Nabi Isa AS (8); Al-Hawariyun

Oleh : Yunahar Ilyas

Dalam Surat Ali Imran 49 yang sudah dikutip sebelumnya Allah SWT menyebutkan empat mukjizat yang diberikan kepada Nabi Isa AS, dua di diantaranya dengan penegasan bahwa hal itu terjadi karena izin Allah, yaitu mukjizat meniupkan ruh kepada patung burung yang dibuat dari tanah liat dan menghidupkan orang mati. Sedangkan untuk mukjizat menyembuhkan  orang yang buta sejak dari lahirnya dan menyembuhkan   orang yang berpenyakit sopak; serta  mukjizat dapat mengetahui makanan apa yang di simpan orang dalam rumahnya, tidak diikuti dengan penekanan dengan izin Allah walaupun semuanya tentu atas izin Allah SWT. Hal itu menurut hemat penulis agar tidak terjadi kesalahfahaman, seolah-olah Isa juga bisa menciptakan makhluk hidup dan menghidupkan orang mati, oleh sebab itu segera ditegaskan bahwa semuanya itu bisa dilakukan Isa karena izin Allah SWT.

Diriwayatkan oleh Abu Huzaifah Ishaq ibn Basyar dengan sanadnya dari Ka’ab  al-Ahbar, Wahab ibn Munabbih, Ibn Abbas dan Salman al-Farisi, bahwa pada suatu hari Isa melihat seorang ibu duduk sedih sambil menangis di sebuah kuburan. Isa bertanya, ada apa Ibu? Ibu itu menjawab bahwa anak perempuannya meninggal dunia, padahal dia tidak punya anak lagi selain anak perempuan itu. “Saya sudah berjanji dengan Allah, tidak akan meninggalkan kuburan ini sampai saya dapat merasakan kematian seperti yang dirasakan puteri saya, atau puteri saya dihidupkan kembali sehingga saya dapat melihatnya kembali.” Lalu Isa bertanya: “Jika Ibu bisa melihat puteri Ibu hidup kembali, apakah Ibu bersedia meninggalkan kuburan ini?” Ibu itu mengangguk. Lalu Isa shalat dua rakaat, kemudian datang mendekat dan duduk di sisi kuburan tersebut seraya berkata: “Hai Fulanah, bangkitlah dengan izin Ar-Rahman,  lalu kembalilah.” Setelah itu kuburan terasa bergetar. Isa ulangi seruan itu kembali, kuburan kembali bergerak. Kemudian Isa memanggil sekali lagi, maka keluarlah perempuan itu dari dalam kuburan sambil mengibaskan tanah di kepalanya. Isa bertanya: “Kenapa engkau lambat keluar?” Perempuan itu menjelaskan bahwa tatkala mendengar seruan Isa yang pertama,  Malaikat datang merangkai kembali tubuhnya, panggilan kedua Malaikat meniupkan ruh kembali ketubuhnya, panggilan ketiga dia bangkit, dan dia merasa takut sekali karena mengira kiamat sudah datang. Lalu dia memeluk Ibunya dan berkata: “Kenapa Ibu membuat saya merasakan kematian dua kali. Sabarlah Ibu, saya tidak perlu lagi tinggal dunia ini.” Lalu perempuan itu memohon kepada Isa: “ Wahai Ruh dan Kalimat Allah, tolong mintakan kepada Tuhan supaya saya dikembalikan ke Akhirat, dan permudahlah saya menghadapi kematian yang kedua.” Isa berdoa seperti yang diminta perempuan itu. Lalu perempuan itu meninggal kembali. Peristiwa itu sampai kepada orang-orang Yahudi yang menyebabkan mereka tambah marah (Qashash Al-Anbiya’ 2003: 218)

Baca Juga:   Nabi Muhammad SAW (2); Abrahah dan Tahun Gajah

Dalam riwayat lain versi as-Sadi dari Ibn Abbas bahwa yang dihidupkan kembali oleh Isa adalah seorang Raja Bani Israil. Isa mendoakan Raja yang jasadnya dibaringkan di atas ranjang itu, lalu Allah menghidupkan kembali Raja tersebut. Orang-orang yang ada di tempat kejadian itu menyaksikan langsung peristiwa yang luar biasa tersebut. (Qashash Al-Anbiya’ 2003: 218)

Tidak ada komentar dari Hasan Ayyub, penulis buku Qashash Al-Anbiya’ tentang dua versi kisah tersebut. Apakah kedua-duanya terjadi atau salah satu saja. Dan tidak ada juga ada komentar tentang kualitas dua riwayat tersebut. Tapi bahwa Isa bisa menghidupkan orang mati disebutkan dengan jelas dalam Al-Qur’an seperti ayat yang sudah dikutip sebelumnya.

Ada juga mufasir yang berpendapat bahwa Isa hanya bisa menghidupkan orang yang baru saja meninggal dan belum dikuburkan. Kalau sudah dikuburkan, apalagi sudah lama dikuburkan, Isa tidak sanggup melakukannya. Sebenarnya tidak perlu pembatasan seperti itu karena dalam ayat lain diungkapkan dengan redaksi mengeluarkan orang mati dari kubur. Allah SWT berfirman:

 وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِيۖ

“…dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, (Q.S. Al-Maidah 110)

Pada hakikatnya yang menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal adalah Allah SWT. Isa hanya berdoa memohon kepada Allah agar orang yang meninggal itu dihidupkan kembali, lalu Allah mengabulkan doa Isa tersebut. Itulah sebabnya dalam dua ayat tersebut, baik Surat Ali Imran 49 maupun dalam Surat Al-Maidah 110 ditegaskan Islam bisa menghidupkan orang mati dengan izin Allah SWT.

Hawariyun

Nabi Isa AS diutus kepada Bani Israil. Untuk membuktikan kenabian beliau Allah SWT memberikan kepada beliau beberapa mukjizat seperti yang disebutkan dalam ayat. Akan tetapi hanya sedikit Bani Israil yang mau beriman dengan Nabi Isa. Di antara sedikit pengikut Isa itu ada beberapa orang yang menjadi murid- murid setia Nabi Isa. Murid-murid setia itu disebut oleh Al-Qur’an sebagai Hawariyun. Allah SWT berfirman:

Baca Juga:   Kisah Para Nabi Dalam Al-Qur’an

۞فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ قَالَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ   

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri. (Q.S. Ali Imran 3: 52)

Al-Hawâriyyûn adalah bentuk jamak dari al-hawâriyyu. Berasal dari kata al-hawâr yang berarti putih dan sangat murni. Mereka dinamai demikian karena putih dan sucinya  hati mereka dari aneka noda serta tulusnya persahabatan mereka dengan Nabi Isa AS. Ada juga yang menyatakan bahwa Al-Hawâriyyûn  berasal dari bahasa Habsyah (Ethiopoia) yaitu hawariya yang berarti sahabat yang sangat tulus. Darimanapun asal katanya, yang jelas Al-Qur’an menggunakan istilah Al-Hawâriyyûn   untuk para sahabat dan pengikut setia Nabi Isa AS. Jumlah mereka 12 orang. (Tafsir Al-Mishbah 14: 211).

Menghadapi kekufuran Bani Israil, lebih-lebih orang-orang Yahudi, Isa menanyakan kepada para pengikut setianya itu, “siapa yang akan menjadi penolongku dalam menegakkan agama Allah.” Murid-murid setia itu dengan tegas, tanpa ragu sedikitpun menyatakan bahwa merekalah yang akan menolong Isa dalam menegakkan Agama Allah.

Kita orang-orang beriman, umat Nabi Muhammad SAW juga diperintahkan oleh Allah SWT untuk meniru sikap setia Al-Hawâriyyûn   itu dengan menjadi anshârullah (penolong agama Allah). (bersambung)