Ammar Bin Yasir: Keteguhan Iman Yang Dibakar Hidup-Hidup

Ilustrasi Dok Al-Islam

Siapa yang tak kenal dengan as-sabiqunal awwalin, kelompok sahabat yang terdahulu memeluk Islam, yakni Ammar Bin Yasir. Tidak tanggung-tanggung, setelah memeluk Islam, ia berhasil mengajak ibu dan ayahnya memproleh hidayah yang sama. Ayahnya, Yasir bin Amir merupakan seorang perantau dari Yaman yang bersahabat dengan Abu Hudzaifah bin Mughirah, dan dinikahkan dengan sahayanya, Sumayyah bin Khayyath.

Karena Ammar dan kedua orang tuanya termasuk dari keluarga miskin, kaum Quraisy menjadikan mereka sebagai sasaran penyiksaan karena pilihan mereka telah memeluk Islam. Bani Makhzum, tempat mereka berlindung selama ini sangat marah ketika mengetahui mereka telah murtad dari agama nenek moyangnya.

Penyiksaan demi penyiksaan dilakukan tanpa kasihan kepada keluarga Ammar, tetapi semua itu tidak menyurutkan keimanan dan keyakinan kepada agama barunya, Islam. Dibiarkan di terik matahari padang pasir, didera, disulut dengan api menyala, dan berbagai tindakan mengerikan di luar peri kemanusiaan diberlakukan kepada mereka untuk mengembalikan kepada agama jahiliahnya, tetap saja hal itu sia-sia.

Suatu ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka bertiga yang sedang disiksa, beliau mengagumi ketabahan dan kerelaan mereka menerima penderitaan ini demi untuk mempertahankan keislamannya. Ketika Ammar berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, adzab yang kami derita telah sampai pada puncaknya…”

Nabi Muhammad SAW bersabda untuk menentramkan jiwanya, “Sabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga…”

Ketika Abu Jahal ikut melakukan penyiksaan, ia begitu jengkel dan putus asa terhadap Sumayyah. Seorang budak wanita yang hina (dalam pandangan Abu Jahal dan masyarakat Quraisy saat itu) seperti dirinya, berdiri tegar seakan menantang kesombongan tokoh besar Quraisy tersebut. Karena tidak tertahankan lagi kejengkelannya, Abu Jahal mengambil tombak dan menusuk Sumayyah dari selangkangan hingga tembus ke punggungnya, jadilah ia syahid pertama dalam Islam. Tidak berapa lama, ayahnya, Yasir bin Amir juga meninggal dalam penyiksaan orang-orang kafir Quraisy.

Baca Juga:   Umar Khayyam Tent Maker dari Nishapur

Kematian orang tuanya akibat siksaan tersebut tidak menyebabkan ia berubah pikiran, bahkan makin meneguhkan pendiriannya. Siksaan pun makin ditingkatkan, dibakar dengan besi panas, disalib, ditenggelamkan dalam air hingga ia sesak nafas, dan lain-lainnya. Suatu ketika Ammar dibakar dengan api yang membara, kebetulan saat itu Nabi Muhammad SAW datang mengunjunginya.

Beliau memegang kepala Ammar dan berkata, “Hai api, jadilah kamu sejuk dan selamatkanlah Ammar, sebagaimana dulu kamu menjadi sejuk dan menyelamatkan bagi Ibrahim…!!”

Seketika itu Ammar tidak lagi merasakan panasnya api yang menerpa tubuhnya, maka makin kokoh dan tegar saja jiwanya dalam keimanan dan keislaman, walau adzab dan siksaan kaum Quraisy makin ditingkatkan.

Suatu ketika Ammar disiksa sedemikian rupa sehingga hampir tak sadarkan diri, dalam keadaan seperti itu ada yang menuntun ucapannya untuk memuja-muja berhala kaum Quraisy, dan tanpa disadarinya ia mengikuti ucapan-ucapan tersebut. Saat ia menyadari semuanya itu, ia menangis sejadi-jadinya, seolah-olah dunia kiamat baginya, dan siksaan demi siksaan pun tak lagi terasa berat baginya. Jauh lebih berat kedukaan dan ketakutannya karena telah mengucapkan kata-kata yang bisa mencabut imannya, menyengsarakan kehidupannya di akhirat kelak.

Dalam puncak kesedihan yang serasa tidak tertahankan, datanglah Rasulullah SAW. Beliau memang telah mendengar berita tentang apa yang diucapkan oleh Ammar, dan atas peristiwa tersebut, turunlah surah An Nahl ayat 106. Beliau datang sendiri menemui Ammar, dengan penuh santun dan kasih beliau menghibur dan menenangkannya sambil menyampaikan firman Allah SWT tersebut. Beliau berkata kepada Ammar, “Orang-orang kafir menyiksa dan menenggelamkanmu sehingga engkau mengatakan begini dan begini…”

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya : “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS An Nahl 16:106)

Baca Juga:   Salahuddin al-Ayyubi: Simbol Kepahlawanan dan Kebijaksanaan Dalam Islam

“Benar, ya Rasulullah,” Kata Ammar sambil meratap penuh kesedihan.

“Tidak mengapa, jika mereka memaksamu, katakanlah seperti itu… sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan ayat : … kecuali orang-orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan…”

Hati Ammar menjadi tentram dengan penjelasan Nabi Muhammad SAW tersebut. Pada akhirnya, sebagaimana kebanyakan budak-budak lain yang disiksa tuannya karena pilihannya memeluk Islam, Abu Bakar r.a membeli Ammar dari kabilah Bani Makhzum dan memerdekakannya.

Begitu tegar dan kokohnya Ammar mempertahankan imannya, walau cobaan dan siksaan terus dialaminya, sehingga Nabi Muhammad SAW sangat sayang kepadanya. Beliau bersabda tentang dirinya, “Diri Ammar dipenuhi oleh keimanan sampai ke tulang sum-sumnya…”

Pernah terjadi selisih faham antara Ammar dan Khalid bin Walid, pahlawan Islam yang digelari Nabi Muhammad SAW ” Pedang Allah”, maka beliau bersabda, “Siapa yang memusuhi Ammar, dia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci Ammar, maka dia akan dibenci Allah…”

Untunglah Khalid bin Walid seorang yang cerdas dan berjiwa besar, mendengar sabda Nabi Muhammad SAW ini segera ia menemui Ammar dan meminta maaf atas kekhilafannya. Kedudukannya di masa lalu sebagai salah satu pemuka kabilahnya dan Ammar hanya sebagai budak, tidak menghalanginya untuk merendahkan diri dan meminta maaf.

Semua itu ringan dilakukannya karena Khalid lebih menghendaki keridhaan Allah SWT, daripada sekedar mempertahankan ‘gengsi’ dan prestisenya di masa lalu. Dan Ammar-pun dengan senang hati memaafkannya.(rahel)