I’tikaf di Masa Pandemi Covid-19

Dzikir Ilustrasi Dok Freepic

Ketika bulan Ramadhan sudah memasuki sepuluh hari ketiga (10 terakhir) Rasulullah saw semakin bersunggung-sungguh dan tekun beribadah. Ini dilakukan supaya tidak kehilangan kesempatan emas yang masih tersisa di sepuluh hari terakhir. Aisyah meriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ أِذَادَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَالَيْلَهُ وَاَيْقَظَ أَهْلَهُ

Diriwatkan dari Aisyah ra. Ia berkata: Apabila memasuki hari sepuluh terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw mengencangkan pakaian bawahnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Kata mengencangkan pakaian bawah, adalah kiasan dari sikap sungguh-sungguh dalam beribadah. Sedangkan menghidupkan malam Ramadhan bermakna mengisi malam Ramadhan dengan ibadah sebanyak mungkin. Sementara membangunkan keluarga dimaksudkan bahwa di dalam beribadah untuk mendapatkan ridha dan keselamatan hidup tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk seluruh anggota keluarga. Sehingga seluruh anggota keluarga berpartisipasi dalam memperbanyak zikir, kebajikan dan ibadah.

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaha 920) : 132)

Pengertian I’tikaf

Kata i’tikaf berdasarkan kamus Bahasa Arab al-Mu’jam al-Syamail, merupakan bentuk mashdar dari i’takafa, ya’takifu i’tikaf (tinggal atau berdiam diri di suatu tempat), pemaknaan Bahasa ini juga dapat dipahami dari HR al-Bukhari yang menggambarkan diamnya seorang muadzdzin usai beradzan dengan ungkapan i’takafa al-muadzdzin, sebagaimana berikut,