Muhammadiyah atau Pemerintah

Ilustrasi Dok Axios

Oleh: Muhammad Ferdi

Muhammadiyah melanjutkan perjuangannya melawan Covid-19. Berbeda dengan pemerintah yang mulai desas-desus memilih jalan “damai” dengan Covid, Muhammadiyah tetap mengambil langkah tegap melawan.

Sebenarnya “damai” bukan jalan terbaik, tapi melawan dari dalam rumah juga bukan solusi mumpuni. Semua menjadi serba salah. Keputusan yang di ambil berefek pada konsekuensinya masing-masing. Sama-sama baik dan sama-sama tidak baik.

Jika Pemerintah putuskan jalan “damai” lalu siapa yang bertanggung jawab atas kesehatan 260 juta warga indonesia. Padahal dalam kondisi ini pemerintah dengan segenap kekuatan yang dimiliki harus dikerahkan untuk melindungi warganya.

Memang jalan damai membuat kebutuhan dapur sedikit banyak jadi lebih kondusif. Tapi kesehatan jadi taruhan, karena kita seperti bertinju tapi mata kita yang di tutup, jelas tak mudah untuk menang meskipun sudah ada protokol penanganan. Tapi jika ikut Muhammadiyah untuk melawan dari rumah. Berapa lama Muhammadiyah mampu bertanggung jawab atas perut jutaan warga persyarikatannya. Meskipun pada akhirnya negatif Covid, tapi jadi positip “kelaparan”.

Tidak mudah memang menangani pandemi ini, semua tahu. Karenanya yang diberi amanah untuk memimpin jangan menambah gaduh ruang-ruang kehidupan masyarakat. Jaga mulut dan jari-jarinya. Jangan sampai keputusan yang telah diputuskan justru diputus warganya sendiri karena tidak puas atas rasionalisasi yang dilemparkan ke ruang publik.

Warga miskin tentu merasa tidak relevan dengan keputusan untuk tetap patuh pada #dirumahsaja, “Kami yang miskin bisa apa dengan di rumah saja,” gerutunya. Dan mereka yang kaya tidak cukup konyol untuk berdamai lalu menjadi santapan pandemi. Karena sama saja melepas diri di mulut harimau yang lapar.

Pada akhirnya masing-masing kita berjalan di jalan yang paling realistis bisa kita jalani hari ini, tanpa sikut kanan kiri yang tidak senada. Gaung Muhammadiyah mengenai melawan dari #rumahsaja menjadi tidak mutlak, sedang desas-desus “berdamai” juga tidak bisa benar-benar kita peluk mesra.

Baca Juga:   Tentang New Normal: Dari yang Tampak Lucu hingga Sadis

Selamat berjuang melawan pandemi dan “perut kosong” semoga aku dan kalian bagian dari orang-orang yang mendapat kabar gembira karena telah bersabar. “Innalilahi wa innailaihi rojiun”.

Muhammad Ferdi, Pemuda Muhammadiyah Watukebo