Mempertahankan Gaya Hidup Sehat Saat dan Setelah Ramadhan

Bersepeda. Untuk menjaga kesehatan kita harus selalu beolahraga, namun tidak boleh berlebihan apalagi dilakukan dengan sembrono. Olahraga yang sembrono malah bisa membuat kita sakita atau cedera

“Yang penting setelah bepergian kita cuci tangan. Atau semprot tangan dengan cairan handsanitizer.” Sebagian besar masyarakat melakukan hal ini saat Corona menjelma masih menjadi pandemi. Sebagian besar menganggap hal itu sudah cukup.

Sebenarnya kita tahu, entah dari selebaran atau himbauan pemerintah dan dunia kesehatan, bahwa ada kebiasaan lain yang mesti dilakukan masyarakat secara kolektif, disamping untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 sekaligus meningkatkan kualitas fisik dan psikis diri seseorang.

Namun dalam aktualilasi di kehidupan sehari-hari, tidak semua himbauan kebiasaan sehat tersebut dijalankan dengan baik. Paling umum masyarakat sudah sadar untuk melakukan dan membiasakan cuci tangan dan menggunakan masker. Tapi hal lain, seperti mengatur pola makan dan membiasakan hidup sehat dengan olahraga mulai agak diremehkan kembali.

Sebagai contoh, awal mula Corona masuk Indonesia, banyak individu yang mengunggah kegiatan berjemur. Banyak pula yang saling share himbauan dan tips menjaga kesehatan lain. Tapi akhir-akhir ini, postingan semacam itu mulai redup. Sebaliknya, postingan menakutkan tentang dahsyatnya Corona masih terus menghiasi layar gadged kita, walau mungkin sebagian mulai jenuh dan mengabaikan berbagai info seram seputar Covid-19 ini.

Kebiasaan sehat di luar cuci tangan, sebenarnya adalah kebiasaan yang lumrah yang bisa dijadikan tameng yaitu dengan menjaga kebugaran fisik dan kesehatan mental. Yang harapannya, dengan fisik yang bugar serta jiwa yang kuat, akan mampu meningkatkan kesehatan kolektif masyarakat. Dalam Rakornas MPKU, Abdul Mu’ti Sekretaris Umum PP Muhammadiyah memberi penegasan, bahwa kesehatan adalah modal utama untuk melahirkan negara yang maju dan unggul. Artinya, maju tidaknya sebuah negara bisa dilihat dari kondisi kesehatan masyarakatnya.

Setidaknya, melalui pandemi corona ini kita diperlihatkan akan kehebatan negara maju dan diperlihatkan pula akan hancurnya negara maju. Negara yang mampu keluar dari jerat corona, sebagian diakui kehebatannya oleh dunia internasional. Sebaliknya, dunia internasional sangat prihatin dengan beberapa negara yang sampai detik ini belum mampu lepas dari jerat maut corona.

Baca Juga:   Tanwir Momentum Pencerahan

Kembali pada kebiasaan-kebiasaan sehat, mestinya seperti pola konsumsi makanan sehat dan olahraga juga menjadi budaya masyarakat kita. Lihat apa yang terjadi ketika kita meremehkan hal-hal baik itu? Akhirnya, sampai hari ini masyarakat Indonesia masih berkawan baik dan setia dengan berbagai penyakit kronis bahkan sebagian penyakit adalah kategori pembunuh nomor wahid di dunia. Seperti TBC, serangan jantung, stroke, diabetes, dan lain sebagainya. Nama-nama atau jenis penyakit tersebut justeru semkain melekat pada keseharian masyarakat.

Tidak usah berbicara angka, sekarang coba tengok di sekeliling kita, berapa banyak yang sudah terjangkit berbagai penyakit di atas. Atau coba dingat dengan baik, berapa banyak tetangga kita yang sudah meninggal akibat penyakit-penyakit tersebut.

Tapi, walau olahraga adalah bagian dari gaya hidup sehat, dilakukannya tetap dengan porsi yang sesuai. Tidak boleh berlebih. Karena apapun itu, jika berlebihan tetaplah tidak baik. Karena beberapa kasus justru memperlihatkan justru karena olahraga pula orang terkena sakit bahkan kehilangan nyawa.

Semangat menjaga kesehatan fisik dan kesehatan mental ini amat sejalan dengan adanya ibadah puasa Ramadhan. Dari berbagai pendapat, terutama dunia medis, puasa erat kaitannya dengan peningkatan kualitas kesehatan seseorang. Puasa mengajarkan akan pola makan yang baik, yaitu dengan membatasi diri untuk bersentuhan dengan makanan dalam durasi waktu tertentu. Sekaligus menyehatkan mental karena dalam berpuasa kita juga diminta untuk berlatih empati terhadap yang lain.

Termasuk, membiasakan olahraga kamar. Yaitu olahraga malam hari yang cukup dilakukan di dalam kamar namun memberi manfaat yang luar biasa bagi tubuh dan jiwa. Olahraga itu, kata Direktur RS UAD, Prof Dr dr Rusdi Lamsudidn, adalah dengan shalat malam atau shalat tahajud.

“Kalau tahajud dilakukan di sepertiga malam, kisaran pukul 03.00 pagi, yang diawali dengan membersihkan diri atau mandi, itu adalah aktivitas yang manfaatnya sangat mahal bagi tubuh,” ucap Direktus RS UAD tersebut.

Baca Juga:   Prof Haedar Nashir: Covid-19 Masih Meninggi Anggota Muhammadiyah Jadilah Uswah Hasanah

Selamat mencoba. (gsh)