Buya Syafii Maarif dan Palestina

Oleh: Hasnan Bachtiar

Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii), adalah cendekiawan Muslim garda depan Nusantara. Ia juga dikenal sebagai profesor sejarah dan peradaban Islam.

Karir akademiknya yang gemilang didapatkannya setelah belajar di negeri Paman Sam. Setelah lulus dari Universitas Ohio, ia berguru kepada Fazlur Rahman, seorang Muslim reformis asal Pakistan, yang duduk di Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Di dunia aktivisme, ia pernah menjadi nahkoda Muhammadiyah, sebelum periode Haedar Nashir dan Din Syamsuddin. Dan kini, ia dianggap sebagai bapak bangsa yang gigih memperjuangkan pentingnya kesetaraan, keragaman dan perdamaian.

***

Sebagai seorang pribadi, ia berpembawaan tenang. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ia adalah sosok yang gelisah. Masalah kehidupan, keadilan dan kemanusiaan, selalu menjadi bahan kegelisahannya. Tidak terkecuali adalah masalah penjajahan Palestina, yang sejak tahun 1940an hingga saat ini, tidak kunjung mendapatkan hak kemerdekaannya.

Dalam perkara Palestina ini, sebagian kalangan memahami bahwa Buya Syafii cenderung utopis. Ia adalah orang yang tidak canggung mengritik Israel. Ia lantang, terang-terangan dan tidak memberikan ruang sedikit pun untuk bernegosiasi.

Ketika berbicara solusi mengenai “perang abadi” Palestina-Israel, ia cenderung menjauhi segala perspektif yang realis. Terutama, yang menekankan pentingnya kalkulasi politik pragmatis dan berbagai kemungkinan menggunakan hal itu sebagai instrumen perdamaian.

Tentu saja, sebagaimana halnya Gus Dur, Buya Syafii adalah orang yang berdiri tegak memihak Palestina. Namun, berbeda dengan sahabatnya itu, ia meyakini bahwa mustahil “solusi dua negara” bisa menumbuhkan buah perdamaian permanen di antara kedua belah pihak.

Setelah secara tekun mengkaji lembar demi lembar catatan sejarah Palestina-Israel, ia menyimpulkan bahwa, segala bentuk perjanjian damai yang ada, yang menetapkan koeksistensi kedua negara, selalu dikhianati oleh kedua belah pihak.

Karenanya, ia menawarkan sebuah tesis, bahwa satu-satunya jalan untuk memastikan adanya perdamaian yang hakiki adalah melalui “solusi negara tunggal”. Yakni, menyatakan Palestina Raya sebagai satu-satunya negara yang sah dan berdiri di sana.

***

Ada beberapa argumentasi yang mendukung pendapat Buya ini. Pertama, menurutnya, Zionisme dan segala perilaku rasis-imperialistiknya, perlu dikecam. Karena sangat destruktif dan dehumanistik.

Baca Juga:   Masjid Quba’ Pilar Peribadatan dan Peradaban Islam

Kedua, konflik yang berkepanjangan, melahirkan krisis kemanusiaan yang serius. Khususnya di pihak yang lemah. Bagi Buya, masalah ketidakadilan terhadap Palestina seharusnya tidak hanya menjadi tanggunjawab bangsa Arab, kaum Muslim dan Islam. Namun, juga orang-orang Yahudi yang taat.

Ketiga, secara demografis, pertumbuhan populasi Palestina tidak bisa ditekan. Karena itu, generasi muda Palestina akan menyebar di tengah-tengah populasi Israel. Mereka akan melebur menjadi satu.

Keempat, kekuatan-kekuatan regional di Timur Tengah, selalu saja mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi. Tidak heran jika dengan demikian, mereka gemar ikut campur (secara merugikan) berkaitan dengan urusan Palestina-Israel. Buya Syafii juga percaya bahwa, intervensi dan pengaruh asing harus dihentikan. Sebab kalau tidak, hal itu akan memperparah pertikaian yang ada.

***

Resistensi Buya terhadap Zionisme semakin menguat, ketika ia bergumul dengan pemikiran radikal seorang intelektual Yahudi, aktivis politik dan musisi, Gilad Atzmon (lahir 1963). Sebagai seorang Yahudi yang taat, Atzmon sendiri yakin bahwa Zionisme sebagai sebuah ideologi adalah hal yang tidak berprikemanusiaan, imperialistik dan cenderung rasis.

Atzmon semasa mudanya pernah menjadi tentara Israel. Saat itulah ia secara langsung menyaksikan betapa ketidakadilan dan penindasan dilakukan oleh orang-orang Israel terhadap rakyat Palestina terus-menerus tanpa henti.

Kendati kakeknya adalah seorang komandan Irgun (pasukan khusus Israel) yang sangat mendukung gagasan revisionis Ze’ev Jabotinsky, pandangan kritis Atzmon menyatakan bahwa, kaum Zionis tidak akan pernah menjadi pemilik sah Eretz Yisrael (tanah Israel yang dijanjikan).

Dalam perbincangannya dengan Atzmon, Buya pernah menanyakan “Apakah ada kemungkinan bagi Zionisme untuk menjadi ideologi yang cenderung memanusiakan manusia dan menghormati nilai-nilai humanisme universal?” Atzmon menjawab dengan lantang. “Itu tidak akan pernah terjadi!”

Sebenarnya menurut Buya, Palestina-Israel tidak boleh dipandang sekedar sebagai masalah politik semata-mata. Tentu saja, karena konflik yang bertahun-tahun berlangsung telah membawa kepada krisis kemanusiaan yang luar biasa. Korban-korban manusia berjatuhan dari kedua belah pihak.

Baca Juga:   Kunjungi PP Muhammadiyah, Menlu Retno Bahas Langkah Indonesia untuk Palestina

Ketika orang-orang Palestina menderita betul karena penindasan yang diterimanya, di sisi Israel, mereka menuduh segala perlawanan yang dilakukan oleh mereka yang tertindas adalah tindakan teror. Karena kebencian yang tak berkesudahan inilah, maka Buya menyadari bahwa sebenarnya masalah konflik ini bukan sekedar masalah bagi kedua belah pihak, namun juga masalah umat manusia seluruhnya, semua bangsa dan agama.

Buya mengatakan bahwa, “Konflik ini tidak hanya menjadi urusan perbedaan etnis, kaum Muslim dan orang-orang Arab. Karena itu, solusi bagi konflik tersebut, menjadi tanggungjawab bukan hanya kaum Muslim Palestina, namun juga kaum Yahudi.” Sentimen yang demikian, secara konsisten diekspresikan oleh Buya dalam berbagai goresan penanya.

Sesaat setelah Presiden Amerika, Donald Trump mengumumkan bahwa Jerusalem menjadi ibu kota Israel, Buya menulis sebuah artikel yang bertajuk, Palestina, Nasibmu! di Republika (2017). Melalui tulisannya itu, ia mengecam segala pernyataan Trump, karena telah menggerus segala harapan perdamaian di antara kedua negara. Tapi di saat yang sama, ia juga menyatakan bahwa, dunia sedang melihat hal ini dan akan timbul banyak dukungan untuk Palestina.

Buya berhemat bahwa, perdamaian Palestina Israel sebenarnya merupakan hal yang mungkin. Tapi harus ada dua syarat yang dipenuhi: yakni Israel harus mengembalikan tanah yang dicaploknya setelah perang 1967 dan negara-negara Arab di sekitar harus menjamin kedaulatan dan keamanan nasional Israel.

Namun, kedua syarat itu sepertinya sukar dipenuhi. Buya melihat bahwa kaum Zionis tidak akan pernah mengakui hak dan kemerdekaan Palestina. Karenanya, yang ia pikirkan adalah penjajah Israel harus angkat kaki dari tanah yang telah didudukinya.

Bagaimana caranya, jika Israel juga bersikeras menolak meninggalkan tanah jajahannya? Menurut Buya, secara demografis, populasi rakyat Palestina meningkat pesat. Artinya, ketika mereka membaur dengan orang-orang Israel, maka suatu saat, tidak menutup kemungkinan tanah leluhur mereka akan kembali ke genggaman.

Kendati demikian, jalan kultural ini, harus diiringi oleh gerak yang revolusioner. Terutama, untuk menghambat laju imperialisme yang terjadi. Terlebih bahwa, sebagai seorang sejarawan, Buya meyakini kebenaran teori evolusi peradaban. Yakni, peradaban yang berkuasa, suatu saat bisa tumbang dan akan digantikan oleh yang lain, meskipun melalui proses yang berlangsung lama.

Baca Juga:   Syafii Maarif: Simposium Suara Muhammadiyah Penting di Tengah Situasi Dunia yang Kurang Nyaman

Hal lain yang disoroti Buya adalah kekuatan-kekuatan internasional dan regional di Timur Tengah yang senantiasa “menggunakan” konflik Palestina Israel sebagai instrumen politik di kawasan. Bahkan negara-negara Muslim di sana, hanya peduli masalah sumber daya energi dan keamanan. Termasuk pula Iran dan Turki, yang sebenarnya terlalu pragmatis, sehingga