Terima Kasih

Oleh : Bagus Kastolani

Kita sangat familiar dengan istilah ini sebagai ungkapan membalas kebaikan orang lain. Sebuah istilah yang terdiri dari dua kata, yaitu TERIMA dan KASIH. Sungguh luar biasa makna yang terkandung dalam istilah yang menyatukan dua kata ini. Secara filosofis maknanya adalah setelah kita meNERIMA kebaikan dari Allah SwT dengan perantaraan orang lain maka kita mengKASIH (memberi) kepada orang lain. Dengan demikian, aliran kasih tersebut dapat terus mengalir kepada orang-orang yang membutuhkan. Ibaratnya, suatu wadah air yang selalu mendapatkan aliran air yang segar karena wadah itu selalu mengalirkan air yang diterimanya.

Dalam ajaran Islam, ucapan terima kasih tersebut merupakan salah satu wujud syukur kepada Allah SwT dan orang lain sebagai perantara kasih sayang Allah SwT. Namun demikian, terima kasih tidak hanya diucapkan dengan lisan namun diwujudkan juga dengan tindakan. Sebagaimana filosofisnya, ketika kita menerima rejeki, barakah dan rahmat Allah SwT maka kita salurkan atau kita kasihkan kepada orang lain lagi. Dan niscaya Allah SwT akan melipatkan gandakan rizki kita yang kita shadaqahkan kepada orang lain sebagai wujud syukur kepada Allah SwT.

Dalam Psikologi, Coleman (2001) menemukan data dalam penelitiannya bahwa orang yang memberi jauh lebih kebahagiaannya sebesar hampir 300% dibandingkan dengan orang yang menerima. Hal ini disebabkan karena sang pemberi mempunyai keinginan untuk membantu atau meringankan kesulitan orang lain (need of nurturance) yang harus dipuaskan hanya jika dengan melakukan tindakan memberikan pertolongan kepada orang lain. Apabila need of nurturance ini terpenuhi maka ia dapat memberikan energi yang besar untuk manusia bertindak yang lain. Dengan kata lain, setelah memberi maka sang pemberi kasih akan mendapatkan motivasi atau semangat untuk melakukan hal-hal positif yang lain.

Baca Juga:   Anies Baswedan Belajar Pemberdayaan Masyarakat ke Muhammadiyah

Mari laksanakan secara istiqomah, yaitu setiap kita menerima kebaikan dari Allah SwT melalui perantaraan orang lain, kita salurkan lagi kebaikan itu hingga Allah SwT memenuhi kita kebaikan secara terus menerus. Yang paling sederhana, tersenyumlah kepada orang lain maka engkau akan mendapatkan terus senyum indah dari orang lain.

Staf pengajar Fakultas Psikologi UNAIR Surabaya, Kader Muhammadiyah