Belajar Berdamai dan Menertawakan Penderitaan

Ruang redaksi Suara Muhammadiyah berada di lantai tiga Grha Suara Muhammadiyah di Jalan KH Ahmad Dahlan Yogyakarta. Dari ruangan ini, berbagai konten tulisan untuk Majalah Suara Muhammadiyah dan laman www.suaramuhammadiyah.id diproduksi. Banyak yang mengira bahwa ruangan para penulis harus hening dan senyap. Siapa bilang?

Bilik redaksi Suara Muhammadiyah justru kerap ramai. Senandung para musisi di loudspeaker mampu membuat riang. Terlebih menjelang deadline, ruangan ini berubah menjadi lebih riuh. Aktivitas menulis, menggambar, mendesain, merupakan pekerjaan yang menuntut kreativitas. Ide-ide kreatif lahir dalam suasana hati senang dan tanpa tekanan, namun tetap memiliki target yang harus dituntaskan.

Di ruangan ini, almarhum Didi Kempot bergantian menghibur kami bersama dengan Rhoma Irama, Via Vallen, Nella Kharisma, Iwan Fals, Ariel Noah, Jefri Al-Bukhari, hingga Nasida Ria. Kadang diselingi Sang Surya atau lagu wajib lainnya di lingkungan Persyarikatan. Khususnya lagu-lagu Dionisius Prasetyo, mulai sangat familiar sejak kelahirannya kembali pada Juni 2019.

Di antara lagu wajib yang diputar berulang kali, berjudul Pak Rebo. Begini penggalan liriknya: Pak Rebo e e e Pak Rebo | Pak Rebo laire dina Kemis | Yen Setu dodolan neng pasar Senen | Slasa Jumat mulih neng pasar Minggu. Lagu ini menggambarkan betapa absurd-nya hidup. Lagu semisal ini membuat penikmatnya lebih rileks menertawakan hidup dengan lepas. Kami tidak kenal Pak Rebo yang dimaksud, bisa jadi berupa: kuaci. Siapapun itu, terima kasih dan mohon maaf.

Salah satu awak redaksi yang bernama sama dengan seorang gubernur, punya bakat terpencar: memplesetkan lirik lagu. Maafkan teman kami, Lord Didi. Hobi merevisi lagu menjadi hiburan yang mahaall. Pak Rebo diplesetkan tidak hanya ke pasar minggu dan pasar senen, tapi juga jumatan di hari rebo, buka puasa dengan cendol dawet, dan berangkat umrah di jam tertentu. Bagi kami, Pak Rebo adalah sosok core of the core yang misterius. Hanya Didi Kempot yang tahu kisahnya.

Lagu Didi Kempot menyuarakan suasana hati banyak orang. Cinta dengan segala jatuh bangunnya adalah peristiwa sehari-hari. Itulah sebabnya, ia diterima publik. Selain menikmati lirik lagu dan irama musiknya, awak redaksi Suara Muhammadiyah juga mencari hiburan dari konser Youtube Lord Didi. Penikmat lagunya kerap terbawa perasaan. Terutama ketika kamera menyorot kerumunan orang berjingkrak-jingkrak seolah lepas dari beban atau anak-anak muda dengan wajah sangar namun menangis tersedu di keramaian. Pemandangan yang bisa membuat kami tertawa sampai sakit ginjal, eh, sakit perut.

Semua seolah menyiratkan keikhlasan dalam semua keadaan. Ikhlas walau dikhianati, ikhlas walau sakit hati, dan yang paling penting bisa menertawakan semua penderitaan.

Baca Juga:   Impian Amerika

Didi Kempot kelahiran Solo, 31 Desember 1966 ini berasal dari keluarga seniman. Ayahnya, Ranto Gudel merupakan pemain ketoprak. Kakaknya, Mamik Prakoso adalah komedian, anggota grup lawak Srimulat. Didi Kempot yang di akhir hayatnya dikenal sebagai Sang Kaisar Ambyar atau The Godfather of Broken Heart, memulai karirnya dari nol dan menanjak perlahan. Pada 1984, ia mulai mengamen dan belajar gitar secara otodidak di usia 18 tahun. Untuk membeli gitar, Didi harus menjual sepeda pemberian ayahnya.

Hanya bermodal gitar dan kecintaan pada seni, Didi tumbuh menjadi seniman berjiwa merdeka. Dunia jalanan telah membentuk hidupnya. Nama Kempot di belakang namanya merupakan akronim dari: Kelompok Penyanyi Trotoar. Ia mengamen dari kota ke kota, dari Solo, Yogyakarta, hingga Jakarta. Di tengah kerasnya kehidupan ibukota, ia bersama delapan teman kempot-nya tinggal berdesakan di sebuah kos sempit seharga Rp 15 ribu per bulan.

Suatu ketika, saat mengamen di sebuah restoran Jalan Panglima Polem Jakarta Selatan, sebuah tangan di balik jendela menyodorkan uang Rp 100 ribu. Ia kaget dan melongok ke dalam untuk mengetahui dermawan yang memberinya uang sebanyak itu. Ternyata kakaknya, Mamik Prakoso. Kakaknya meminta Didi berhenti mengamen dan berjanji mencarikan pekerjaan yang layak. Didi menolak. Ia menikmati dunianya dan setia berproses dari bawah. Narimo ing pandum.

Didi menulis lagu sendiri untuk mengamen, tidak menjiplak karya orang lain. Dengan segenap keterbatasan, Didi mulai merekam lagunya dengan menggunakan kaset kosong atau tape recorder. Hasilnya ia tawarkan ke berbagai studio rekaman. Hampir semua tawarannya berhenti di meja satpam atau front office. Didi tidak menyerah, ia terus mencoba. Sampai akhirnya, Musica Studios menyatakan tertarik pada rekaman Didi Prasetyo. Lagu We Cen Yu menjadi awal debutnya.

Baca Juga:   Speed Drawing Profil Muhammadiyah

Setelah sukses untuk album perdana, Didi segera pulang ke Ngawi menemui ibunya dengan membawa uang Rp 600 ribu dari hasil jerihnya. Hambatan masih terus datang. Ia konsisten dan tak mau menempuh jalan pintas. Lagu Cidro ternyata tidak laku di pasaran Indonesia, tetapi malah populer di Belanda dan Suriname. Cidro menggambarkan cinta sobat misqueen yang tak bisa mendapat cinta dari orang yang berbeda kasta. Tahun 1993, ia manggung di Belanda. Tahun 1996, ia kembali menggelar konser di Belanda dan Suriname.

Sampai akhir hayatnya, ia telah menulis sekitar 800 lagu. Hanya sedikit dari lagunya yang populer dan umumnya berbahasa Jawa dengan genre: campursari. Sebagaimana namanya, campursari merupakan musik yang menggabungkan unsur budaya lokal, dangdut, keroncong, koplo, Timur dan Barat. Lagu-lagunya terbilang sederhana, namun mengena. Lagu-lagunya seperti kata meme, merangkum perasaan: we fall in love with people we can’t have.

Lagu-lagu Didi berangkat dari filosofi Jawa: ben akhire ora kecewa, dewe kudu ngerti kapan waktune kudu mandeg. Supaya tidak mudah kecewa, maka kita harus paham kapan waktunya berharap dan kapan waktunya harus berhenti. Sadar tentang kondisi dan tidak memaksakan diri. Dalam kasus tertentu, merelakan dan melepaskan termasuk cara untuk bahagia. Tidak hanya dalam urusan cinta, filosofi ini juga berlaku universal dalam menjalani hidup. Termasuk dalam menjalani pekerjaan.

Lord Didi mengajarkan sikap ikhlas. Tidak semua yang kita lakukan akan mendapat apresiasi, mungkin malah dipinggirkan. Ketika memaksakan apa-apa yang di luar kendali kita supaya sesuai keinginan diri, maka kita hanya menuai kecewa. Kejadian alam, kondisi ekonomi global, hingga perlakuan orang lain kepada kita, merupakan bagian dari hal-hal di luar kendali. Jika kita memaksakan diri, kata Didi dalam lagu Ambyar: wis kebacut ambyar remuk sing ning ati | apa ngene iki sing jenenge korban janji? (Sudah terlanjur hancur remuk yang ada di hati | apa begini yang namanya korban janji?). Pada akhirnya, ambyar.

Dalam lagu Suket Teki, Lord Didi menyatakan, aku tak sing ngalah | trimo mundur timbang loro ati (aku saja yang mengalah |  lebih baik mundur daripada sakit hati). Kita simak reff lagu ini: wong salah ora gelem ngaku salah<