Agenda Strategis Meraih Keunggulan

Pidato Memaknai Keindonesiaan dan Kemajemukan
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi

Prof Dr Haedar Nashir, MSi

Indonesia harus bangkit dari ketertinggalan menuju bangsa yang berdaya saing tinggi. Setelah 70 tahun merdeka Indonesia masih harus membangun diri dengan gigih menghadapi persaingan global. Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) menyatakan Peringkat daya saing Indonesia terus menurun. Dalam pengumuman ke publik Global Competitiveness Report 2015-2016, WEF menyatakan posisi daya saing Indonesia turun tiga peringkat menjadi ranking 37 dengan skor 4,5. Pada 2014-2015, Indonesia berada di ranking 34 dengan skor 4,6. Di antara negara ASEAN yang lain, Indonesia berada di bawah Thailand (32), Malaysia (18), dan Singapura (2), namun unggul dari Filipina (47), Vietnam (56), Laos (83), Kamboja (90) Myanmar (131) (TEMPO.CO, 2016).

Sementara itu di tengah bangsa-bangsa lain yang makin memacu diri dengan etos kerja dan budaya berdaya saing global, sebagian masyarakat Indonesia masih gemar melakukan kegiatan-kegiatan ritual yang cenderung mercusuar dan kurang produktif. Kesukaan memperingati hati-hari besar atau sakral yang berlebihan dan kurang diimbangi dengan kerjakerja produktif, telah banyak menguras energi sosial bangsa ini untuk berpacu dengan bangsa-bangsa lain. Jumlah hari besar dan hari libur di negeri ini terbanyak di banding negara-negara tetangga, sehingga banyak pihak menilai mengurangi produktivitas.

Kepribadian bangsa pun sering tidak berdaya menghadapi arus budaya luar yang mengalir deras, kecuali sebatas jargon dan retorika. Budaya Indonesia seperti tidak berdaya terhadap gempuran perubahan sosial baru, yang oleh WS Rendra disebut layaknya budaya kasur tua yang kadaluwarsa.

Padahal banyak potensi anak bangsa, sumberdaya alam, dan peluang yang dapat dikembangkan secara optimal menuju persaingan dan membangun peradaban bangsa ke depan. Lantas, apa tantangan berat bangsa ini dan agenda strategis apa yang dapat menjadikannya berkemajuan?

Perubahan Sosial

Bangsa Indonesia saat ini juga dihadapkan pada perubahan sosial yang luar biasa kompleks akibat globalisasi dan modernisasi tahap lanjut atau posmodernisme yang membawa dampak luas pada kehidupan masyarakat di berbagai bidang. Lebih-lebih dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin canggih, yang membawa perubahan lingkungan dan alam pikiran serta sikap hidup manusia yang menurut Jean Baudrillard disebut sebagai hyper-reality atau realitas buatan yang memesona tetapi menimbulkan masalah sosial yang kompleks. Segala hal mudah dicitrakan untuk memikat orang dengan cara mudah. Pilkada dan segala bentuk kontestasi sosial melahirkan perilaku yang serbasemu, sehingga makin banyak orang menjadi narsis dengan memasang foto dirinya dan menjual segala “kehebatan diri” tanpa rasa malu atau risih. Fase ini telah membawa perilaku manusia modern menjadi “insan modular” yang berbuat layaknya mesin atau robot, minus rasa.

Baca Juga:   RS Muhammadiyah Lamongan Gelar Inhouse Training Resusitasi Neonatus

Pergeseran land-scape desa dan kota terjadi luar biasa. Pengaruh ekonomi kapitalistik telah mengubah wajah masyarakat Indonesia menjadi semakin berorientasi ekonomi-uang, menerabas, hedonis, dan egoistik. Politik menjadi sarat modal dan menumbuhkan perilaku politik transaksional yang sangat liar. Kehidupan sosial budaya juga mengalami perubahan sosial yang kapitalistik, sehingga segala hal banyak dikomodifikasikan atau diperjual-belikan, termasuk menjual-belikan anak-anak manusia layaknya benda di pasar bebas.

Budaya hidup instan mewarnai sebagian masyarakat Indonesia di kota maupun di pedesaan hingga ke sudut-sudut terjauh di tanah air. Mereka ingin sukses seketika. Mereka menjadi cenderung malas bekerja keras, kurang bertanggungjawab secara murni, dan mudah menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Anak-anak kecil hingga dewasa hidup dimanjakan oleh teknologi virtual yang mengajarkan segala kemudahan sekaligus sarat jebakan, sehingga mereka menjadi objek teknologi ketimbang subjek. Fenomena ini memperkuat apa yang dikemukakan oleh antropolog Edmund Carpenter sebagai “technothronic-ethnoside” atau pembunuhan budaya di banyak suku bangsa di negeri tercinta.

Akibat perubahan sosial yang terjadi secara masif akar budaya masyarakat setempat kehilangan localwisdom, mereka tercerabut dari akar budayanya

Berbagai bentuk kekerasan yang melampaui batas terjadi dengan mudah sebagaimana menimpa anak gadis YY di Rejang Lebong Bengkulu. Masyarakat mudah mengalami gesekan sosial yang tinggi bagaikan rumput kering yang mudah terbakar. Masyarakat desa mengalami perubahan sosial yang luar biasa, sehingga karakter pedesaan yang guyub, rukun, dan solider telah banyak berubah.

Masyarakat Indonesia cenderung menjadi egosistik-individualistik. Kondisi ini makin diperparah oleh politik yang semakin pragmatik, sehingga mengubah orientasi sikap masyarakat menjadi kian materialistik, hedonistik, dan oportunistik. Kekuasaan menjadi rebutan orang, kelompok, dan golongan secara ambisius dan pikiran sempit sehingga kehilangan jiwa kenegarawanan dan fungsi politik untuk kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

Baca Juga:   Awali Kajian Ahad Rutin, Muhammadiyah Kutoarjo Pererat Habluminannaas

Pendidikan Berkemajuan

Bangsa Indonesia sebenarnya memiliki modal strategis untuk tumbuh menjadi berkemajuan. Tidak sedikit anak-anak bangsa yang cerdas dan berprestasi di kancah domestik maupun mancanegara. Sumberdaya alam yang dimiliki bangsa ini pun luar biasa kaya, meski makin lama makin dieksploitasi secara serampangan dan dikuras habis-habisan secara tidak bertanggungjawab oleh kekuatan asing maupun domestik yang haus keuntungan. Peluang yang ada di hadapan harus dijawab dan dimanfaatkan secara cerdas dan siap jika bangsa ini ingin maju sejajar dengan bangsa-bangsa tetangga. Di sinilah salah satu fungsi penting dan strategis lembaga pendidikan dalam memecahkan masalah dan tantangan bangsa ke depan.

Pendidikan di negeri ini harus menjadi pilar strategis membangun peradaban bangsa di tengah persaingan dan perubahan sosial yang dahsyat. Karenanya pendidikan harus mampu memperkokoh kembali karakter manusia Indonesia yang kuat nilainilai spiritualistik, daya intelektual, dan orientasi tindakannya sebagaimana ditanamkan oleh agama dan kebudayaan luhur bangsa. Pendidikan karakter yang diintegrasikan dengan penguatan nalar-intelektual dan orientasi tindakan positif-konstruktif menjadi niscaya menuju daya saing bangsa Indonesia menghadapi perubahan lingkungan dan tantangan yang multidimensional saat ini.

Pendidikan juga harus menghasilkan lulusan atau generasi yang cerdas, berpikir rasional, objektif, berorientasi ke masa depan, beretos kerja tinggi, hemat, produktif, dan mampu menyingkap segala rahasia