31 C
Yogyakarta
Selasa, Juli 7, 2020

Muhammadiyah dan Kesehatan Bangsa

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ta’awun Sosial PRA Wirobrajan Berbagi Sesama

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Wirobrajan mengajak masyarakat untuk Sedekah Jariyah Peduli Covid-19 dengan cara yang unik. Bertajuk “Ihlas Berbagi...

Webinar IMM STIT Muhammadiyah Bojonegoro Bahas Arah Pendidikan di Masa Pandemi

BOJONEGORO, Suara Muhammadiyah - Menyikapi Arah Pendidikan dan Isu Reshuffle Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ahmad Dahlan STIT Muhammadiyah Bojonegoro gelar Webinar Nasional....

Haedar Nashir: Umat Islam Harus Paham Sejarah dan Menjaga Moderasi Pancasila

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila menuai polemik. Pimpinan Pusat Muhammadiyah berpendapat bahwa RUU HIP tidak terlalu...

Guru SD MI Muhammadiyah Kenteng Trainer Software Berbasis Komputasi Awan

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah - Microsoft 365 adalah produk layanan berlangganan yang ditawarkan oleh Microsoft sebagai bagian dari lini produk Microsoft Office....

Raker SD Muhammadiyah 2 Kota Langsa, Seralaraskan Visi Misi

KOTA LANGSA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah 2 Kota Langsa terus bersiap memasuki tahun ajaran baru 2020 – 2021.  Diawali Rapat Kerja...
- Advertisement -

Judul                     : Muhammadiyah Membangun Kesehatan Bangsa, Sehat Badannya Sehat Jiwanya

Penulis                 : Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Penerbit              : MPKU PP Muhammadiyah

Tebal, ukuran    : xi + 329 hlm, 14 x 21 cm

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menjalankan misi dakwah dan tajdid sejak awal telah memelopori pembaruan di bidang pembangunan kesehatan bangsa, selain gerakan di bidang pembaruan keagamaan, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Gerakan kesehatan dan kemasyarakatan tersebut dilembagakan melalui amal usaha rumah sakit, poliklinik, balai kesehatan, dan pembinaan kesehatan masyarakat dalam pelembagaan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang memiliki landasan kokoh pada Al-Ma’un. (hlm 1)

Secara sosiologis Kiai Dahlan melakukan pembongkaran (dekonstruksi) atas kesadaran beragama yang tumpul pemihakannya terhadap kaum lemah, yaitu melalui pengamalan Surat Al-Ma’un. Umat Islam hafal benar dengan surah ini, namun Kiai Dahlan melihat bahwa waktu itu tidak melahirkan apa-apa dari hafalan tersebut terutama dalam kehidupan umat Islam dan warga masyarakat. Al-Ma’un tidak diamalkan dalam kehidupan nyata umat Islam untuk benar-benar memberdayakan anak yatim dan orang miskin. Dari dialektika pelajaran Al-Ma’un itulah kemudian PKO hadir.

KH Ahmad Dahlan, dalam dakwahnya bergerak dengan metode modern. Kala itu tradisionalisme masih sangat mendominasi bahkan melekat pada umat Islam. Pemikiran yang berkembang di masyarakat ialah bahwa modernitas merupakan ajaran kaum kolonial sehingga haram untuk diterapkan. Namun Kiai Dahlan, bergerak bersama persyarikatannya, memodernisasi layanan kesehatan yang kala itu bagi pribumi hanya terlayani secara tradisional. Bentuk modernisasi ini ialah berdirinya klinik dan juga rumah sakit yaitu PKO. Dalam hal ini, Muhammadiyah lah yang pertama kali menyadarkan masyarakat untuk sadar pada kesehatan dengan menggunakan pendekatan medis bukan pendekatan mistis. (hlm 20-25)

Muhammadiyah di usia 1 abad lebih ini telah menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkelanjutan. Saat ini tercatat Muhammadiyah telah menghadirkan pelayanan kesehatan dalam bentuk 134 rumah sakit dan 231 klinik yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Muhammadiyah juga telah menyelenggarakan pendidikan bagi tenaga kesehatan melalui institusi pendidikan kesehatan. Pelayanan kesehatan oleh Muhammadiyah juga kian pesat berkembang dan merambah pada kerja sama secara internasional dengan negara-negara lain.

Bertahun-tahun ikut mengabdi pada bangsa dari segi pelayanan kesehatan, tentu Muhammadiyah, pernah mengalami jalan-jalan sulit. Walau sama-sama berkhidmat untuk melayani kesehatan masyarakat, antara Muhammadiyah dan pemerintah, acapkali menyusuri jalan yang bersimpangan di arah yang berbeda. Dalam buku ini dijelaskan bahwa setidaknya persimpangan tersebut bisa terbaca pada persoalan program KB, sengketa UU Rumah Sakit, dan terakhir terkait program jaminan kesehatan.

Buku ini terbagi atas tiga bagian pembahasan. Pertama mendeskripsikan tentang perjalanan sejarah pada kiprah Muhammadiyah di bidang kesehatan sekaligus paparan tentang nilai-nilai ideologis yang mendasari dan tertanam dalam upaya Muhammadiyah pada pelayanan kesehatan bangsa. Bagian kedua diberi judul “Menebar Amal untuk Kesehatan Bangsa” yang menjelaskan yang telah dilakukan serta capaian yang dihasilkan oleh para kader, anggota dan juga simpatisan Muhammadiyah dalam hal menggiatkan usaha di bidang kesehatan. Bagian ketiga, berbicara tentang bagaimana sikap dan posisi Muhammadiyah di tengah berbagai isu kesehatan dan pelayanan kesehatan di kalangan masyarakat Indonesia. (Rosania Ayu Ningtyas)

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 6 Tahun 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles