24.8 C
Yogyakarta
Senin, September 21, 2020

Maaf

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Berdayakan Potensi Kader, NA Solo Garap Lumbung Ketahanan Pangan

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pandemi covid-19 yang tak kunjung berakhir dan cenderung makin signifikan pertambahan jumlah pasien yang positif. Konsekuensinya adalah banyak...

LLHPB ‘Aisyiyah DIY: Perhatikan Ketahanan Tubuh dan Gizi Anak Era Pendemi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Webinar Seri 3 Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) DIY dengan tema Edukasi...

Kenaikan Tarif Cukai 30% Hasil Tembakau Untuk Mendukung Pencapaian Target RPJMN Indonesia

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pada 21 September 2020, Center of Human and Economic Development ITB Ahmad Dahlan Jakarta menyelenggarakan konferensi pers untuk...

Pernyataan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tentang Penanganan Pandemi Covid-19

PERNYATAAN PERS PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH NOMOR 20/PER/I.0/H/2020 TENTANG PENANGANAN PANDEMI COVID-19

Pernyataan Pers PP Muhammadiyah: Minta Presiden Pimpin Penanganan Covid-19, Tunda RUU Ciptaker, hingga Tinjau Kembali Pilkada

Pernyataan Pers Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 20/Per/I.0/H/2020 Tentang Penanganan Pandemi Covid-19 Sudah lebih dari enam bulan, bangsa Indonesia...
- Advertisement -

Oleh : Bagus Kastolani

Kapan terakhir kali kita meminta maaf atau memaafkan orang lain? Oh, sebentar lagi lebaran kok… jadi bisa minta maaf atau memaafkan. Jadi minta maaf dan memaafkan hanya setahun sekali. Padahal dosa dan khilaf kita sebagai manusia selalu bertambah dari menit ke menit. Terlalu lama dan terlalu menumpuk kesalahan kita jika meminta maaf hanya setahun sekali.

Atau, saat pertanyaan itu saya lempar kepada seseorang yang pernah disakiti oleh orang lain dan saya tanyakan, “Bisakah kamu memaafkannya?” Hampir sebagian besar menjawab: (1) Enak saja, dia yag menyakiti saya harus menerima balasan yang setimpal dulu, baru saya maafkan; (2) Sudah terlalu sakit hati ini dibuatnya. Biarlah waktu yang akan mengobatinya; (3) Orang lain tidak bisa mengobati hatiku yang terlanjur sakit. Biarlah Tuhan yang mengobati hatiku. Tidak ada gunanya dia minta maaf kepadaku.

Inilah tiga jawaban terbanyak ketika ditanyakan kepada orang lain yang pernah tersakiti oleh orang lain. Rupanya ini gambaran orang yang belum bisa memaafkan orang lain dan move on kepada kehidupan yang lebih baik. Tiga jawaban tersebut juga menggambarkan bahwa memaafkan itu ternyata lebih sulit daripada meminta maaf.

Kenapa orang sulit memaafkan? Seorang tokoh Psikologi yang bernama Sigmund Freud menyatakan bahwa kejadian yang menorehkan luka menyebabkan trauma (traumatic event) yang membekas dan mengganggu kehidupan selanjutnya. Oleh karena itu, seseorang yang tersakiti harus berani kembali kepada kejadian tersebut dan mengakhirinya dengan memaafkan maka ia akan seperti orang yang baru dilahirkan. Coleman (2001) menyatakan bahwa beban berat bagi orang yang pernah tersakiti dan tidak memaafkan karena ia akan selalu terbayangi dengan kejadian masa lalu serta mengganggu aktivitas hidupnya. Sulit memaafkan? Beranilah untuk kembali pada kejadian itu, selesaikan dengan cara memaafkan maka insyaallah Allah SwT akan membalas dengan kebaikan segala ikhtiar kita untuk memaafkan orang lain. Setelah memaafkan, siapakah sekarang yang mempunyai hati paling tenang?

Staf pengajar Fakultas Psikologi UNAIR Surabaya, Kader Muhammadiyah.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles