26.1 C
Yogyakarta
Senin, September 21, 2020

Tolong, Batalkan Rencana Shalat Idulfitri Berjamaah Itu,…

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Panen Semangka Perdana Giat Tani PRM Tosaren di Masa Pandemi

MAGELANG, Suara Muhammadiyah – Ranting Muhammadiyah Tosaren Cabang Srumbung Magelang Jawa Tengah, selama masa pandemi melakukan kegiatan bertani. Lahan yang dimanfaatkan adalah...

Salurkan Sejuta Liter Air, Lazismu Kretek Bantu Warga Terdampak Kemarau

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Ahad, 19 September 2020, PCM, PRM, dan KOKAM di Kretek yang tergabung dalam LAZISMU Kretek menyalurkan 200 tangki...

Diskusi DPD IMM Kalsel Rumuskan Banua Berkemajuan

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kalimantan Selatan (19/09) Menggelar Konferensi Meja Bundar (KMB) Banua Berkemajuan...

Wisuda UM Cirebon, Haedar Nashir: Beri Manfaat untuk Masyarakat

CIREBON, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menggelar wisuda beserta pelantikan profesi ners tahun 2019/2020 secara daring, Sabtu (19/9).

Penghijauan Langkat, Pemkot Dukung IPM Medan Tanam Ribuan Pohon

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi melepas rombongan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kota...
- Advertisement -

Himbauan untuk tidak menyelengarakan shalat idulftri di masjid maupun tanah lapang sudah bermunculan dari berbagai pihak. Himbauan itu keluar bukan dari pembenci Islam tapi dari para pihak yang kadar kecintaan dan amal nyatanya pada agama Islam tidak perlu diragukan.

Namun, di beberapa tempat masih saja terdengar kabar yang mengabaikan himbauan itu dengan berbagai alasan masing-masing. Semua alasan itu  sebenarnya tidak ada yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah maupun diniyah.

Ada yang jumawa menolak himbauan itu karena tidak takut pada ancaman virus corona, ada yang merasa bisa menakhlukkan penyebaran covid-19 dengan protokol kesehatah yang disiapkan ala kadarnya, ada pula yang merasa daerahnya aman karena merasa masih berada di zona hijau dan tidak pontensi penularan. Namun, ada pula yang mengabaikan seruan itu dengan tanpa ilmu, terprovokasi kekonyolan aneka teori konspirasi.

Memang, sebagai orang Islam, kita pasti merasa ada sesuatu yang hilang dan tidak afdhal ketika tidak menunaikan shalat idulfitri secara berjamaah besar di lapangan atau masjid. Namun karena keadaan darurat Covid-19, semua itu terpkasa kita jalani dengan cara yang berbeda dari biasanya, dengan shalat Idulfitri di rumah atau kediaman masing-masing bagi yang menghendakinya.

Walau sebenarnya kita juga tahu bahwa hukum shalat idulfitri itu sendiri tidak wajib ain. Tanpa bermaksud meremehkan derajat dan keutamaan shalat id, kita juga tahu bahwa apabila kita terpaksa tidak menunaikan karena keterbatasan yang ada, tidaklah menjadi dosa atau terkena ancaman agama karena shalat Idulfitri merupakan ibadah sunnah. Apalagi dalam situasi pandemi seperti ini. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr KH Haedar Nashir Sabtu pagi tadi juga menyatakan hal yang hampir sama. (https://www.suaramuhammadiyah.id/2020/05/23/tanggapan-haedar-nashir-terkait-zonasi-penyebaran-covid-19/).

Oleh karena itu, tolong segera hentikan perdebatan apakah daerah kita ini masuk zona hijau atau merah kalau hanya sekedar untuk mencarai alasan pembenar untuk menyelenggarakan shalat id di tanah lapang. Karena sesunguhnya di seluruh wilayah NKRI saat ini, tidak ada lagi zona hijau penularan covid-19. Semua daerah yang semula hijau, secara substansial dapat berubah menjadi zona merah karena mobilitas warga kita yang memang sangat tidak dapat terkontrol menjelang hari raya ini. Belum lagi, jangkauan test yang telah dilakukan juga masih teramat sangat kecil dibanding dengan jumlah populasi yang ada.

Boleh jadi banyak di antara kita yang saat ini merasa baik-baik saja, sebenarnya sudah menjadi pembawa virus corona ini namun belum ketahui, tapi bisa meyebarkan ke siapapun yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, saat mengeluarkan fatwa tentang tuntunan ibadah di masa covid-19, (https://www.suaramuhammadiyah.id/2020/04/06/tuntunan-pp-muhammadiyah-tentang-ibadah-dalam-kondisi-darurat-covid-19/) Muhammadiyah tidak membedakan daerah geografis berlakunya fatwa itu. Dengan kata lain fatwa ini berlaku di seluruh wilayah NKRI.

Berpijak dari ini semua alasan di atas, sesunguhnya sudah tidak alternatif lain bagi warga masyarakat, khususnya bagi warga Muhammadiyah selain menaati dan mengikuti kebijakan dan maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk tidak melaksanakan shalat idul fitri di lapangan atau masjid dan tempat berkerumun lainnya. Agar mata rantai penularan virus ini dapat diputus.

Sikap seksama dan waspada ini juga sejalan dengan prinsip sadduẓ-ẓarīʻah (tindakan preventif) guna menghindarkan kita jatuh ke dalam kebinasaan seperti diperingatkan dalam Al-Quran (QS Al-Baqarah/2: 195) dan demi menghindari mudarat seperti ditegaskan dalam sabda Nabi saw, dari Ibn ‘Abbās bahwa Rasulullah saw bersabda yang artinya: Tidak ada kemudaratan kepada diri sendiri dan tidak ada kemudaratan kepada orang lain [HR Mālik dan Aḥmad].

Oleh karena itu, kalau pada saat ini masih ada warga apalagi Pimpinan Muhammadiyah yang masih berencana menyelenggarakan atau berencana mengikuti shalat idulfitri secara berjamaah di lapangan atau masjid, tolong segera urungkan rencana itu. Tolong jangan tambah cluster baru penyebaran virus ini, apalagi kalau cluster baru ini nanti ada yang bernama Muhammadiyah.

Memang mati dan ajal itu di tangan Allah, namun bagaimanakah kita harus bertanggungjawab di hadapan Allah nanti kalau secara sadar kita ikut memfasiltasi penyebaran virus berbahaya ini. Sekali lagi, tolong urungkan rencana shalat idulfitri secara berjamaah di tanah lapang/masjid untuk tahun ini, demi kebaikan sesama. (mjr-8)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles