20.6 C
Yogyakarta
Minggu, Juli 5, 2020

‘Aisyiyah Abad Kedua

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Inovasi Mahasiswa FT UM Magelang, Ciptakan Cetakan Gula Jawa Ergonomis

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Pandemi Covid-19 tidaklah menghalangi kreativitas mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Magelang. Terbukti mereka mampu membuat sebuah terobosan teknologi...

Download Logo Milad IPM ke-59

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ikatan Pelajar Muhammadiyah memperingati Milad ke-59 pada tanggal 18 Juli 2020. Pimpinan Pusat IPM telah...

Bantuan FKIP Unismuh untuk Masyarakat Terdampak Banjir Luwu Utara

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Kabupaten...

Kolaborasi dengan BEM, FAI UMY Bantu Mahasiswa Terdampak Pandemi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberikan bantuan donasi kepada mahasiswa terdampak pandemi Covid-19.  Wakil Dekan II...

Nelayan Aceh, Pahlawan Kemanusiaan

LHOKSEUMAWE, Suara Muhammadiyah - Dunia kembali dihebohkan dengan peristiwa para nelayan yang membantu para pengungsi ditengah lautan bebas. Kejadian ini terjadi pada...
- Advertisement -

‘Aisyiyah telah memasuki usia satu abad (1917-2017). Seabad lalu, ‘Aisyiyah telah berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah pergerakan perempuan di Indonesia. Menjadi organisasi perempuan pertama yang menginspirasi gerakan perempuan di tanah air. Banyak kalangan menilai ‘Aisyiyah adalah induk dari organisasi-organisasi perempuan lainnya di tanah air ini. Berbagai kisah sukses ‘Aisyiyah di masa lalu menjadi modal gerakan untuk menapaki awal abad kedua.

Dalam Muktamar 1 Abad ‘Aisyiyah di Makassar (2015), organisasi ini telah merumuskan visi gerakannya memasuki abad kedua. Dalam Pokok Pikiran ‘Aisyiyah Abad Kedua telah dirumuskan visi gerakan perempuan ini memasuki abad kedua: (1) berkembangnya Islam berkemajuan dalam kehidupan masyarakat khususnya lingkungan umat Islam di mana ‘Aisyiyah berada, (2) berkembangnya gerakan pencerahan yang membawa proses pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan, (3) berkembangnya perempuan berkemajuan di lingkungan umat Islam dan bangsa Indonesia maupun ranah global sebagai insan pelaku perubahan menuju peradaban utama yang cerah dan mencerahkan.

Konsep Islam Berkemajuan, sebagaimana tertuang dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua, merupakan ajaran penebar rahmat bagi semesta alam. Islam Berkemajuan merupakan refleksi dari nilai-nilai transendensi, liberasi, emansipasi, dan humanisasi sebagaimana terkandung dalam Surat Ali Imran ayat 104 dan 110. Secara ideologis, Islam Berkemajuan merupakan bentuk transformasi dari tafsir surat Al-Ma’un untuk menghadirkan dakwah dan tajdid secara aktual dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Di abad kedua, ‘Aisyiyah menjadi pusat gerakan pencerahan. Sebagaimana organisasi Muhammadiyah, gerakan ‘Aisyiyah terus mengembangkan pandangan Islam Berkemajuan sekalipun telah melewati konteks sosio-historis yang berbeda. Ideologi Islam yang Berkemajuan melahirkan pencerahan bagi kehidupan. Gerakan pencerahan adalah praksis Islam Berkemajuan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Seabad lebih Muhammadiyah atau seabad ‘Aisyiyah telah mencerahkan kehidupan umat dan bangsa. Gerakan ‘pencerahan’ (tanwir) bertujuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan dari segala bentuk keterbelakangan, ketertindasan, kejumudan, dan ketidakadilan hidup.

Perempuan berkemajuan adalah tipikal atau model bagi para aktivis ‘Aisyiyah. Dalam pandangan Islam, perempuan berkemajuan adalah kehidupan dan derajat perempuan yang sama mulia dengan laki-laki tanpa diskriminasi, yang ukuran kemuliaannya terletak pada tingkat ketakwaannya. Perempuan berkemajuan dalam Islam menjalankan fungsi utama sebagai khalifah di muka bumi, seperti halnya laki-laki. Kehidupan perempuan berkemajuan diwarnai nilai-nilai akhlak yang utama.

Dengan tiga visi utama ‘Aisyiyah di abad kedua, maka gerakan ini telah memiliki modal sosial yang terbentuk selama seabad silam. Modal sosial ditopang dengan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Ke depan, ‘Aisyiyah akan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding seabad silam, tetapi para pimpinan dan kader penerusnya telah jauh-jauh hari merancang-bangun dan meletakkan pondasi ‘Aisyiyah sebagai “gerakan perempuan berkemajuan.” (Abu Aksa)

Sumber: Majalah SM Edisi 12 Tahun 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles