Tentang New Normal: Dari yang Tampak Lucu hingga Sadis

Dr. Achyani, M.Si

Saya membayangkan suatu saat nanti, kita belum tahu persis apakah hidup pasca Covid-19 atau bersama Covid-19 selamanya akan ada cara beraktivitas baru dalam banyak bidang kehidupan, dari yang tampak sadis sampai yang lucu. Kita akan berada pada fase New Normal berkehidupan. Tentu saja fase tersebut terasa begitu anomali.

New Normal, muncul sebagai cara atau pola berpikir, bersikap, bertindak, masyarakat yang adaptif dalam menghadapi pandemi Covid-19. Di dalamnya jelas muncul fenomena anxiety disorder, bahkan sudah dimulai dari sekarang ini. Misalnya dalam suatu pertemuan atau pas sholat jama’ah di masjid lalu ada orang batuk-batuk atau bersin, maka akan menjadi perhatian banyak orang. Semua mata menatap penuh curiga ke orang yang batuk-batuk tadi. Padahal jelas batuk itu sebabnya banyak, tapi seolah persepsi masyarakat sudah menghakimi orang tersebut sebagai terindikasi Covid-19.

Mungkin kejadian akan sangat lucu, jika suatu ketika kompetisi liga sepak bola sudah berjalan kembali. Dalam keseruan bertanding sepak bola tiba-tiba ada pemain yang sekedar bersin atau batuk, lalu pemain lawan takut untuk mengawal ketat pemain tersebut karena ingat aturan physical distancing, akibatnya jelas fatal. Pemain tersebut dapat mencetak gol dengan begitu mudah. Atau, lebih fatal lagi dalam suatu pertandingan gulat, ketika lawannya batuk atau pura-pura batuk, maka pemain tersebut akan ragu menyerang lawannya, jelas ini kerugian dan  berpotensi dia akan kalah bukan karena kemampuan teknisnya.

New Normal yang sebenarnya adalah ketidaknormalan bila diteropong dari kehidipupan sebelumnya atau mungkin sesudahnya.

New Normal juga terjadi pada dunia sains. Thomas Kuhn telah mengungkapkan suatu pergantian dari satu paradigma ke paradigma yang lain melalui bukunya: “The structure of Scientific Revolution“. Kekokohan paradigma yang melandasi suatu teori dapat mengalami krisis lalu dianggap sebagai sebuah anomali dan akhirnya runtuh digantikan oleh teori  baru yang sesuai dengan paradigma “New Normal”  yang diyakini oleh masyarakat pada suatu waktu tertentu.

Baca Juga:   Mukidi dan Arus Baru Jamaah Humoriah

Singkat kata, tidak ada kebenaran atau ketidakbenaran; kebaikan atau ketidakbaikan; kepantasan atau ketidakpantasan yang berlaku abadi di dunia ini. Semuanya akan saling dibenarkan  atau disalahkan; akan dianggap baik atau tidak baik; akan dianggap pantas atau tidak pantas sesuai cara pandangan (paradigma)  yang  digunakan masyarakat pada suatu waktu tertentu.

Covid-19 telah menjadi pemicu disrupsi yang begitu dahsyat dalam segala bidang dan level kehidupan: dari yang bersifat private hingga publik; dari urusan perorangan hingga masyarakat bahkan urusan negara.

Pada masa New Normal nanti, mungkin kita juga akan banyak mengalalami keterkejutan budaya (culture shocked) dalam  pelbagai bidang kehidupan. Maka, jangan heran jika suatu saat nanti kita tiba-tiba melihat seorang yang sholat jama’ah ke masjid menggunakan pakaian APD. Demikian halnya kita, jangan terkejut jika suatu saat nanti melihat dosen yang masuk kelas menggunakan masker, pelindung wajah, pelindung mata, pelindung kepala, celemek (apron), baju hamzart, sarung tangan, dan sepatu pelindung.  Itulah yang disebut dosen New Normal.

Dr. Achyani, M.Si., Dosen S2 Pendidikan Biologi PPs UM Metro