31 C
Yogyakarta
Selasa, Agustus 4, 2020

Allah Memperkenalkan Diri (23) Allah Jangan Ditandingi

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Haedar Nashir: Revitalisasi Pancasila Jangan Sampai Mengulang Tragedi Masa Lalu

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ada dua peristiwa yang membuat kita kembali mempertanyakan Pancasila: (1) pro-kontra Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila,...

MDMC Luwu Kembali Salurkan Bantuan, Tim Relawan Banjir Bandang Tetap Siaga

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Disaster Manajemen Center) atau Satgas Bencana Muhammadiyah Kabupaten Luwu tiba di Masamba, Kabupaten Luwu Utara di...

Silaturahim dengan PDM, Menko PMK Tinjau Lokasi Banjir Luwu Utara

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan Prof Dr Muhajir Effendi, MAP tiba di Luwu Raya melalui...

Sayembara Business Plan Sociopreneur Cabang & Ranting Muhammadiyah 2020

Suara Muhammadiyah – Sayembara dengan total hadiah puluhan juta rupiah sudah mulai dibuka oleh Lembaga Pengembangan Cabang Ranting (LPCR) PP Muhammadiyah. Agenda...

Program Kemaslahatan, Lazismu Gorontalo berbagi Daging Qurban di 4 Wilayah

GORONTALO, Suara Muhammadiyah - Tema besar qurban tahun ini adalah qurban untuk ketahanan pangan, yang bertujuan untuk diberikan kepada fakir miskin dan...
- Advertisement -

Oleh: Lutfi Effendi

Al-Qur’an adalah kitabullah  (kitab Allah). Diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan diperuntukkan bagi manusia. Karenanya, selama Ramadhan ini, penulis akan menyajikan bagaimana Allah memperkenalkan dirinya kepada manusia lewat Al-Qur’an. Tentu hanya sebagian saja yang bisa disajikan selama 30 hari di bulan Ramadhan ini.  

Tulisan kali ini masih membahas Qs Al Baqarah ayat 22:

الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

allażī ja’ala lakumul-arḍa firāsyaw was-samā`a binā`aw wa anzala minas-samā`i mā`an fa akhraja bihī minaṡ-ṡamarāti rizqal lakum, fa lā taj’alụ lillāhi andādaw wa antum ta’lamụn

(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

Fokus tulisan ini pada potongan  ayat  fa lā taj’alụ lillāhi andādaw wa antum ta’lamụn.  (Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui). Dalam hal ini, manusia diminta tidak mengadakan tandingan atau mencari Tuhan yang lain selain Allah.

Inti dari seruan Allah kepada manusia dalam Qs Al Baqarah ayat 22 dan sebelumnya ayat 21 adalah agar manusia menyembah Allah dan jangan mencari tandingan lain selain Allah SwT. Seruan untuk tidak mencari tandingan yang lain atau tidak menyembah yang lain ini setelah Allah SwT memperkenalkan diri sebagai Pencipta manusia, Pencipta Bumi dan Langit yang menjadi fasilitas hidup manusia serta sebagai pemberi rezeki kepada manusia lewat fasilitas yang disediakan Allah SwT kepada manusia.

Tidak layak manusia mencari sesembahan lain sebagai tandingan, setelah Allah memberitahukan hal itu pada manusia. Apakah manusia ingin mencari tandingan Allah dalam hal mencipta manusia? Jika ia, misalnya, lewat bayi tabung, prosesnya pun masih membutuhkan sesuatu yang diciptakan oleh Allah SwT, Itu pun jika Allah tidak menghendaki dan tidak meniupkan ruh ke dalam janin juga tidak akan menghasilkan manusia. Apalagi ingin mencari tandingan dalam hal menciptakan bumi dan langit, tentu tidak akan bisa dilakukan oleh manusia.

Jika masih ada yang mengatakan, manusia bisa membuat hujan buatan. Itu juga hanya mempercepat hujan saja dengan memanfaatkan awan yang sudah ada dan ciptakan oleh Allah SwT lewat proses alami yang memang sudah sunatullah. Coba kalau betul-betul bisa membuat hujan, buatlah awan sendiri dan diarahkan ke satu tempat di mana hujan diharapkan turun. Upaya ini tentu tidak akan membuahkan hasil, selagi membuat hujan dengan memanfaatkan awan yang ada saja tidak seratus persen berhasil sebagaimana mereka kehendaki.

Selagi tidak bisa melakukan tandingan seperti itu, tidak layak manusia membuat tandingan sesembahan selain Allah. Apakah tandingannya itu juga bisa melakukan seperti Allah lakukan itu, tentu tidak akan bisa. Sekali lagi jangan cari tandingan Allah, jangan cari sesembahan selain Allah.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari pelajaran di atas?  Sebagai manusia yang memilih jalan Takwa atau jalan lurus, kita menjadi yakin bahwa satu-satunya sesembahan hanyalah Allah SwT.  Tidak layak mencari sesembahan selain Allah. Hanya kepada Allahlah, kita menyembah (Qs Al Fatihah ayat 5).  Tidak layak kita menyembah Allah tapi masih menyembah yang lain. Apalagi menyembah selain Allah saja. Bisa apa sesembahan yang lain selain Allah. Waallahu a’lam bisshawab  (***)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles