New Normal Life Pasca Pandemi Covid-19

Ferry Fadzlul Rahman

Pada masa COVID-19 ini, tantangan besar bagi kebanyakan dari kita adalah bagaimana melindungi diri kita sendiri dan keluarga kita dari virus dan bagaimana mempertahankan pekerjaan kita.  para pembuat kebijakan memutar kepala mereka memperbaiki perekonomian yang hancur akibat wabah ini.

Dengan lebih dari 3 juta kasus dan sekitar 217.000 korban virus sampai saat ini secara global, dan kehilangan yang diperkirakan setara dengan 305 juta pekerjaan di seluruh dunia pada pertengahan tahun, taruhannya tidak pernah lebih tinggi. Pemerintah terus “mengikuti sains” dalam mencari solusi terbaik sambil mencari manfaat nyata dari kerja sama internasional yang jauh lebih besar dalam membangun respons global yang diperlukan untuk tantangan global selanjutnya. Pemerintah telah berupaya keras untuk mengurangi penyebaran virus ini melalui berbagai kebijakan, termasuk menghimbau masyarakat untuk tetap tinggal di rumah, meliburkan sekolah dan kantor, serta yang terakhir memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diusulkan daerah ke Pusat.

Tetapi dengan perjuangan melawan COVID-19 yang harus dimenangkan, muncullah perilaku baru dampak dari adaptasi manusia terhadap pandemi ini yang disebut “New Normal Life”

Pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan relaksasi PSBB dimana pelonggaran aturan social distancing yang sebelumnya diberlakukan guna menekan laju penyebaran virus corona sudah mulai dilakukan.

Seperti yang terlihat di Taiwan, pemerintah setempat sudah mulai membuka kembali gedung-gedung perkantoran dan fasilitas publik. Sekolah rencananya juga akan dibuka secara bertahap. Selain Taiwan Korea Selatan, juga mulai melonggarkan aturan social distancingnya dengan mengizinkan pedagang kecil, ritel, dan restoran untuk membuka kembali usahanya.

Penggunaan masker kini menjadi hal yang wajib saat berada di ruang publik, pelaku usaha seperti restoran juga mulai mengatur jarak meja makan dan membatasi jumlah pengunjung. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa Covid-19 telah benar-benar mengubah cara hidup manusia. Sesuatu yang sebelumnya tidak lumrah dilakukan kini menjadi sebuah kewajaran dan bahkan kewajiban.

Baca Juga:   KHA Dahlan, Sang Revolusioner Yang Bijaksana

New normal life adalah bagian dari exit strategy setiap negara dalam menghadapai pandemi corona dimana strategi yang diterapkan selama belum ditemukannya vaksin atau obat untuk virus corona. Strategi utama yang disarankan badan kesehatan dunia ( WHO) tentu saja test, tracing, treat, dan isolate. “Pembatasan jumlah kerumunan, batasan jarak, keharusan memakai masker di manapun dan bisa dilakukan skrining suhu di tiap kantor atau mall atau sekolah,

New normal life membuat masyarakat lebih perhatian dengan Kesehatan dan kebersihan diri sebagai contoh sebelum makan harus mencuci tangan mengunakan sabun, menutup mulut saat batuk dan bersin, menganti baju saat kembali kerumah, konsumsi vitamin dan susu meningkat serta  hal yang sangat sulit untuk di terapkan masyarakat sebelum wabah

Selain itu, di trasportasi publik juga terdapat pengaturan mengenai jumlah penumpang dalam transportasi, penting untuk diatur posisi duduk atau berdirinya dan diukur juga suhunya. Transportasi publik juga wajib dibersihkan dengan disinfektan setiap harinya.

Dalam prilaku berbelanja juga terjadi pergeseran pola berbelanja dari konvensional menjadi online, saat pandemic masyarakat lebih banyak memasak di rumah karena banyak yang bekerja di rumah (Work from Home)

Segi Pendidikan pun berdampak sekolah atau kampus pun banyak yang ditutup, dengan kedatangan virus baru seperti covid-19 ini seketika dunia telah terhenti. Dengan adanya virus covid-19 ini metode pembelajaran merujuk pada pembelajaran secara online dengan banyak menggunakan aplikasi seperti panggilan video yang mempertemukan dengan dosen kepada mahasiswanya. Metode pembelajaran online ini merupakan alternatif terbaik karena mejaga perkuliahan tetap berjalan seperti biasanya.

Inilah yang mendefinisikan normal yang lebih baik yang harus menjadi warisan abadi dari darurat kesehatan global tahun 2020.

Ferry Fadzlul Rahman, Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Baca Juga:   Politik di Arab, Agama di Indonesia (2)