31 C
Yogyakarta
Selasa, Juli 7, 2020

Pesan untuk Para Sarjana

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ta’awun Sosial PRA Wirobrajan Berbagi Sesama

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Wirobrajan mengajak masyarakat untuk Sedekah Jariyah Peduli Covid-19 dengan cara yang unik. Bertajuk “Ihlas Berbagi...

Webinar IMM STIT Muhammadiyah Bojonegoro Bahas Arah Pendidikan di Masa Pandemi

BOJONEGORO, Suara Muhammadiyah - Menyikapi Arah Pendidikan dan Isu Reshuffle Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ahmad Dahlan STIT Muhammadiyah Bojonegoro gelar Webinar Nasional....

Haedar Nashir: Umat Islam Harus Paham Sejarah dan Menjaga Moderasi Pancasila

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila menuai polemik. Pimpinan Pusat Muhammadiyah berpendapat bahwa RUU HIP tidak terlalu...

Guru SD MI Muhammadiyah Kenteng Trainer Software Berbasis Komputasi Awan

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah - Microsoft 365 adalah produk layanan berlangganan yang ditawarkan oleh Microsoft sebagai bagian dari lini produk Microsoft Office....

Raker SD Muhammadiyah 2 Kota Langsa, Seralaraskan Visi Misi

KOTA LANGSA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah 2 Kota Langsa terus bersiap memasuki tahun ajaran baru 2020 – 2021.  Diawali Rapat Kerja...
- Advertisement -

Oleh: Diko Ahmad Riza Primadi

Menjadi sarjana ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Sebagaimana tayangan di TV, berjalan lalu dihamparkan karpet merah laksana kepala negara yang disambut ramai rakyatnya. Atau paling tidak sudah dijamin hidupnya, makan, minum, tempat tinggal, jalan-jalan, dan seluruh kebutuhan manusia modern yang tidak akan pernah ada habisnya. Sayangnya cerita itu hanya ada di negeri dongeng, negeri para penghayal yang seolah dapat menciptakan dunianya sendiri dengan kekuatan imajinasi.

Menurut banyak motivator yang saya jumpai lewat buku yang saya baca bahwa kekuatan pikiran sangat berpengaruh kepada kesuksesan hidup seseorang. Pernyataan tersebut lambat laun mulai saya temukan jawabannya. Apa gunanya belajar sampai pada jenjang tertinggi jika pola pikir belum terbentuk dan tidak membuat seseorang semakin dewasa. Lalu untuk apa titel sarjana jika hanya membuat orang semakin pesimis terhadap masa depannya. Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi kepada kita.  

Konon, belajar merupakan proses seseorang untuk mencari kebenaran dan tujuannya menjadi orang baik. Bukan untuk mencari pengakuan dengan sederet gelar yang mentereng. Belajar adalah jalan menuju kemuliaan dan kemajuan. Membaca, menulis, mengamati, meneliti, mengkaji, berlogika, berdebat, mengajar, berbagi, menolong sesama dan lain sebagainya. Seiring dengan bergantinya zaman dan generasi, orientasi belajar pun berubah. Dunia pendidikan dewasa ini telah menjadi ladang bisnis bagi setiap orang. Siapa yang ingin belajar harus mau membayar. Fasilitas yang didapatkan pun menyesuaikan dengan kantong masing-masing. Semuanya dapat diatur asalkan ada uang yang dijanjikan. Hal ini tentu tidak dapat kita pungkiri sekarang.

Dulu, yang cerdas sangat dihormati dan dijunjung tinggi. Sekarang, yang berduit diutamakan. Maka tidak mengherankan jika sekolah hari ini memiliki peran tambahan selain mencerdaskan juga mencetak kapitalis-kapitalis baru. Bagi sarjana yang telah matang cara berpikirnya, cerdas, memiliki banyak keterampilan di dunia kerja, serta ditunjang dengan nama univesitas bergengsi tentu memiliki masalahnya sendiri. Tidak mencari kerja pun sudah banyak yang meminta disana-sini. Ingin berprofesi ini, itu dan menempati posisi tertentu. Pergi ke sekolah dengan harapan mendapatkan sebanyak-banyaknya di masa mendatang. Ada yang sekolah lalu menindas dan merampas hak orang lain, semoga kalian tidak.

Bagi sebagian orang, sulitnya mencari lapangan kerja menjadi faktor utama tidak dirasa bergunanya gelar sarjana. Belajar bertahun-tahun dirasa tidak memiliki dampak berarti terhadap karir masa depan. Mulai dari menggambar dan mewarna sesuka hati, mengeja abjad, berhitung angka hingga melakukan penelitian dan menulis jurnal ilmiah telah dilalui. Sering kali merelakan waktu tidur untuk menyelesaikan tugas perkuliahan yang menumpuk. Namun semua itu belum cukup untuk menempatkan seseorang kepada pekerjaan yang layak dan sesuai dengan yang diinginkan. Inilah lika-liku kehidupan seorang sarjana muda yang belum menemukan dirinya.

Dunia perkuliahan bukan lagi tempat untuk bersifat kekanak-kanakan. Segala sesuatu telah ada tempat dan waktunya. Perguruan tinggi merupakan kawah condro dimukonya pendidikan. Kampus adalah tempat untuk mengenal diri sendiri. Mengamati dan meneliti siapa kita sebenarnya. Setiap mahasiswa harus mampu mengenali dirinya secara menyeluruh. Pertanyaan yang harus dijawab setiap masing-masing individu, kenapa dan untuk apa kita dilahirkan ke muka bumi?

Sehingga sebelum di wisuda seorang mahasiswa diharapkan telah menemukan dirinya dan siap berjuang untuk umat dan bangsa. Menjadi sarjana adalah dambaan bagi setiap orang. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya menyandang gelar sarjana. Harapan tinggi menjadi manusia yang berguna terus mereka gantungkan dalam doa untuk anaknya. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia yang lain.

Semuanya belum terlambat wahai sarjana muda. Cepatlah berlari dan kenali dirimu. Segala sesuatu akan mudah dan terlihat jelas jika kita tahu siapa diri ini sebenarnya. Tidak akan ada yang mampu menghalangi langkahmu kecuali dua hal, ridho kedua orang tua dan kematian. Manusia berangan-angan lebih panjang dibandingkan umur yang mampu mereka perjuangkan. Jika telah tentu arahmu wahai pengembara, bukankah engkau menginginkan sebuah kepulang yang mengharukan.

Diko Ahmad Riza Primadi, Reporter Suara Muhammadiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles