Tatanan Kehidupan Baru Pasca Pandemi Corona

Oleh: M Munawir,

Guru Di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta

Sebagian orang percaya hidup akan kembali normal setelah pandemi usai. Sebagian lagi menilai bakal ada tatanan kehidupan baru atau yang sering disebut ‘new normal’ karena potensi virus masih akan ada di tengah masyarakat.

Artinya, masyarakat mau tidak mau harus hidup berdampingan dengan virus corona ini, selama vaksin atau obat untuk virus corona belum ditemukan. Ini yang kemungkinan akan terjadi.

Belum lama ini,  Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang memperbolehkan masyarakat usia di bawah 45 tahun untuk kembali menjalankan aktivitasnya.

Hal itu salah satunya untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Berbicara mengenai tatanan kehidupan baru “new normal”, masih banyak yang bertanya-tanya yang dimaksud “new normal” itu sendiri.

Definisi new normal menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, “new normal” adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19,  Achmad Yurianto menegaskan, istilah new normal lebih menitikberatkan perubahan budaya masyarakat untuk berperilaku hidup sehat, (Misalnya) Selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), memakai masker kalau keluar rumah, mencuci tangan, phisical distancing dan seterusnya

New Normal adalah tatanan kehidupan baru untuk menghindari dampak buruk pandemi virus Corona (Covid-19) secara berkelanjutan.

Hal tersebut dikarenakan potensi virus yang masih akan ada di tengah-tengah kehidupan kita, masih terjadinya penularan virus dan belum ditemukan obat ataupun vaksinnya,  padahal disisi lain kita harus tetap beraktivitas,  bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pandemi covid -19 memang telah berdampak pada semua sektor kehidupan manusia. Hampir tidak ada sektor kehidupan manusia yang luput dari pengaruh adanya pandemi covid-19 ini. Hal tersebut tentunya akan memaksa kita untuk menjalankan kebiasaan-kebiasaan baru.

Baca Juga:   KH Fachrodin dan Kaderisasi

Dalam beberapa obrolan, orang-orang sudah mulai memprediksi akan adanya perubahan-perubahan kebiasaan hidup yang ada di tengah masyarakat.

Kalau dulu orang memakai masker agar supaya menghindari debu atau untuk melakukan penyamaran, tetapi saat ini kita terbiasa melihat orang memakai masker dimanapun dan juga sudah muncul berbagai model masker.

Hampir di semua rumah, toko dan perkantoran memasang wastafel untuk cuci tangan. Pengunjung harus cuci tangan sebelum memasuki area toko atau kantor. Masyarakat sudah mulai terbiasa dengan penggunaan handsanitizer. Kantor-kantor dan supermarket juga mengecek pengunjung menggunakan thermogun.

Restaurant, rumah makan atau warung kopi yang biasanya penuh dengan orang yang nongkrong sekarang sepi pengunjung, saat ini orang lebih suka membeli makan dengan cara layanan antar. Pelaku bisnis konvensional juga sudah pada mencoba menawarkan produknya secara on line.

Acara-acara keagamaan dan majlis taklim untuk mendengarkan tausiyah dari para ustadz saat ini menggunakan media on line tanpa harus hadir disuatu tempat dalam rangka menghindari kerumunan.

Para guru sudah mulai terbiasa memberikan tugas kepada siswa-siswanya menggunakan googleclassroom, edmodo, webinar atau aplikasi yang lain.

Rencana seseorang untuk berlibur menjadi tertunda, konon sektor pariwisata adalah sektor yang paling terpuruk akibat pandemi ini. Refreshing lebih banyak dilakukan dengan bercanda dengan anggota keluarga atau berkebun, merawat tanaman dan merawat hewan piaraaan. Ibu-ibu lebih banyak mencoba berbagai resep makanan untuk dimasak sebagai sarana refreshing.  

Acara pernikahan yang biasanya diramaikan dengan kehadiran keluarga dan kerabat dalam sebuah pesta resepsi, kini terpaksa harus ditiadakan, dan hanya boleh dihadiri oleh 10 orang saja. Padahal dulu sebelum pandemi, sebuah pernikahan terasa “tabu” jika tanpa pesta yang melibatkan banyak orang.

Rencana gelaran pilkada serentak juga ditunda. Pastinya dengan pola dan format yang berbeda demi menghindari kerumunan dan pengumpulan masa.

Baca Juga:   Murji’ah: Menjauhi Konflik

Beberapa rencana konser musik, pagelaran teater, pameran hasil karya seni juga dibatalkan. Para musisi menggelar konsernya juga memanfaatkan media online.

Kolam renang, tempat kebugaran, area bermain anak menjadi tempat yang dihindari karena kekhawatiran terpapar virus disana.

Kesadaran makan sayur dan buah untuk menjaga stamina juga meningkat, dibuktikan dengan meningkatnya permintaan komoditi tersebut.

Yang mungkin akan terjadi perubahan adalah pada tata ruang kantor, sekolah atau bangunan tempat umum. Pemasangan pintu otomatis akan menjadi trend supaya mereka tidak memegang handle pintu.

Ketergantungan dengan teknologi mulai sangat terasa. Ketersediaaan paket data internet, Kecepatan internet menjadi kebutuhan pokok.

Bukan tidak mungkin pasca pandemi kita justru nyaman dengan hidup yang terlanjur bergeser. Menjalani sebuah kebiasaan baru yang tanpa sengaja mengalami perubahan. Itulah yang disebut tatanan kehidupan baru.

Maka dari itu diperlukan kesiapan mental, wawasan dan pengetahuan dalam menghadapi tatanan kehidupan baru ini, yang tentunya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang telah di tetapkan selama menjalani kehidupan dimasa “new normal” dengan budaya baru.