Kak Seto: Indonesia Dibekap Covid-19, Disekap Bahaya Rokok

Ilustrasi Dok Kaiser Health News

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Seto Mulyadi dari Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia ikut menyampaikan pidato pada agenda Gelar Budaya Amal Muhammadiyah, Sabtu (30/05) malam tadi. Agenda ini diselenggarakan oleh LazisMu dan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) serta pihak lainnya dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei.

Dalam pidato singkatnya Seto Mulyadi, atau biasa akrab disapa Kak Seto, menyampaikan bahwa situasi Indonesia saat ini tidak hanya sedang dibekap oleh pandemi virus Corona, melainkan juga disekap oleh rokok. Ia juga mengkritik industri rokok yang masih gencar mengiklankan produknya di tengah situasi seperti ini.

“Situasi saat ini, kita selain dibekap oleh virus corona, kita juga masih disekap, dicekik oleh rokok. Kita menyadari bahwa saat covid-19 pun masih merajalela, tetapi industri rokok masih tetap gencar menghipnosis masyarakat dengan iklan-iklannya di berbagai situasi” jelas Seto Mulyadi.

Menurut penuturannya, berdasarkan hasil penelitian di Universitas Tazmania Australia bahwa perokok memiliki 14 kali risiko lebih besar meninggal dunia akibat Covid-19. “Ini menunjukkan kekhawatiran kita, pemerintah malah tidak mengampanyekan untuk stop rokok dalam menghadapi Covid-19 ini. Bahwa perokok juga menghadapi risiko infeksi yang lebih tinggi” tegas Seto Mulyadi.

“Ini (red: situasi pandemi Covid-19) sebetulnya menjadi saat yang terbaik atau alasan yang memadai bagi pemerintah untuk bergerak cepat guna membendung bahaya rokok,” tambahnya.

Pemerintah juga dinilainya belum berhasil menurunkan jumlah perokok belia. Hal ini kemudian ada kaitannya dengan bagaimana iklan-iklan mempengaruhi remaja.

Ia mengutarakan bahwa iklan-iklan rokok di Indonesia telah melakukan apa yang dalam ilmu psikologi disebut sebagai disonansi kognitif artinya ialah menggandengkan sesuatu yang bersifat negatif dengan sesuatu yang positif. “Menggandengkan yang buruk dengan yang baik. Nah yang buruk ini ialah rokok. Rokok jelas racun kimia yang membunuh, tapi kemudian digandengkan dengan sesuatu yang membanggakan lewat iklan-iklan. Seperti olahraga, petualangan, persahabatan, kreativitas dan sebagainya” terang Seto Mulyadi. Dalam hal ini yang kemudian menjadi target utama ialah remaja atau anak-anak muda.

Baca Juga:   Perayaan Hari Tanpa Tembakau Sedunia: Rokok dan Corona

Di akhir pidatonya Seto Mulyadi mengajak semua elemen masyarakat untuk tidak hanya berjuang melawan Covid-19 melainkan juga menabuh genderang perang melawan rokok. Ia kemudian menegaskan pula bahwa rokok tidak layak menjadi bagian dari new normal Indonesia. (ran)