26.1 C
Yogyakarta
Senin, September 21, 2020

‘Aisyiyah Abad Kedua

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Panen Semangka Perdana Giat Tani PRM Tosaren di Masa Pandemi

MAGELANG, Suara Muhammadiyah – Ranting Muhammadiyah Tosaren Cabang Srumbung Magelang Jawa Tengah, selama masa pandemi melakukan kegiatan bertani. Lahan yang dimanfaatkan adalah...

Salurkan Sejuta Liter Air, Lazismu Kretek Bantu Warga Terdampak Kemarau

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Ahad, 19 September 2020, PCM, PRM, dan KOKAM di Kretek yang tergabung dalam LAZISMU Kretek menyalurkan 200 tangki...

Diskusi DPD IMM Kalsel Rumuskan Banua Berkemajuan

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kalimantan Selatan (19/09) Menggelar Konferensi Meja Bundar (KMB) Banua Berkemajuan...

Wisuda UM Cirebon, Haedar Nashir: Beri Manfaat untuk Masyarakat

CIREBON, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menggelar wisuda beserta pelantikan profesi ners tahun 2019/2020 secara daring, Sabtu (19/9).

Penghijauan Langkat, Pemkot Dukung IPM Medan Tanam Ribuan Pohon

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi melepas rombongan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kota...
- Advertisement -

‘Aisyiyah telah memasuki usia satu abad (1917-2017). Seabad lalu, ‘Aisyiyah telah berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah pergerakan perempuan di Indonesia. Menjadi organisasi perempuan pertama yang menginspirasi gerakan perempuan di tanah air. Banyak kalangan menilai ‘Aisyiyah adalah induk dari organisasi-organisasi perempuan lainnya di tanah air ini. Berbagai kisah sukses ‘Aisyiyah di masa lalu menjadi modal gerakan untuk menapaki awal abad kedua.

Dalam Muktamar 1 Abad ‘Aisyiyah di Makassar (2015), organisasi ini telah merumuskan visi gerakannya memasuki abad kedua. Dalam Pokok Pikiran ‘Aisyiyah Abad Kedua telah dirumuskan visi gerakan perempuan ini memasuki abad kedua: (1) berkembangnya Islam berkemajuan dalam kehidupan masyarakat khususnya lingkungan umat Islam di mana ‘Aisyiyah berada, (2) berkembangnya gerakan pencerahan yang membawa proses pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan, (3) berkembangnya perempuan berkemajuan di lingkungan umat Islam dan bangsa Indonesia maupun ranah global sebagai insan pelaku perubahan menuju peradaban utama yang cerah dan mencerahkan.

Konsep Islam Berkemajuan, sebagaimana tertuang dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua, merupakan ajaran penebar rahmat bagi semesta alam. Islam Berkemajuan merupakan refleksi dari nilai-nilai transendensi, liberasi, emansipasi, dan humanisasi sebagaimana terkandung dalam Surat Ali Imran ayat 104 dan 110. Secara ideologis, Islam Berkemajuan merupakan bentuk transformasi dari tafsir surat Al-Ma’un untuk menghadirkan dakwah dan tajdid secara aktual dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Di abad kedua, ‘Aisyiyah menjadi pusat gerakan pencerahan. Sebagaimana organisasi Muhammadiyah, gerakan ‘Aisyiyah terus mengembangkan pandangan Islam Berkemajuan sekalipun telah melewati konteks sosio-historis yang berbeda. Ideologi Islam yang Berkemajuan melahirkan pencerahan bagi kehidupan. Gerakan pencerahan adalah praksis Islam Berkemajuan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Seabad lebih Muhammadiyah atau seabad ‘Aisyiyah telah mencerahkan kehidupan umat dan bangsa. Gerakan ‘pencerahan’ (tanwir) bertujuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan dari segala bentuk keterbelakangan, ketertindasan, kejumudan, dan ketidakadilan hidup.

Perempuan berkemajuan adalah tipikal atau model bagi para aktivis ‘Aisyiyah. Dalam pandangan Islam, perempuan berkemajuan adalah kehidupan dan derajat perempuan yang sama mulia dengan laki-laki tanpa diskriminasi, yang ukuran kemuliaannya terletak pada tingkat ketakwaannya. Perempuan berkemajuan dalam Islam menjalankan fungsi utama sebagai khalifah di muka bumi, seperti halnya laki-laki. Kehidupan perempuan berkemajuan diwarnai nilai-nilai akhlak yang utama.

Dengan tiga visi utama ‘Aisyiyah di abad kedua, maka gerakan ini telah memiliki modal sosial yang terbentuk selama seabad silam. Modal sosial ditopang dengan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Ke depan, ‘Aisyiyah akan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding seabad silam, tetapi para pimpinan dan kader penerusnya telah jauh-jauh hari merancang-bangun dan meletakkan pondasi ‘Aisyiyah sebagai “gerakan perempuan berkemajuan.” (Abu Aksa)

Sumber: Majalah SM Edisi 12 Tahun 2017

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles