24.8 C
Yogyakarta
Senin, September 21, 2020

Jangan Dengerin

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Berdayakan Potensi Kader, NA Solo Garap Lumbung Ketahanan Pangan

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pandemi covid-19 yang tak kunjung berakhir dan cenderung makin signifikan pertambahan jumlah pasien yang positif. Konsekuensinya adalah banyak...

LLHPB ‘Aisyiyah DIY: Perhatikan Ketahanan Tubuh dan Gizi Anak Era Pendemi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Webinar Seri 3 Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) DIY dengan tema Edukasi...

Kenaikan Tarif Cukai 30% Hasil Tembakau Untuk Mendukung Pencapaian Target RPJMN Indonesia

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pada 21 September 2020, Center of Human and Economic Development ITB Ahmad Dahlan Jakarta menyelenggarakan konferensi pers untuk...

Pernyataan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tentang Penanganan Pandemi Covid-19

PERNYATAAN PERS PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH NOMOR 20/PER/I.0/H/2020 TENTANG PENANGANAN PANDEMI COVID-19

Pernyataan Pers PP Muhammadiyah: Minta Presiden Pimpin Penanganan Covid-19, Tunda RUU Ciptaker, hingga Tinjau Kembali Pilkada

Pernyataan Pers Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 20/Per/I.0/H/2020 Tentang Penanganan Pandemi Covid-19 Sudah lebih dari enam bulan, bangsa Indonesia...
- Advertisement -

Oleh : Bagus Kastolani

Suatu saat, ada sekelompok katak yang menggelar lomba lari dengan tujuan melompat dan memanjat hingga ke puncak menara yang sangat tinggi. Ketika bendera start dikibarkan mulailah katak-katak kecil dengan kaki-kaki yang kecil itu mulai lari dan berlomba untuk mencapai puncak suatu menara yang sangat tinggi. Penonton mulai bersorak dan mengatakan, “Nggak mungkin katak-katak kecil dengan kaki kecil itu bisa mencapai puncak menara yang sangat tinggi.” Banyak katak kecil yang berguguran dan gagal mencapai puncak menara tersebut. Penonton tetap bersorak dengan berkata demikian lagi. Pada saat katak kecil lainnya berguguran, ada satu katak kecil yang dengan mantap menaiki puncak menara tersebut. Tanpa kenal menyerah, dia berhasil menjadi satu-satunya katak pemenang yang dapat mencapai puncak menara itu. Banyak orang yang bertanya, bagaimana cara katak itu bisa menjadi pemenang? Silahkan menjawab dulu sebelum membaca bagian sebelumnya.

Sebagian besar orang menjawab rahasia katak itu adalah motivasi: pantang menyerah, doa, menaiki temannya, menggunakan dopping, ada hadiah di menara tersebut. Namun semua jawaban itu belum tepat. Ternyata katak itu adalah katak tuli. Katak tuli? Iya, katak tuli. Karena ia tidak pernah mendengarkan kata-kata yang menurunkan motivasi dirinya, seperti yang diteriakkan oleh para penonton tadi. Dia tidak mendengar dan tetap melanjutkan langkahnya, saat katak-katak lain yang tidak tuli mendengarkan teriakan penonton yang justru melemahkan semangatnya.

Jika kita analogikan dalam kehidupan kita, banyak kata-kata dari lingkungan sosial yang justru membuat kita demotivasi. Contohnya, “Nggak mungkin kamu jadi, nggak mungkin kamu sukses melewati ini, kamu pasti gagal, nggak mungkin kamu bisa meraih tujuan dan cita-citamu karena kamu itu tidak kompeten.” Dan kata-kata lainnya yang meremehkan kita atau memandang kita secara negatif. Jika kita mendengarkan kata-kata itu, maka kita akan membenarkan teriakan orang lain dan menginternalisasi kebenaran itu dalam diri kita. Akibatnya, demotivasi ini yang membuat kita benar-benar gagal dalam mencapai tujuannya. Inilah yang disebut labeling dalam psikologi, yang artiya kita cenderung membenarkan label negatif dari lingkungan sosial. Oleh karena itu, jadilah kata tuli. Jangan dengerin kata-kata negatif orang lain yang dapat membuat kita demotivasi. Huwallahu a’lam bi showab.

Staf pengajar Fakultas Psikologi UNAIR Surabaya, Kader Muhammadiyah.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles