Makna “Idul Fitri” yang Disakralkan

Dalam kamu Lisnul al ‘Arab al Muhiit karangan Ibnu Mandhzur  yang berarti kullu yaumin fihi jam’un (hari kapan dikala orang-orang berkumpul). Sedangkan dalam kamus al Muhiit Vol.2 hal. 1109 berarti kebalikan puasa atau berbuka puasa. Demikian pula dalam kamus Lane’s Arabic Lexion yang ditulis oleh Edward Lane, berarti festival, atau ceremony. Demikian dengan arti kata dari “fitr” yang berarti berbuka puasa.

Namun, dari analisis yang saya cari diberbagai kamus yang ”standar”, saya tidak menemukan arti dari idul fitri sebagai suci sebagaimana yang selama ini disalahartikan oleh umat Muslim di Indonesia pada umumnya. Dapat disederhanakan, bahwa idul fitri merupakan hari raya (merayakan berbuka puasa). Maka dalam hal ini, konotasi merayakan agak kurang pas. Lebih tepat  bahwa hari raya diartikan sebagai Hari raya berbuka Puasa, yaitu suatu hari hari yang terjadi setelah menjalankan puasa selama satu bulan.

Berbeda dengan anggapan yang beredar dimasyarakat bahwa idul fitri berarti kembali suci. Suatu perubahan makna yang menuju proses sakralisasi Idul fitri dari hari raya berbuka puasa yang menjadi kembali suci. Oleh karena itu, perlu kita kembalikan pada makna aslinya.

Memang, jika ditelusuri lebih lanjut dari hadis-hadis yang ada, bahwa pada Idul Fitri ini banyak orang menjadi suci kembali setelah mendapat ampunan Allah SWT. Namun, tidak pula sampai menjadikan arti Idul Fitri yang berarti ‘Hari Raya Berbuka Puasa’ menjadi  ‘Kembali Suci’. Hal ini membuat rancu jika banyak pertanyaan mengenai apa makna sebenarnya dari Idul Fitri.

Jika ada yang mengartikan “Idul Fitri” sebagai “Kembali Suci” maka arti itu sudah berupa takwil (arti yang jauh dari kata aslinya), barangkali dengan alasan bahwa orang yang  telah berpuasa selama bulan Ramadhan dengan Iman dan “kesadaran diri” dosanya akan diampuni  oleh Allah (lalu menjadi suci, InsyaaAllah).

Baca Juga:   Halo Surabaya, Ketua PP Muhammadiyah Berkhotbah di Lapangan Hoky Gubeng

Kata “Ied” yang berarti Hari Raya memang memiliki arti kata yang sama dari akar kata  “Ied” yang berarti ‘kembali’ yakni, ‘aada – ya’uddu yang berarti kembali. Dari kata ini muncul kata “Ied’”, arti dari kembali merujuk kepada suatu festival atau hari raya yang berulang secara periodik. Namun, jika kita kembalikan pada kata  ‘ayyada – yu’ayyidu bermakna merayakan atau mengadakan perayaan bukan mengembalikan jika arti sebenarnya kembali.

Selain makna dari kata Idul Fitri yang disalah artikan oleh masyarakat Muslim di Indonesia, dalam tradisi silaturahim saat Idul fitri kita juga sering mendengar kata “Minal ‘Aidin Wal Faizin”. Yakni kata ‘Aidiin yang diartikan sebagai “orang-orang yang kembali” atau “orang yang merayakan hari raya”.  Dalam konteks ini, arti yang kedualah yang lebih tepat. Barangkali ucapan selengkapnya ialah :

Ja’alanallaahu wa Iyyakum Minal Minal ‘Aidin Wal Faizin”, artinya “Semoga Allah menkadikan kami dan kamu sekalian termasuk orang-orang yang bisa merayakaan Hari raya dan orang-orang yang berhasil atau menang (melawan hawa dan nafsu selama Ramadhan). (rahel)