Nabi Sam’un dan Latar Belakang Turunnya Surat al-Qadr

Ilustrasi Dok Takvim

Oleh: Hermawan Toti Aji

Dikisahkan dalah kitab Musyafaqatul Qulub dan Qishashul Anbiyya bahwasannya pada suatu malam di bulan suci Ramadan, Rasulullah saw sedang berkumpul dengan para sahabat, tiba-tiba sahabat melihat Rasulullah saw tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh sahabat “Wahai Rasulullah, kenapa engkau tersenyum sendiri?” lalu dijawab oleh Rasulullah, “telah di perlihatkan kepadaku oleh Allah hari kiamat, ketika seluruh manusia dikumpulkan di padang masyar, ada seorang nabi yang membawa pedang, dan tidak mempunyai umat atau pengikut satu pun, nama nabi itu adalah Sam’un al-Ghazi.”

Nabi Sam’un al-Ghazi berasal dari bani Israil yang kemudian diutus oleh Allah ke tanah Romawi. Dikisahkan bahwasanya nabi Sam’un al-Ghazi ini memiliki rambut yang sangat panjang, bahwa kalau dia berdiri rambutnya sampai menyentuh tanah. Nabi Sam’un al-Ghazi ini pekerjaannya selalu menyampaikan risalah dari Allah swt “laa ilaaha illallah” tiada Tuhan selain Allah. Karena pada waktu itu paganisme atau penyembah berhala sedang menjadi-jadi, maka diberilah nabi Sam’un al-Ghazi ini suatu kelebihan berupa kekuatan yang besar dalam dirinya, yang seharusnya dengan kekuatan yang dimilikinya itu memudahkan dalam melaksanakan dakwahnya, tetapi pada kenyataannya sudah diperlihatkan kekuatannya tersebut tapi tidak ada yang mau mengikutinya satu orang pun.

Mukjizat yang diberikan Allah kepada nabi Sam’un al-Ghazi ini hampir sama dengan mukjizat yang di berikan kepada nabi Dawud, yaitu bisa melunakkan besi, merobohkan tembok, jadi sungguh sangat dasyat kekuatan yang telah diberikan Allah kepadanya. Kalau sekarang ada orang yang berdakwah dengan memiliki kekuatan yang dasyat seperti nabi Sam’un pasti mempunyai pengikut yang banyak. Sementara pada zaman tersebut, bani Israil, orang-orang Romawi, tidak berpengaruh terhadap orang yang hebat dan kuat, mereka hanya mementingkan menyembah berhala saja, dan yang dapat mempengaruhi mereka hanya satu, yaitu harta. Itulah yang menyebabkan nabi Sam’un tidak memiliki pengikut. Tetapi nabi Sam’un ini tidak menyerah, dia terus berjuang dengan pedangnya yang terbuat dari tulang rahang unta yang ditajamkan, dan sangat jarang merasakan haus dan lapar. Nabi Sam’un al-Ghazi ini selain gigih dalam berjuang, ibadahnya juga sangat dasyat. Pada saat malam hari dia selalu beribadah dan pada siang harinya dia berpuasa dan berjihad di jalan Allah.

Baca Juga:   Ketika Syahwat Melupakan Hakikat

Raja bani Israil sangat ketakutan dengan Sam’un al-Ghazi. Dalam jajaran raja beserta petinggi-petinggi lainnya mereka sepakat bahwa, jangan melawan dengan menggunakan kekuatan karena kita sudah pasti akan kalah, terus mereka berfikir dan mendapatkan sebuah ide. Mereka mengadakan sayembara yang barang siapa bisa menangkap Sam’un al-Ghazi hidup-hidup dengan keadaan lemah, maka kami beri harta uang, emas, dan permata yang melimpah. Raja selalu mencari cara untuk mengalahkan nabi Sam’un al-Ghazi, dan akhirnya mendapatkan satu ide lagi yaitu melalui istrinya. Istrinya dipanggil oleh raja dan diberi hasutan.

“Kamu sayang nggak kepada suamimu?” Kata Raja

“Sayang Raja” Sang Istri

“Kamu tahu kan kalau suamimu membuat kami semua takut?” Tanya Raja

“Tahu raja” jawabnya

“Aku ada tawaran untuk kamu, jika kamu bisa tahu kelemahan suamimu, dan berhasil membuatnya lemah, kami akan beri kamu perhiasan, emas, dan permata untukmu” Kata Raja

“Iya Raja, saya siap”. Jawab istri Sam’un.

Lalu diberikanlah kepada istri nabi Sam’un sebuah tali pengikat yang kuat. Pada malam pertama, istri nabi Sam’un melihat nabi Sam’un sholat yang telah disyari’atkan kepadanya dengan lama, sampai sang istri tersebut mengantuk. Sehingga tidak jadi mengikat suaminya yaitu nabi Sam’un.

Lalu pada hari kedua, sang istri berhasil mengikat nabi Sam’un, saat nabi Sam’un terbangun dari tidurnya, dia terheran dan bertanya kepada istrinya,

“Apakah engkau yang mengikat aku wahai istriku?”

“Aku hanya ingin menguji seberapa kuat engkau wahai suamiku.” Jawab istrinya

Namun itu tidak membuahkan hasil. Keesokan harinya, diikat lagi nabi Sam’un oleh istrinya dengan tali yang lebih kuat lagi, namun tidak berhasil. Karena dengan semua itu tidak berhasil, maka dilakukanlah dengan jalan rayuan. Istri nabi Sam’un merayu untuk memberitahu apa yang dapat membuatnya lemah, dan karena sayangnya nabi Sam’un terhadap istrinya, maka diberitahukanlah kelemahannya kepada istrinya. Bahwa kelemahannya adalah jika dia diikat dengan rambutnya maka dia akan lemah.

Baca Juga:   Mengenang Almarhumah Rayudaswati Budi: Bersama Berjuang untuk Kebaikan Sesama

Namun keesokan harinya istri nabi Sam’un mengikatnya dengan ikatan empat helai rambut di kedua tangan dan kaki nabi Sam’un, dan ternyata benar. Nabi Sam’un tidak bisa menghancurkan ikatan tesebut. Lalu dilaporkanlah kepada Sang Raja oleh istrinya. Sehingga nabi Sam’un dibawa ke istana Raja dan diikat di tiang, dan disiksa atau dibunuh secara perlahan dengan cara memotong telinganya, mulutnya, kedua tangannya, dan kedua kakinnya.

Lalu malaikat Jibril turun dan memberi pertanyaan kepada nabi Sam’un,

“Apa yang engkau minta wahai nabiullah?”

Lalu nabi Sam’un menjawab, “Saya ingin minta ampun atas kesalahan yang seharusnya tidak saya beritahukan kepada siapapun termasuk istri saya, dan minta agar kekuatannku dikembalikan hingga saya dapat menggerakkan tiang istana ini”.

Seketika setelah kekuatan nabi Sam’un dikembalikan oleh Allah, hancurlah tiang istana tersebut, dan reruntuhannya menjatuhi masyarakat, raja, dan termasuk istrinya, sehingga meninggal semua, kecuali nabi Sam’un.

Lalu dikembalikan-Nya kedua tangan, dan kaki, mulut juga kedua telinganya, dan nabi Sam’un pun bersumpah akan memberantas kebatilan selama seribu bulan tanpa henti.

Setelah mendengar kisah nabi Sam’un al-Ghazi ini para sahabat menangis terharu, lalu bertanyalah sahabat kepada Rasul.

“Wahai Rasul, sungguh besar sekali ganjaran yang dilakukan oleh nabi Sam’un al-Ghazi, dia berjuang memberantas kebatilan selama seribu bulan, malamnya dia beribadah, dan siangnya dia berpuasa dan berjihad, sedang kami yang lemah ini tidak akan mampu melaksanakan ibadah seperti itu”.

Lalu turunlah malaikat Jibril dengan membawa surat al-Qadr, yang artinya:

1. sungguh kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam qadar.

2. dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

3. malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

4. pada malam itu turun para malaikat dan Roh (jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.