Inward Looking

Dr. M. G. Bagus Kastolani

Didorong rasa penasaran, saya melakukan riset sederhana kepada mahasiswa saya di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo pada pokok bahasan persepsi diri. Saya meminta mahasiswa menuliskan 3 kelebihan dan 3 kelemahan yang berkaitan dengan kelebihan atau kelemahan sifat, kepribadian atau fisiknya. Setelah itu, mereka saya minta untuk menggambarkan apapun (1 gambar) yang merupakan metafora mewakili semua kelebihan dan kelemahan yang mereka tulis. Rupanya, mereka agak kesulitan untuk menggambar metafora ini. Kemudian, saya lanjutkan tugas untuk menggolongkan masing-masing kelebihan dan kelemahan tersebut mereka ketahui darimana; dari diri sendiri atau dari orang lain. Setelah tugas mahasiswa dikumpulkan, maka 75% mahasiswi mendapatkan pengetahuan dirinya dari orang lain dan 100% mahasiswa mendapatkan pengetahuan dirinya dari diri sendiri.

Pengetahuan diri yang berasal dari orang lain inilah yang disebut sebagai outward looking, sedangkan yang berasal dari diri sendiri disebut sebagai inward looking. Mungkin jika saya berhak menggeneralisasikan secara awam, wanita lebih banyak mengetahui dirinya dari sumber orang lain sehingga sangat memperhatikan pendapat lingkungan sosial tentang dirinya. Sedangkan laki-laki lebih banyak mendapatkan pengetahuan diri dari dirinya sendiri. Seorang mahasiswi bertanya kepada saya, mana yang lebih baik untuk pengetahuan diri, inward looking atau outward looking? Saya menjawab dengan menyatakan semuanya baik sebagai pengetahuan tentang diri kita yang akan menentukan konsep diri kita, namun harus dicermati secara sungguh-sungguh mana yang mempunyai bukti terkuat dalam perilaku kita sehari-hari.

Dalam beberapa penelitian psikologi, inward looking yang tinggi berbanding lurus dengan kepercayaan diri, evaluasi diri, dan idealisme. Dalam pengembangan kepribadian, inward looking inilah yang mempunyai andil dalam mengenali dan mengembangkan potensi atau menarik kelemahan menjadi kelebihan. Dalam Islam, kita diajarkan untuk muhasabah atau mengevaluasi diri sendiri. Karena dengan mengevaluasi diri sendiri, maka kita lebih mudah mengembangkan diri kita dan menjaga harmonisasi dalam relasi sosial. Karena orang yang mampu muhasabah atau inward looking dapat menurunkan egonya untuk menilik keterbatasan dirinya. Bukankah tidak ada gading yang tak retak?

Baca Juga:   Motivasi: Siapa Minta Kaktus?

Huwallahu a’lam bi showab