Ikhtiar Menghadapi Pandemi Covid-19

Vaksin Covid-19
Darurat Covid-19 Ilustrasi Dok Vectorstock

Khaulah Pundhi Muslimah

Sudah dua bulan berlalu sejak kasus pertama positif covid-19 ini terjadi, kini jumlah orang yang terkonfirmasi positif mencapai belasan ribu dengan kecenderungan terus menaik. Data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia setidaknya mencatat setiap harinya ada 200-300 orang yang terkonfirmasi positif covid-19, bahkan data terbaru per 13 Mei 2020 mencatatkan angka 600 orang terkonfirmasi positif covid-19. Sehingga wajar apabila covid 19 ini kemudian manjadi bencana non alam terbesar dalam dekade terakhir. Sedikit menarik persoalan ini kebelakang, awal mula masukknya covid ke Indonesia membuat sebagian orang panik dan sudah mulai waspada. Namun sebagian orang masih menganggapnya bukan apa-apa.

Hingga munculah data-data jumlah pasien positif covid yag terus meningkat, sehingga mulai membuat banyak warga yang lebih khawatir dan waspada. Hal tersebut mulai menyebabkan beberapa kebutuhan menjadi langka dan memiliki harga yang relatif  mahal dari biasanya, seperti masker, handasanitizer, handwash, sabun cair, cairan  alkohol, dan lain sebagainya. Selain itu juga beberapa pintu masuk perkampungan, batas kota, bahkan batas antar provinsi dijaga oleh petugas keamanan dalam rangka memutus mutasi penduduk ke daerah daerah. Tidak hanya itu  penyemprotan  desinfektan di lingkungan rumah, jalan, dan tempat tempat umum lainnya juga dilakukan dengan tujuan memutus mata rantai persebaran covid-19.

Dampak Perekonomian

Tidak bisa dipungkiri, semakin lama pandemi ini, maka akan semakin banyak efek dan persoalan ekonomi masyarakat. Baik itu perekonomian masyakarakat kecil hingga menengah keatas, namun masyarakat kecil yang sudah merasakan dampaknya sejak awal. Data BPS pada februari 2020 mencatat jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 sebanyak 137,91 juta orang, naik 1,73 juta orang dibanding Februari 2019. Berbeda dengan naiknya jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turun sebesar 0,15 persen poin. Penduduk yang bekerja sebanyak 131,03 juta orang, bertambah 1,67 juta orang dari Februari 2019. Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terutama Jasa Pendidikan (0,24 persen poin), Konstruksi (0,19 persen poin), dan Jasa Kesehatan (0,13 persen poin). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih bergantung pada pekerjaan konvensional. Lantas bagaimana jika pekerjaan pekerjaan konvensional ini berhenti sementara akibat covid? Berapa jumlah angkatan kerja yang dapat melakukan pekerjaan ditengah pandemi ini? tentu ini persoalan yang sulit dijawab. Bagi pengusaha kelas kakap  pandemi ini tinggal menghitung hari saja sampai kapan mereka mampu bertahan melawan pandemi covid 19. Oleh karenanya, pemerintah harus memikirkan persoalan ini dengan serius.

Baca Juga:   AMM Cileungsi Kembali Semprot Warga

Upaya- upaya pemulihan perekonomian tentu tidak akan berjalan dengan lancar apabila tidak diiringi dengan peran serta masyarakat Dalam konteks membangun ekonomi kemasyarakat usaha mikro kecil menengah adalah salah satu garda terdepan perekonomian masyarakat Indonesia saat ini. Data Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia mencatat pada kuartal tahun 2017-2018 setidaknya ada 1.271.440 jumlah UMKM, data ini mengalami kenaikan ditahun setelahnya. Namun berpotensi turun drastis akibat  pandemi covid- 19. Bisa kita bayangkan dengan jumlah UMKM tersebut dapat merekrut beribu- ribu karyawan dan kemudian hancur dalam hitungan hari akibat pandemi covid-19. Tentu kita semua tidak menginginkan akan hal tersebut terlalu mahal ongkos sosial yang harus dibayarkan guna membayar itu semua.

Alternatif Solusi

Sebagai upaya menanggulangi dampak ekonomi tersebut sudah selayaknya pemihakan terhadap UMKM harus menjadi prioritas utama. Namun dilain sisi, sebagai pelaku UMKM kita perlu berfikir kreatif agar usaha UMKM ini tetap eksisdi tengah pandemi covid19. Sebagai contoh pengusaha sektor tekstil, menjelang lebaran ini tentu berbeda dengan kondisi lebaran pada tahun sebelumnya. Kalau usaha pada tahun sebelumnya pengusaha tekstil dapat memproduksi pakaian baik pria maupun wanita dalam jumlah puluhan, ratusan, bahkan ribuan. Kini pengusaha tekstil tersebut dapat memproduksi masker, alat pelindung diri (apd) dalam jumlah, puluhan, ribuan, dan bahkan ratusan. Kemudian bagi pengusaha yang bergerak dalam sektor pertokoan juga dapat menambahkan barang dagangannya dengan berdagang kebutuhan pokok, meskipun hanya sedikit.

Sektor kuliner  juga dapat melakukan langkah- langkah kreatif lainnya semisal menambahkan layanan pengantaran makanan selama pandemi ini, mengingat himbauan pemerintah agar senantiasa melakukan aktivitas di rumah. Contoh- contoh demikian adalah sebagian kecil fenomena dalam dunia usaha ditengah pandemi covid 19. Masih banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai pengusaha UMKM agar usaha kita tetap eksis dan tetap dapat membiayai karyawan yang bekerja pada kita meskipun tidak dapat maksimal seperti hari- hari pada umumnya. Pandemi ini memberikan banyak pembelajaran agar senantiasa dapat berfikir kreatif dan memecahkan permasalahan sebagai bentuk iktiyar  di dalam dunia usaha menghadapi pandemi covid 19 ini.

Baca Juga:   Puasa Pemantik Kesadaran Religiusitas: Spiritual Capital Menghadapi Konsumerisme

Sikap Sebagai Muslim

Sebagai umat muslim, kita harus tetap postif dalam melihat berbagai keadaan yang telah Allah berikan, harus lebih peka dan pandai dalam mengambil hikmah dalam setiap permasalahan yang terjadi pada kita. Kita harus yakin bahwa setiap masalah pasti punya solusi, setiap cobaan apa saja yang diberikan Allah kepada kita pastinya tidak lepas dari kemampuan yang kita miliki. Jika kita mengambil contohnya salah satu masalah yang hampir kita rasakan semua khususnya yaitu dalam permasalahan ekonomi. Karena sekarang yang sangat bisa kita usahakan yaitu untuk bertahan hidup.

Kembali kepada rumus yang ada didalam islam, yaitu ikhtiar, doa, dan tawakal. Tetap berusaha terus, selalu ingat dan minta kepadaNya, jika sudah kita pasrah akan hasil semuanya. Karena hasil tidak lepas dari apa yang kita usahakan. Jika itu semua sudah kita laksanakan, kita masuk ketahapan selanjutnya yaitu, bersedekah. Tentunya jika dalam bersedekah kita harus ikhlas dan terlepas dan berbagi niat buruk yang bisa merusak keindahan sedekah tersebut. Namun kita hanyalah manusia biasa yang mungkin masih banyak bisikan yang mengganggu niat kita, namun dalam islam juga sudah mengajarkan kepada kita untuk selalu memperbarui niat sebelum niat buruk tersebut menguasai kita.

“sesungguhnya segala amal itu tegantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapat sesuai niatnya.” (HR Bukhori-Muslim).

Hadits tersebut menegaskan kepada kita bahwa apa yang kita dapatkan dari Allah itu tergantung niat yang ada pada amal kita. Jika niat dan cara melakukannya benar maka akan bernilai ibadah. Namun , meskipun caranya benar dan niatnya tidak benar maka akan sia sia saja, karena kurang bernilai di hadapan Allah. AlllahSWT berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al-An’am [6] : 162). Janji kita kepada Allah tersebut mengingatkan kepada kita bahwa segala yang kita lakukan semata mata karena Allah. “ niat mudah berubah karena letaknya ada di dalam hati, sementara hati itu halus dan rentan terhadap pengaruh-pengaruh, dan rusaknya bisa dari awal, di tengah, maupun di akhir. Maka dari itu niat itu perlu kita perbarui setiap saat sesering mungkin.