Manusia Memusuhi Perkara yang Tidak Diketahui; Catatan Kecil Tentang Buya Syafii Maarif

Oleh: Abduh Hisyam

Tahun 1983. Majalah Tempo melaporkan Muktamar NU di Situbondo. Majalah Berita Mingguan yang dilanggan bapak saya itu mengutip pernyataan Ahmad Syafii Maarif tentang muktamar dan dinamika NU. Saya sangat terkesan dengan ulasan beliau. Sejak saat itu saya mengira Buya Syafii tokoh NU. Waktu itu saya duduk setingkat di kelas 3 SMP. Dari obrolan dengan bapak saya kelak saya tahu Buya Syafii adalah orang Muhammadiyah.

Beberapa waktu kemudian saya menemukan sebuah buku kecil bertajuk “Duta Islam untuk Dunia Modern”, karya Syafii Maarif bersama Mohammad Diponegoro. Buku kecil itu mengenalkan pembaca kepada pemikiran Muhammad Iqbal dan Muhammad Assad, penyusun tafsir “The Message of Quran.” Tulisan Pak Syafii lugas dan memotivasi pembacanya untuk banyak membaca.

Buya Syaffi tampil di dunia intelektual Islam Indonesia bersamaan waktunya dengan Abdurahman Wahid, Nurcholis Majid, Amien Rais, Dawam Rahardjo, dan Djohan Efendi. Semua sudah wafat, kecuali Buya Syafii dan Amien Rais. Keduanya tamatan Universitas Chicago dan keduanya aktif di Muhammamdiyah, dan pernah menjadi ketua umum PP Muhammadiyah. Wajar jika masyarakat selalu membandingkan antara Buya Syafii dan pak Amien Rais.

Dibandingkan dengan Buya Syafii, Amien Rais lebih banyak dikenal oleh warga Muhammadiyah. Di samping karena sering datang berceramah di Ranting-Ranting, Amien Rais mengenali dan mampu mempengaruhi pola pikir warga Muhamadiyah. Beliau mampu mengartikulasikan gagasannya dengan bahasa agama yang sederhana dengan mengutip banyak ayat Al-Qur’an. Ceramahnya dan tekanan bahasanya pas bagi warga Muhammadiyah. Amien Rais juga sangat lugas dan statemennnya sangat disukai para wartawan karena selalu layak kutip. Perkataan Amien Rais selalu layak menjadi headline koran. Penampilan Amien Rais di hari tuanya yang selalu berbaju koko dan berkopiah menambah citra kesalehan.

Baca Juga:   dr H Kusnadi Penggerak Kesehatan dan Layanan Sosial

Buya Syafii tidak sama dengan Amien Rais. Ia akademisi dan menganggap audiensnya adalah orang-orang kampus yang terbiasa dengan perbedaan pendapat. Padahal warga Muhammadiyah sebagian besar adalah awam di bidang wacana agama. Literasi kebanyakan keagamaan warga Muhammadiyah tidak tinggi. Mereka tidak terbiasa dengan perbedaan pendapat dan lebih menyukai keseragaman. Sikap Buya yang acapkali tidak sejajar dengan pendapat mayoritas warga dianggap sebagai penyimpangan dan akibatnya Buya menuai banyak kecaman. Umpama saja pembelaan Buya terhadap JIL, JIMM, Ahok, serta pilihan politik kepada Jokowi.

Beberapa hari sebelum kehadiran Buya Syafii di masjid PKU Muhammdiyah Sruweng atas undangan dr Hasan Bayuni (direktur RS yang alumni Mualilimin Muhammadiyah Yogyakarta), beberapa grup di medsos heboh. Banyak tulisan bernada miring tentng Buya Syafii. “Antek Jokowi,” “pro Ahok,” “tokoh liberal,” dan lain-lain.

Saat pertemuan dihelat, saya berharap para pengecam Buya yang saya lihat hadir di pertemuan tersebut angkat bicara dan menyerang Buya, mumpung Buya hadir di tengah mereka. Sebagai moderator pertemuan saya pancing mereka untuk bicara. Ternyata usai mendengar ceramah Buya, mereka terdiam. Tak tampak tanduk dan taring mereka. Padahal di medsos bukan main keras mereka mengolok-olok dan mengecam Buya. Rupanya para pengecam Buya tidak cukup punya argument untuk berdebat. Jadi mereka pilih diam saja. Itulah sesungguhnya tipe sebagian besar masyarakat kita.

Barangkali mereka sesungguhnya belum mengetahui jalan pikiran Buya seutuhnya. Mereka hanya mendengar sepotong-sepotong. Setelah mendengar langsung dari Buya, mereka pun sadar dan faham. Benar pepatah arab:

الناس اعداء ما جهلوا
(Manusia memusuhi perkara yang tidak ia ketahui)

Abduh Hisyam, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kebumen Jawa Tengah