Hari Lingkungan Hidup Internasional: Refleksi Tugas dan Amanah

Lingkungan
Ilustrasi freepik

Hanief Zeinadin

Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan tanggal 05 Juni setiap tahunnya sebagai Hari Lingkungan Hidup Internasional. Termasuk pula Indonesia yang juga membersamai dalam peringatan tersebut. Tentunya posisi kita sebagai personal tidak terlepas dengan gerak membersamai lingkungan. Entah kita sadari maupun tidak, kita paham  maupun tidak, mau ataupun tidak, setiap langkah menapaki persekian hari, interaksi dengan lingkungan pasti terjadi. Lingkungan hidup dalam hal ini alam yang terkait didalamnya : bintang, tumbuhan, dan komponen alam lainnya.

Alam sekarang ini tidak sekedar sebagai tempat bersemayamnya makhluk hidup, namun sudah menjadi ke-bergantungan manusia sehari-hari. Apa buktinya? Dengan segala kecanggihan dan sarana fasilitas yang memadai, alam sudah menjadi sarang candu untuk dinikmati. Mulai dari, eksploitasi – yang mungkin berlebihan – hingga bahan masakan yang bersifat keseharian sejak zaman bahari.

Bagaimana Tanggapan Qur’an?

Seluruh alam raya dalam hal ini lingkungan hidup, sekali lagi digunakan manusia untuk melanjutkan evolusinya ( berturun temurun ). Dan pastinya Tuhan memiliki tujuan dan dengan tujuan tersebut manusia tidak bisa berlaku sewenang-wenang. Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan sia-sia ( tanpa tujuan) [QS 38:27]. Kehidupan makhluk Tuhan saling berkaitan, bila yang satu terganggu secara langsung yang lain juga terganggu. Penciptaan lingkungan hiup oleh Tuhan memang diimbangi dengan keserasian dan ketepatan, karena itulah tugas manusia bagaimana agar keserasian dan ketepatan harus terpelihara, agar tidak mengundang kerusakan.

Begitupula manusia, dia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi [QS 2:30]. Kekhalifahan bukanlah sekedar kehadiran belaka tanpa makna, pemberian akal pikiran dan daya kekuatan untuk suksesi mengemban tugas tersebut adalah dengan cara menggunakan dan mengembangkan potensi tersebut untuk kemaslahatan dunia : kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat tanpa menyakiti makhluk Tuhan yang lain. Yang dilatar belakangi kemaslahatan akhirat.

Baca Juga:   Covid-19: Judul Clickbait Membuat Masyarakat Panik

Disisi lain Qur’an menyatakan sebagian manusia berdalih apa yang diperbuatnya adalah pembangunan, akan tetapi justru menurut Qur’an adalah pengrusakan [QS 2:30]. Seperti halnya penebangan. Anggapan manusia dengan kegiatan penebangan pohon, kayunya dapat diambil guna membangun rumah, kantor, dan fasilitas lain. Tetapi justru, bencana longsor siap menanti. Pada dasarnya kegiatan semacam itu haruslah diiringi dengan sikap dewasa dan bertanggung jawab. Kembali menanam adalah solusinya.

Pandangan Prof. Quraish Shihab

Diambil dari buku Membumikan Al-Qur’an karya pakar tafsir terkemuka Prof. Quraish Shihab. Dikemukakan terdapat empat unsur yang saling berkait, yang dengan keterkaitannya timbul rasa saling support (dukung-mendukung).

Pertama, manusia, yang dalam hal ini dinakamkan khalifah. Kedua, alam raya, yang ditunjuk oleh ayat 21 Al-Baqarah sebagai bumi. Ketiga, hubungan antara manusia dengan alam dan seisinya, termasuk dengan manusia sendiri pula (istikhlaf atau tugas-tugas kekhalifahan). Keempat – ini yang utama, dengan yang memberi penugasan itu sendiri yaitu Allah.

Penulis rasa unsur diatas memang tidak bisa terpisahkan. Karena keempat unsur diatas adalah berpengaruh antara satu dengan yang lain. Sehingga mutlak harus diperhatikan dan dicermati. Ini berarti, kita dituntut untuk saling mengormati. Maksudnya, jangan main sendiri, jangan timbulkan ego kepentingan, hal ini adalah kemaslahatan umum (common good).

Penghuni Alam terus Berevolusi

Letak Alam dengan segala keindahan materialnya seharusnya membuat kita paham dan sadar, jangan sampai anak cucu kita tidak bisa menikmati materialistis keindahan alam. Jangan sampai kita mementingkan keberadaan sekarang tanpa melihat jauh ke kedapan. Kehidupan terus berevolusi sehingga tidak bisa kita selamanya menikmati.

Regenerasi pasti terjadi, dari seorang kakek ke bapak, bapak ke anak, anak ke cucu, cucu ke buyut hingga seterusnya. Manusia bukan pemilik tunggal alam. Manusia berdampingan dengan hewan, tumbuhan, gunung, sungai dan lainnya. Semuanya dibawah ke-Maha Agungan Allah. Manusia yang merupakan sebagian kecil dari ciptaanNya harus tunduk dan patuh. Potensi manusia untuk mengembangkan mendesain alam adalah bebas dan diperbolehkan. Namun batas syariat tetap menjadi tali pengingat dan pengikat. Jangan sampai melewati bahkan menerobos.

Baca Juga:   Dardiri dan Rasyidi; Tokoh Muhammadiyah Pemrakarsa Kementerian Agama

Ada Apa dengan Sampah Plastik?

Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Sumber yang sama menyebutkan, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

Sebelumnya, berdasarkan data The World Bank tahun 2018, sebanyak 87 kota di pesisir Indonesia memberikan kontribusi sampah ke laut diperkirakan sekitar 1, 27 juta ton. Dengan komposisi sampah plastik mencapai 9 juta ton dan diperkirakan sekitar 3,2 juta ton adalah sedotan plastik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Jenna R Jambeck dari University of Georgia, pada 2010 ada 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia. Sekitar 4,8-12,7 juta ton di antaranya terbuang dan mencemari laut.

Perlunya Upaya Masif

Cara kita untuk mengatasi problematika diatas salah satunya dengan upaya masif. Upaya yang dilakukan dengan serius, tidak setengah setengah, apalagi sebisa dan seadanya. Dalam hal ini seluruh komponen pemerintah-masyarakat harus turun tangan. Kerja bareng, karena dari sanalah, jika ada seorang yang tidak bisa, yang lain dengan kebisaannya (kemampuannya) mampu tampil membantu. Jangan sampai pula kelas elit hanya sebagai pemberi perintah sedangkan yang non-elit dijadikan babu. Jangan sampai pula ada strategi yang tumpang tindih, karena hal ini akan membuat percabangan yang semakin melemahkan. Dibutuhkan kesadaran dini yang timbul dari diri pribadi. Agar untuk selanjutnya kesadaran tersebut ditularkan kepada keluarga, teman, dan masyarakat.

Tidak memakai sedotan plastik juga kantong plasti