Mengkibarkan Intensitas Pemuda Muhammadiyah yang Mencerahkan Semesta

Oleh: Cristoffer Veron P

    Tepat hari pendidikan nasional, Pemuda Muhammadiyah merayakan miladnya ke 88 tahun. Itu berarti dua tahun lagi Pemuda Muhammadiyah akan berusia genap 90 tahun. Sebuah rentang usia yang panjang dengan pergumulan suka dan duka. 88 tahun bukanlah waktu yang mudah untuk dilalui. Akan tetapi Pemuda Muhammadiyah menunjukkan dengan gamblang di tahun 2020 ini, organisasi otonom tersebut masih berpancar dengan spektrum cahaya terang benderang menyinari tanah ibu pertiwi ini.

    Dalam usia yang panjang ini, Pemuda Muhammadiyah seyogianya perlu berkaca pada masa depan. Di satu sisi boleh juga berkaca pada masa lalu. Berkaca pada masa lalu beorientasi untuk muhasabah dan refleksi diri atas kontribusi yang ditunjukkan dalam misi membangun peradaban bangsa yang mencerahkan. Pemuda Muhammadiyah sekiranya harus bisa tampil di garda terdepan sebagai salah satu pionir dalam menahkodai bangsa di masa depan.

    Tidak ada keniscayaan untuk dapat mencerahkan bangsa jika Pemuda Muhammadiyah hanya bertengger bertenggek di dalam rumah tanpa berkontribusi untuk kemajuan bangsa ini. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia sekarang ini tengah mencari pemuda-pemuda yang memiliki kapabilitas dan dedikasi tinggi untuk dapat menggantikan para pemimpin yang sekarang ini mengembangkan amanah untuk menyopiri negara dengan memiliki 17.504 pulau, 714 suku, 742 dialek, dan jutaan kekayaan sumber daya alam (natural resources).

    Pada Milad Pemuda Muhammadiyah ini, sangat tepat kiranya dijadikan sebagai momentum untuk berdeformasi diri dalam menghadapi zaman yang semakin krusial. Zaman yang telah masuk era revolusi industri 4.0 memberikan tantangan baru bagi generasi milenial untuk bersaing dalam   tatanan global. Persaingan global tersebut dipengaruhi adanya derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dari masa ke masa terus mengalami perkembangan yang sangat kontras. Inilah potret zaman sekarang. Kalau kaum pemuda tidak cekatan, maka akan keteteran jauh dengan persaingan global.

Pemuda dan Kontribusi

    Pemuda dalam tafsiran sempitnya boleh dikatakan sebagai kaum laki-laki yang telah akil baligh. Kalau mau ditafsirkan secara komprehensif sebagai seorang yang diharapkan mampu menjadi pemimpin. Pemimpin itu merupakan tanggungjawab yang harus diemban oleh kaum pemuda. Sebab dia ketika nanti menginjak usia matang, dia akan menjadi seorang pemimpin dalam berumah tangga.

Baca Juga:   Milad 88, PCPM Tiwing bareng Lazismu Berbagi Kado Ramadhan

    Memimpin sebuah rumah tangga itu tidak mudah seperti yang dibayangkan sebelumnya. Memimpin rumah tangga itu harus memiliki mental dan kerohanian yang kuat sebagai bekal menjalani kehidupan selama-lamanya sampai akhir hayat menjemputnya. Disini yang perlu digarisbawahi pada sisi kepemimpinan.

    Menjadi seorang pemimpin itu harapan semua orang. Banyak orang yang rela mengeluarkan perbendaharaan harta bendanya hanya bisa untuk sebagai seorang pemimpin. Pemimpin itu telah menjadi Sunnatullah bahwa semua kaum pemuda akan menjadi seorang pemimpin. Sifat pemuda yang transparan membuat dirinya mudah untuk memimpin dalam segalanya.

    Seorang pemuda yang berciri khas maju itu selain menjadi seorang pemimpin, ia harus bisa berkontribusi untuk melahirkan sebuah gagasan dan mahakarya. Gagasan pemuda saat ini sangat dibutuhkan demi kemajuan bangsa Indonesia. Sebab pemuda masih memiliki pemikiran yang autentik dan jernih membuat para pemuda digelorakkan untuk menyumbangkan gagasan-gagasan yang berkualitas dan membangun asa bangsa dan negara. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan sebuah bangsa berasal dari impetus dan stimulus pemikiran para pemuda.

    Pemuda kiranya mampu menunjukkan gagasan terbaiknya dalam menghadapi rivalitas global. Sebagai pemuda, Anda harus bisa berpandangan inteligen dan brilian. Namun, kiranya untuk bisa berpandangan tersebut masih belum dapat di manifestakan. Pemuda sekarang masih berpola pemikiran tumpul, jumud, dan bias. Mereka hanya bisa menangkap gagasan dari orang lain tanpa di filtrasi (tabbayun) mengenai keabsahannya, sehingga menjadi sosi timbulnya aksi-aksi yang bersifat menista seseorang padahal objek yang dinista belum tentu melakukan tindakan yang ada dalam gagasan sebagaimana yang disebarluaskan melalui media sosial.

    Dalam satu ayat Al-Quran disebutkan bahwa seluruh elite bangsa wajib selektif dalam memfiltrasi segala bentuk informasi yang diterima dari orang yang baru dikenal. Perlunya sifat kehati-hatian dalam menerima informasi semata-mata berorientasi untuk memerdekakan dari sifat kemuskilan akibat tergesa-gesa dalam menerima informasi dan tidak dilakukan sifat tabbayun

    Artinya: “Duhai orang-orang yang beriman jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat [49] ayat 06).

Baca Juga:   Milad ke-88, PDPM Sleman Bagikan 100 Paket Ifthor dan Masker

    Disamping itu, pemuda harus bisa berkontribusi dalam mahakarya. Pemuda itu dapat dikonotasikan sebagai pionir masa depan. Baik buruknya masa depan sebuah bangsa tergantung pada kualitas pemuda hari ini. Sedang kualitas pemuda sebagai anak bangsa barometernya adalah titisan pena. Siapa yang memiliki titisan pena maka ia pemuda berkualitas, sebaliknya tidak memiliki titisan pena secara visibel, niscaya salah satu representasi dari pemuda yang tidak diharapkan eksistensinya di masa yang akan datang. Sebab titisan pena anak bangsa adalah aktualisasi dari inventivitas pemuda.

    Tunjukkan duhai pemuda, Anda sebagai gugus terdepan dalam menahkodai di masa depan harus bisa memiliki mahakarya. Karya pemuda saat ini seyogianya harus diapresiasi dan di dukung oleh pemerintah sebagai spirit untuk menumbuhkan kemampuan dalam melahirkan karya. Berkarya itu boleh berasal dari mana saja. Ada seorang pemuda yang berkarya dari hasil literasi (menulis). Setiap harinya ia menulis gagasan ringan mengenai paradigma kehidupan yang berlatarbelakang remaja. Lalu dia mengirimkan ke media, dan tanpa diterbayangkan tulisan tersebut tembus di media yang berskala nasional.

    Maka pemuda yang seper