31 C
Yogyakarta
Selasa, Juli 7, 2020

Quo Vadis Fortasi Daring?

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ta’awun Sosial PRA Wirobrajan Berbagi Sesama

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Wirobrajan mengajak masyarakat untuk Sedekah Jariyah Peduli Covid-19 dengan cara yang unik. Bertajuk “Ihlas Berbagi...

Webinar IMM STIT Muhammadiyah Bojonegoro Bahas Arah Pendidikan di Masa Pandemi

BOJONEGORO, Suara Muhammadiyah - Menyikapi Arah Pendidikan dan Isu Reshuffle Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ahmad Dahlan STIT Muhammadiyah Bojonegoro gelar Webinar Nasional....

Haedar Nashir: Umat Islam Harus Paham Sejarah dan Menjaga Moderasi Pancasila

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila menuai polemik. Pimpinan Pusat Muhammadiyah berpendapat bahwa RUU HIP tidak terlalu...

Guru SD MI Muhammadiyah Kenteng Trainer Software Berbasis Komputasi Awan

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah - Microsoft 365 adalah produk layanan berlangganan yang ditawarkan oleh Microsoft sebagai bagian dari lini produk Microsoft Office....

Raker SD Muhammadiyah 2 Kota Langsa, Seralaraskan Visi Misi

KOTA LANGSA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah 2 Kota Langsa terus bersiap memasuki tahun ajaran baru 2020 – 2021.  Diawali Rapat Kerja...
- Advertisement -

Oleh : Fathin Robbani Sukmana

Pandemi Covid-19 hingga saat ini belum juga pergi dari Indonesia, beberapa daerah di Indonesia sudah melakukan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) transisi karena tren kasus positif yang mulai landai atau tidak bergerak naik sehingga beberapa fasilitas umum mulai kembali dibuka.

Hingga tanggal 05 Juni 2020 Pukul 18.01, Covid.go.id merilis kasus positif menjadi 29521, Sembuh 9443, serta meninggal 1770. Walaupun beberapa fasilitas umum akan segera di buka, tapi sekolah dan perguruan tinggi masih dalam tanda tanya.

Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan pihaknya belum dapat memastikan kapan sekolah masuk dan semua keputusan ada di gugus tugas covid-19, namun Kemendikbud telah siap dengan berbagai skema.

Fortasi daring mungkinkah?

Definisi fortasi menurut buku pedoman ranting IPM adalah rangkaian  kegiatan  yang  terprogram  secara  sistemik untuk menumbuhkembangkan minat, bakat, dan potensi siswa dalam  rangka  pengenalan  terhadap  dunia  pendidikan,  sekolah dan organisasi. siswa diharapkan dapat bersikap kritis, memiliki kepekaan  sosial,  mampu  berkarya  secara  kreatif,  serta  terlibat dalam segala aktivitas yang ada di sekolah.

Sedangkan maksud dan tujuan fortasi adalah membentuk pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka mengembangkan kesadaran dan potensi diri untuk selalu kreatif dan peka terhadap lingkungan sosialnya terutama  pada  persoalan  pendidikan,  demi  terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Fortasi sejak tahun 2010 sudah tidak ada budaya bullying, bahkan dituntut untuk peka terhadap lingkungan sosial. Tentu secara tidak langsung fortasi selain ajang pengenalan sekolah tetapi juga ajang pengembangan diri.

Namun tentu fortasi tahun ini sepertinya dilaksanakan secara daring tidak dilaksanakan sama sekali, tergantung dari kebijakan dari Gugus tugas dan juga kemendikbud akankah sekolah melaksanakan kegiatan belajar dan juga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau fortasi.

Bidang Perkaderan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah sudah melaksanakan rapat koordinasi dengan seluruh Pimpinan Wilayah IPM se-Indonesia perihal fortasi daring, entah apa hasil rapat tersebut namun sepertinya  fortasi daring akan dilaksanakan.

Ada beberapa catatan jika fortasi daring tetap dilaksanakan. Pertama, fortasi daring akan sedikit mengurangi esensi fortasi seperti kedisiplinan, kepekaan sosial serta hal-hal yang hanya bisa dilakukan secara langsung.

Karena fortasi daring hanya bisa mencangkup kognitif saja, penyampaian materi, diskusi serta tidak dapat melihat pengembangan peserta secara langsung. Bisa saja peserta tetap hadir di layar namun ternyata ia memperhatikan layar yang lain.

Kedua, fortasi daring belum bisa dilakukan secara menyeluruh di sekolah Muhammadiyah se Indonesia mengingat masih banyak daerah yang kesulitan akses internet, bahkan telepon seluler saja tidak punya, bagaimana akan melakukan fortasi daring?

Tentu hal seperti ini juga harus menjadi pertimbangan sehingga IPM dapat berbuat adil terhadap pelaksanaan fortasi di tengah pandemi seperti ini. Jangan sampai IPM terlalu fokus kepada satu hal lalu melupakan hal lainnya.

Ketiga, memberatkan fasilitator, tentu konsep fortasi daring hingga saat ini belum menemui titik terang, sedangkan Pimpinan Cabang atau Pimpinan Ranting sudah waktunya mempersiapkan fasilitator dengan mengadakan pelatihan fasilitator.

Sehingga bidang perkaderan bersama tim fasilitator cabang harus bekerja keras menyiapkan pelatihan serta konsep fortasi daring secara teknis di lapangan karena belum adanya konsep teknis secara rinci untuk Pimpinan Cabang serta Pimpinan Ranting

Catatan-catatan tersebut sangat perlu diperhatikan oleh seluruh Bidang Perkaderan dari tingkat pusat hingga daerah sehingga pelaksanaan fortasi tahun ini bisa terlaksana dengan baik.

Bersiap dengan kondisi yang berubah

Ya tentu saja, Bidang Perkaderan dari tingkat Pusat hingga Daerah harus berpikir secara keras dalam waktu yang singkat untuk mempersiapkan fortasi, apakah akan secara daring ataupun tidak mengingat belum adanya kepastian sekolah akan masuk secara normal ataupun secara daring.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk tetap menyukseskan fortasi tahun ini, Pertama, IPM harus cepat memetakan daerah berdasarkan zona yang ditetapkan oleh pemerintah, mengingat sudah banyak daerah yang kembali menjadi zona hijau.

Selain itu IPM tingkat daerah harus terus melakukan laporan perkembangan kondisi daerahnya baik kepada Muhammadiyah setempat ataupun Pimpinan di atas nya agar Pimpinan Wilayah serta Pimpinan Pusat mengetahui kesiapan fortasi secara daring ataupun tidak.

Kedua, IPM harus mempersiapkan dua konsep fortasi secara rinci, yaitu fortasi seperti biasa atau fortasi secara langsung, mengingat belum ada kepastian dari Kemendikbud apakah sekolah akan masuk atau tidak.

Mempersiapkan dua konsep secara rinci untuk berjaga-jaga ketika sekolah tetap masuk ataupun dilakukan secara daring sehingga pelaksana di tingkat ranting sudah bersiap juga dengan dua kemungkinan tersebut.

Ketiga, IPM perlu melakukan koordinasi berkelanjutan dengan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), karena bagaimanapun sekolah juga menunggu kebijakan yang dikeluarkan oleh Majelis Dikdasmen.

Jika fortasi daring akan tetap dilaksanakan, IPM harus menerbitkan surat Instruksi pelaksanaan fortasi serta melampirkan surat majelis Dikdasmen yang mengizinkan pelaksanaan fortasi secara daring agar tidak terjadi kesalahpahaman di tingkat bawah.

Keempat, IPM harus terus melakukan sosialisasi di berbagai media perihal konsep fortasi baik secara daring atau tidak, agar seluruh pimpinan dapat mengakses informasi secara cepat dan akurat. Sehingga fasilitator dapat terus melaksanakan tugasnya dengan baik.

Penulis berharap, semua pihak bisa menyukseskan fortasi pada tahun ini, bagaimanapun metodenya, kemeriahan fortasi pada tahun-tahun sebelumnya harus tetap ada. Fortasi bagi siswa baru merupakan momentum kebahagiaan yang akan menjadi kenangan.

Bagi seluruh fasilitator fortasi se-Indonesia, tetap semangat. Dengan adanya fortasi daring membuat kita banyak belajar, tentu teman-teman semua garda terdepan dalam menyukseskan pelaksanaan fortasi. Salam hangat dan sukses untuk semua.

Fathin Robbani Sukmana, Ketua PW IPM Jawa Barat Bidang PIP dan Founder batascita.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles