kalah. Sebaliknya, kita harus bersatu padu dan berjihad kolektif melawan pandemi dengan multiusaha, baik pendekatan klinis, medis maupun  non-medis (spiritual dan psikologis). Puasa Ramadhan dengan aneka ibadah di dalamnya diyakini menjadi salah satu strategi dan solusi mental spiritual dalam berjihad kolektif melawan Covid-19. Karena itu, ibadah Ramadhan penting dimaknai dalam kerangka memenangi jihad kolektif melawan Covid-19.

Dimensi Puasa

Puasa merupakan ibadah universal, lintas agama, suku bangsa, budaya, bahasa, dan generasi. Puasa bukan hanya dijalani umat Islam, tetapi umat terdahulu dan umat agama lain juga melakukan puasa, dengan tata cara dan tradisi masing-masing. Diyakini, puasa itu tidak hanya berdimensi ubudiyah (ibadah), tetapi juga sarat manfaat fisik, psikis, dan medis, termasuk melawan pandemi Covid-19.

Menurut sabda Nabi Muhammad SAW, puasa itu merupakan perisai atau benteng pertahanan diri yang kokoh (HR Muslim). Karena itu, puasa berfungsi sebagai benteng mental spiritual  agar shaimin dan shaimat  (puasawan dan puasawati) selalu berada dalam keseimbangan diri, sehingga watak dan selera rendah manusia  yang bersumber dari hawa nafsu dapat dikendalikan dan dikelola menjadi kekuatan dan ketahanan mental-spiritual yang prima. Ketahanan mental spiritual ini  merupakan aktualisasi dari nama-nama terbaik Allah (al-Asma’ al-Husna) dan nilai-nilai kemanusiaan (akhlak mulia).

Baca Juga:   Jadwal Imsakiyah 1437 H Wilayah Serang (Banten)

 Puasa Ramadhan sejatinya juga merupakan pendidikan mental spiritual yang bertujuan membentuk pribadi yang bertakwa kepada Allah SWT. Menurut al-Ghazali (w. 1111), melalui pendidikan spiritul Ramadhan, shaimin dididik  memiliki kompetensi transformasi spiritual dari karakter “budak hawa nafsu” (‘abdul hawa)  menjadi hamba Allah (‘abdullah) yang berkarakter positif. Jadi, puasa berorientasi pada pembentukan karater atau integritas pribadi yang tangguh, sabar, disiplin, tidak mudah tergoda oleh hawa nafsunya, dan selalu merasa diawasi Allah SWT, sehingga berakhlak terpuji dan mencintai kebaikan, kebenaran, keindahan, dan kedamaian.

Manusia seringkali diperbudak oleh nafsu dan godaan setan karena semua aliran darah manusia berpotensi dirasuki bujuk rayu setan (HR an-Nasa’i). Menurut al-Ghazali, ada dua nafsu yang menyebabkan manusia diperbudak nafsu ammarah (amarah) dan nafsu lawwamah (menyesali diri).Kedua nafsu ini menjadi penghalang pencapaian derajat takwa karena dapat  menjerumuskan dalam kemaksiatan dan perbuatan dosa, sehingga menjadi manusia hina dan tidak bermartabat. Puasa Ramadhan melejitkan mentalitas, spiritualitas, dan moralitas shaimin, sehingga berusaha menjadi hamba paling bertakwa (QS al-Hujurat [49]:13).

Dengan keimanan, keikhlasan, dan kesabarannya dalam beribadah, shaimin memiliki spirit jihad tinggi dalam melawan Covid-19. Kesucian hati dan kejernihan pikiran shaimin mengantarkan kepada kedekatan spiritual dengan Allah SWT, sehingga doanya diyakini mudah dikabulkan oleh-Nya. “Ada tiga jenis doa yang tidak akan ditolak, yaitu: doa pemimpin yang adil, doa orang yang berpuasa hingga berbuka, dan doa yang dizalimi.” (HR at-Turmudzi). Kesucian Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk berdoa memohon pertolongan dan perlindungan kepada-Nya dari pandemi Covid-19.

Dengan demikian, dimensi teologis puasa Ramadhan menyerukan pentingnya peningkatan iman dan imun shaimin agar memiliki ketahanan diri yang kuat untuk berjihad kolektif melawan Covid-19. Mereka membentengi dan “mempersenjatai diri” dengan doa-doa perlindungan dan permohonan keselamatan bangsa dan umat manusia dari pandemi Covid-19. Karena, doa yang tulus dan khusyuk itu merupakan senjata shaimin untuk “mengetuk pintu-pintu langit” agar menurunkan pertolongan, kasih sayang, dan perlindungannya untuk semua.

Baca Juga:   Meruntuhkan “Mitos” Ekonomi Muhammadiyah

Dimensi mental spiritual Ramadhan juga menjadikan shaimin bermental sabar dan tegar, karena memang puasa itu melatih stabilitas emosi dan kemampuan menahan diri dari rasa haus, lapar, dan yang membatalkan puasa. Karena, “Puasa adalah separoh dari kesabaran.” (HR Abu Dawud). Orang yang sabar itu dicintai dan dibersamai Allah SWT. Kesabaran dalam beribadah Ramadhan menjadi kunci kedisiplinan dan ketegaran mental spiritual dalam berjihad kolektif melawan Covid-19.

Terapi Spiritual

Puasa Ramadhan juga melatih shaimin memiliki kecerdasan spiritual dan sosial. Pembiasaan bangun tidur lebih awal pada waktu sahur sarat pelajaran kehidupan bahwa shaimin berpola hidup sehat, bersih, dan disiplin: disiplin waktu, beribadah, berolah raga, belajar, dan bekerja. Waktu sahur (sepertiga malam terakhir) merupakan waktu paling baik dan mustajab, tidak hanya untuk memulai aktivitas baru, melainkan untuk beristighfar dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena di waktu sahur inilah Allah dan para malaikat-Nya turun ke langit dunia untuk menghampiri dan  “mendata” para hamba-Nya yang sedang beribadah, beristighfar, dan berdoa kepada-Nya, dan pasti dikabulkan dan dipenuhi apa yang menjadi harapan mereka.

    Dari segi medis, pembiasaan bangun tidur waktu sahur memungkinkan shaimin menghirup oksigen paling bersih dan segar, sehingga kebutuhan oksigen tubuh dapat dipenuhi, dan pada gilirannya badan menjadi lebih bugar dan pikiran menjadi lebih fresh dan sehat. Nabi SAW juga selalu mendoakan umatnya agar diberikan keberkahan bagi yang bangun di pagi hari (waktu sahur). (HR At-Thabarani).

Ramadhan  menyerukan back to al-Qur’an melalui tadarus: menyimak, membaca, merenungkan, menghayati, dan mengamalkan pesan-pesan moral al-Qur’an dalam kehidupan. Berinteraksi dengan al-Qur’an secara intens selama Ramadhan merupakan amalan unggulan yang dapat menenteramkan jiwa, menghilangkan rasa gundah gulana, stres, dan menjadi penawar penyakit hati.

Riset di sejumlah universitas di Barat, seperti California dan Florida University, membuktikan  biblioterapi al-Qur’an sangat efektif mengobati berbagai penyakit berat. Sya’ban al-Khalifah dalam artikelnya, al-‘Ilaj bi al-Qira’ah, rumah-rumah sakit sudah saatnya mengembangkan biblioterapi dengan memperdengarkan lantunan ayat-ayat al-Qur’an sebagai bagian dari proses penyembuhan berbagai penyakit, termasuk pasien positif Covid-19. “Dan Kami turunkan Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman...” (QS al-Isra’ [17]: 82). Jihad kolektif melawan Covid-19 perlu dilakukan tidak