Menangkap Hikmah Kehidupan dengan Hati Nurani

Judul Buku : Jaring Kearifan : Bahagianya Berislam dengan Santun

Penulis : Prof Dr Dadang Kahmad, MSi

Tebal : xviii, 216 Halaman

Ukuran : 11 x 15 cm

Cetakan : I, Mei 2017

Penerbit : Suara Muhammadiyah

Hidup manusia mengikuti sunatullah. Ada kalanya gembira dengan berbagai anugerah dan kenikmatan. Ada kalanya susah dengan berbagai musibah dan kegagalan. Manusia tidak selamanya sukses dan lancar dalam hidupnya. Ada kalanya gagal dan penuh dengan kesukaran. Semua itu, harus dihadapi dengan kesadaran. Sementara, bagi manusia yang selalu berkeluh kesah. Berburuk sangka pada dirinya, orang lain, bahkan Tuhan. Serta menghabiskan waktunya dengan ratapan kesedihan akan merasakan waktu terasa lama, berputus asa, dan jauh dari bahagia.

Manusia memiliki naluri untuk mencintai harta dan kehidupan duniawi. Kecintaan itu sesuatu yang wajar, tetapi apabila berlebihan, kecintaan itu akan membuat serakah dan tamak, kikir, serta melampaui batas. Serta, melupakan tugas utama kehidupan, menjadi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Harta yang diperoleh selama hidup merupakan rezeki yang diberikan Allah untuk bekal beribadah. Digunakan untuk kepentingan kehidupan di dunia dan terutama digunakan untuk mempersiapkan kehidupan kekal abadi di akhirat kelak. Harta yang disedekahkan atau diwakafkan akan menjadi harta abadi, bermanfaat bagi yang beramal, bahkan kepada keluarganya.

Kaum muslimin diberikan tuntunan agar selalu menyisihkan sebagian rezeki untuk berinfak, bersedekah, berwakaf, dan berzakat, serta menafkahi keluarga. Dalam kisah teladan diceritakan para sahabat banyak menafkahkan hartanya demi kejayaan agama. Mereka berlomba-lomba menginfakkan harta kekayaannya untuk perjuangan Islam. Salah satunya kisah masyhur yang banyak dikutip dalam berbagai buku sejarah Islam tentang kedermawanan Abdurrahhman bin Auf.

Apa yang disampaikan di atas, hanyalah sebagian kecil dari apa yang ditulis dalam buku ini. Sebagaimana dikatakan oleh Prof Dr Syafiq A Mughni, MA bahwa isi buku ini menyentuh dan mencerahkan. Gaya bahasanya enak dan mengalir bak sungai yang jernih dan sejuk. Pesanpesan moralnya dengan jelas mengajak kita berislam dengan santun dan bermartabat. Pengalaman hidup penulisnya yang memadukan intelektualisme dan aktivisme dalam satu tarikan napas mewarnai caranya bertutur dengan kata-kata yang bernas.

Baca Juga:   Revolusi 4.0 Harus Segera Direspon Mahasiswa Muhammadiyah

Tidaklah berlebihan apa yang dikatakan Syafiq A Mughni, karena penulis buku ini tidak hanya matang dalam teori namun juga sudah teruji dalam menjalankan ilmunya dalam kehidupan nyata. Pengetahuannya tentang sosiologi agama, yang disandingkan dengan pengalamannya dalam memimpin dunia akademik dan lembaga sosial inilah yang oleh Dadang Kahmad dijadikan jaring kearifan. Dijadikan sarana untuk menangkap hikmah kehidupan. Jaring yang nyaris sempurna ini dapat dikatakan mampu menangkap berbagai persoalan zaman. Berbagai masalah yang kadang sumber dan solusinya nyaris tidak disadari selalu bersama hidup kita. “Buku ini hebat. Tidak mudah menulis begini”, komentar Prof Dr Ahmad Tafsir, MA guru besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selamat membaca. (Imron Nasri)

Sumber: Majalah SM Edisi 12 Tahun 2017