27 C
Yogyakarta
Jumat, Agustus 14, 2020

Perpisahan yang Tidak Diharap

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Dosen UMY Lakukan Pendampingan Manajemen Infaq Masjid

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Program Pengabdian Masyarakat merupakan implemetasi catur dharma perguruan tinggi. Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah...

Uji Sertifikasi Kompetensi untuk Penyunting Naskah atau Editor

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Uji Sertifikasi Kompetensi Skema Penulisan buku non fiksi, Penyunting Naskah/Editor, Penyunting Substantif kerjasama Program Studi Magister Pendidikan IPS,...

Pengabdian Masyarakat, Dosen FEB UMY Suburkan KWT Amanah ‘Aisyiyah Bausasran

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Isthofaina Astuty bersama dengan Meika Kurnia Pudji RDA, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas...

Peran Penting Pemasaran Ritel Perspektif Akademisi Internasional dan Praktisi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Guna menambah wawasan dan pengalaman praktis mahasiswa, International Program of Management and Business (IMaBs), prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah...

Pimpinan Madrasah Mu’allimin dan PUTM Lepas Kader Pengabdian di Sumpur Kudus

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Bertempat di Masjid Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, 14 Agustus 2020, pimpinan Madrasah Muallimin dan Pendidikan Ulama...
- Advertisement -

Abdul Muin Malilang

Cahaya mentari perlahan mulai merayap di cakrawala ufuk barat. Ia akan menghantarkan seberkas cahaya akhir bulan agung Ramadhan 1441 H. Balutan gemerlap itu seakan berpamitan dengan manusia muslim seluruh jagad yang barusan ia bersamai selama tiga puluh hari.

Semburan cahayanya sedikit demi sedikit mulai meredup dari  hamparan langit biru. Dan langit pun seolah enggan melepas kepergiannya. Langit bagai bersedih berpisah dengan cahaya keagungan. Di saat berbagai jenis fauna kembali ke sarang dan sangkar untuk beristirahat, bersamaan itu pula aneka flora kembali dalam dekapan malam, ketika itulah suara para mu’adzin terdengar menggelegar melalui pegeras suara dari menara masjid dan mushalla. Artinya, waktu maghrib telah tiba. Makna hakikinya,  Ramadhan 1441 H. telah berlalu.

Kepergian Ramadhan ditangisi oleh kaum beriman, karena merasa begitu kehilangan momentum emas untuk ber-tazkiyatun nafs. Pupus  sudah waktu melipatgandakan ganjaran kebajikan, sirna sudah bulan pembakaran aneka dosa, salah dan khilaf. Bulan yang begitu dirindu nurani insan humanistik dan imani, karena kesadaran akan tumpukan dosa yang demikian menghantui.

Sementara di sisi lain, kebajikan dan kesyukuran kita atas segala nikmat dari Allah SWT begitu minimalis. Bahkan syukur nikmat demikian kita abai, sedangkan kufur nikmat demikian terpelihara. Perbedaan antara keduanya begitu terjal.

Kini, orang-orang yang mengisi bulan Ramadhan dengan baik, sedikit memiliki perasaan gembira bercampur rindu. Namun bagi yang agak menyia-nyiakannya, relung hatinya mungkin diliputi penyesalan dan hanya dapat mengidamkan bertemu dengan Ramadhan 1442 berikutnya. Sebuah pertemuan yang masih dibingkai tanda tanya.

Selamat jalan syahrun mubarak. Semoga kita dapat memelihara amal kebajikan selama Ramadhan seraya berharap pula Allah SWT. masih berkenan mempertemukan kita di tahun 1442 H.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles