Membeli Waktu

Dr. M. G. Bagus Kastolani

Ghazali seorang manager di kantornya baru tiba jam 9 malam di rumahnya. Seperti biasanya, Rakha, putranya, yang membuka pintu. Nampaknya ia sudah menunggu ayahnya cukup lama. “Kok belum tidur?”, sapa Ghazali sambil mencium anaknya. “Aku menunggu Ayah pulang, sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”… Rakha menjawab sambil terus mengikuti ayahnya. “Lhooo.. kok tanya gaji ayah? Apa mau minta uang lagi?”, tanya Ghazali. Rakha menggelengkan kepala. “Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja, Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”, penjelasan sang ayah. Rakha berlari mengambil kertas dan pensilnya kemudian mengikuti ayahnya ke kamar, “Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti 1 jam ayah digaji Rp 40.000,- dong”. Ayah menatapnya dengan senyum, “Wah, pinter kamu. Sudah sekarang cuci… tidur!”

Rakha tidak beranjak… “Ayah aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”. “Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.” Kesabaran Ghazali habis dan menghardik Rakha. Rakha pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Ghazali menyesal dan menengok Rakha di kamarnya. Ternyata Rakha belum tidur dan sedang terisak pelan… Di tangannya ada uang Rp 15.000,- “Ayah aku nggak minta uang… aku hanya ingin pinjam… nanti aku kembalikan kalau aku sudah menabung lagi dari uang jajanku minggu ini.”, jelas Rakha sambil terisak. “Iya… iya… tapi buat apa?, kejar Ghazali. “Aku menunggu ayah dari jam 8. Aku mau ajak ayah main ular tangga. 30 menit saja… ibu sering bilang kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku ada Rp 15.000,-. Ayah bilang 1 jam dibayar Rp 40.000,- … ½ jam harus Rp 20.000,-. Makanya aku pinjam Rp 5.000,- dari ayah”.Ghazali terdiam… Ia kehilangan kata-kata… Dipeluknya Rakha dengan erat.

Baca Juga:   Masjid Portabel Hadir di Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020

Rakha termasuk anak yang bisa mengungkapkan keinginannya dengan baik. Namun ada pula anak yang tidak bisa mengungkapkan keinginannya untuk bersama dengan orang tuanya dengan baik. Jangan biarkan anak kita membeli waktu kita untuk kebersamaan yang hanya sejenak. Bukankah kita bekerja untuk keluarga kita? Manusia yang sehat secara psikologis adalah manusia yang mempunyai work life balance untuk dirinya, bekerja, ibadah, sosial dan keluarga. Berikan waktu kita secara gratis dengan kualitas terbaik untuk keluarga kita… sebagai motivator kita dalam bekerja dan beraktivitas lainnya.

Huwallahu a’lam bi showab.

Staf pengajar Fakultas Psikologi UNAIR Surabaya, Kader Muhammadiyah