Memaknai Nuzulul Qur’an: Al Qur’an sebagai Hidayah dan Ilmu

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Peringatan Nuzulul Qur’an sudah menjadi sebuah kebiasaan di kalangan umat Muslim terlebih di Indonesia yang memiliki penduduk mayoritas Muslim. Bukan sekadar untuk mengenang atau mengingat peristiwa turunnya Al Qur’an yang diwahyukan oleh Allah SwT kepada nabi akhir zaman, Muhammad SAW, yang peristiwanya terjadi pada bulan Ramadhan.

Nuzulul Qur’an atau malam diturunkannya Al Qur’an memang ada banyak pemahaman. Diturunkannya Al Qur’an seluruhnya dari lauhul mahfudz ke baitul ‘izzah atau langit dunia yang mana ini merupakan wilayah iman terhadap satu hal yang ghaib. Menurut banyak riwayat dari baitul ‘izzah tersebut kemudian Nabi Muhammad SAW memperoleh wahyu melalui malaikat jibril yang disampaikan secara bertahap. Terkait dengan tanggal juga hari kapan tepatnya Al Qur’an itu diturunkan juga banyak pendapat bermunculan. Tetapi yang shahih yaitu pada malam lailatul qadar, itu pun juga masih mengandung beberapa perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Terkait hal ini, Haedar Nashir Ketua Umum Muhammadiyah dalam pemaparannya pada Kajian Daring Ramadan Website Muhammadiyah, menegaskan bahwa poinnya ialah “kita tidak bisa berdebat soal kapan persisnya waktu diturunkannya Al Qur’an. Tetapi bahwa Al Qur’an Al Karim diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan pada malam lailatul qadar” jelasnya pada Ahad (10/05).

Bertahun-tahun umat Muslim, khususnya di Indonesia, sudah memperingati malam Nuzulul Qur’an ini. “Sekarang bagaimana agar kita mencari makna yang lebih mendalam dan sekaligus juga kita bisa membumikan dalam kehidupan kita sehari-hari dalam hal Al Qur’an ini” ujar Haedar.

Al Qur’an sebagai wahyu dari Allah SwT berfungsi sebagai petunjuk bagi umat manusia. Sebagaimana yang tertera dalam Q.S. Al-Baqarah: 185, maknanya bahwa bulan Ramadhan ialah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Menjadi petunjuk bagi umat manusia dalam hal ini ialah Al Qur’an wahyu yang berlaku universal, menjadi panduan untuk kehidupan umat manusia.

Baca Juga:   Aisyiyah Binjai Perkuat Ekonomi Anggota dan Umat

Dalam surat At Takwir di ayat 26-27, ada pertanyaan “Hendak ke mana orang-orang kafir itu di dalam kehidupan” tutur Haedar menerangkan arti ayat. Haedar menjelaskan bahwa ayat ini memiliki makna yang retorik dari Allah SwT. “Mereka yang kafir dan tidak percaya akan Tuhan itu sebenarnya hidupnya mau apa?” ucap Haedar. Konteks ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir yang tidak punya arah itu diberi petunjuk oleh Al Qur’an agar ia punya arah hidup.

Manusia itu butuh arah, butuh hidayah. Di luar konteks soal punya agama atau tidak, manusia siapa pun dia, hakikatnya memang butuh arah kehidupan. Dalam konteks inilah pertanyaan dalam surat At Takwir ayat 26 tadi penting untuk dijadikan sebagai perspektif kosmologi bagi setiap manusia dalam kehidupan. Hal ini terkait dengan pertanyaan seperti dari mana manusia berasal, untuk apa manusia hidup, dan ke mana manusia setelah hidup. Penting untuk ditemukan jawabannya, sehingga mampu mengarahkan serta membimbing manusia pada arah yang benar. Al Qur’an terkait hal ini telah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sehingga inilah yang disebut bahwa fungsi Al Qur’an sebagai petunjuk atau hidayah bagi umat manusia.

Dalam pemaparannya Haedar Nashir juga menggarisbawahi, ketika Al Qur’an dijadikan rujukan bagi manusia maka hidup manusia akan jelas arahnya. Ketika manusia melakukan sesuatu akan tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar. Kosmologi seperti ini, menurut Haedar, penting untuk diterapkan dalam kehidupan manusia agar hidup tidak serba praktis dan juga pragmatis. Meski sampai batas tertentu praktis dan pragmatis juga penting. Namun jika hidup serba praktis dan pragmatis maka rohaninya tidak terpenuhi.

Selain Al Qur’an sebagai hidayah atau petunjuk bagi umat manusia, Al Qur’an juga sebagai kitabul ‘ilmi, kitab ilmu pengetahuan. Dalam konteks Al Qur’an sebagai ilmu pengetahuan ada banyak ayat-ayat yang mencakup pengetahuan tentang dunia maupun tentang akhirat. Islam mampu membangun peradaban sampai berabad-abad ketika Barat masih gelap peradabannya, itu karena Al Qur’an sebagai kitab ilmu pengetahuan. Umat Islam kala itu benar-benar mentadaburi isi Al Qur’an.

Baca Juga:   Syamsul Anwar: Agama Bukan Barang Jadi yang Siap Pakai

Manusia dibimbing oleh Al Qur’an untuk berpikir. Banyak istilah dalam Al Qur’an yang kaitannya dengan ilmu, akal, dan berpikir. Hal ini menunjukkan bahwa betapa Al Qur’an ialah kitab akal pikiran yang mengajari manusia untuk berpikir jernih. Allah Maha Rahman dan Rahim memberikan manusia akal pikiran. Dengan akal pikiran ini manusia bisa berimajinasi luar biasa, yang tidak diberikan oleh makhluk lainnya sehingga manusia diangkat menjadi khalifah  di muka bumi. “Apakah kita mau untuk menggunakan akal pikiran yang jernih? Bukan dengan akal pikiran yang sembarangan” ucap Haedar.

Dalam surat Al Alaq ayat pertama Allah berfirman yang artinya “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Makna ‘baca’ dalam hal ini bukan hanya sekadar membaca, melainkan juga anjuran untuk berpikir, menghimpun segala macam hal baik dengan membaca Al Qur’an maupun membaca segala yang ada di alam semesta. 

Ayat ini merupakan ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Hal ini kemudian berarti bahwa sejak wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW, Allah telah menunjukkan dimensi akal pikiran dan ilmu pengetahuan.

“Kita umat muslim, terutama generasi muda, cintailah Al Quran sebagai kitab hidayah dan dalam waktu yang sama juga sebagai kitab ilmu, bacalah Al Quran dengan tafsirnya dan kemudian dikontekskan dalam kehidupan” tutur Haedar.

Jika umat Muslim saat ini mencintai ilmu dan cinta akal pikiran yang jernih lalu kemudian merujuk pada Al Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka umat Islam pasti akan menjadi generasi khoiru ummat  yang luar biasa. Maka dalam hal ini umat Islam tidak cukup untuk mendekati Al Qur’an dengan pendekatan tekstual, tapi juga penting untuk memahami segi tafsir kontekstual. Sehingga ketika umat Muslim berada pada berbagai persoalan, tidak gagap dalam menanggapinya. (ran)