Menyuarakan Kebenaran

Berkata Benar Ilustrasi Dok NPR

Dr Ali Trigiyatno

Termasuk amal shalih yang layak dikerjakan oleh seorang muslim adalah menyuarakan atau menyampaikan kebenaran. Kebenaran sudah selayaknya bukan untuk disembunyikan apalagi dihilangkan. Ia harus disampaikan dan bila perlu dikemukakan kepada khalayak ramai. Dalam surat Al-‘Ashr ayat 3 disebutkan salah satu ciri manusia yang tidak akan merugi adalah mereka yang saling menasehati untuk tetap berada dalam kebenaran.

Memang menyampaikan kebenaran terkadang tidak mudah dan sering membawa resiko. Namun demikian ia tetaplah kewajiban yang tidak boleh ditinggal sungguhpun pahit dan getir akibatnya seperti diingatkan Nabi Muhammad saw kepada sahabat tercintanya Abu Dzar dalam sebuah Hadits yang cukup panjang, “…dan Rasulullah saw menyuruhku untuk menyampaikan kebenaran walau terasa pahit akibatnya…” (HR Ahmad).

Dalam sejarah Islam kita tahu bagaimana kiprah dan sepak terjang sahabat Nabi yang satu ini. Nama Abu Dzar al-Ghifari lekat dengan sosok sederhana, zuhud, tegas dan berani, pengkritik kehidupan pejabat yang cenderung bermewah-mewah dan serakah. Semboyan hidup Abu Dzar yang ia ungkapkan: “Beritakanlah kepada para penumpuk harta yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan disetrika dengan setrika api, neraka akan menyetrika kening dan pinggang mereka di hari kiamat.”

Tercatat ia pernah menegur dan mengingatkan Muawiyah ketika jadi Gubernur di Syria. Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, Al Khizra, Abu Dzar mengkritik Muawiyah, “ Kalau Tuan membangun istana ini dari uang negara, berarti Tuan telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Tuan membangunnya dengan uang Tuan sendiri, berarti Tuan melakukan israf (pemborosan).” Bahkan atasan Muawiyah sendiri yakni Khalifah Usman tidak luput dari kritikan dan nasehatnya.

Walau tidak sepenuhnya kritik dan nasehatnya ini direspon penguasa, namun paling tidak Abu Dzar sudah menjalankan salah satu wasiat yang diberikan Rasulullah saw untuk menyampaikan kebenaran walau pahit akibatnya. Di saat meninggal dunia, Ibnu mas’ud memberi kesaksian dengan menyatakan: ”Benarlah ucapan Rasulullah… Anda berjalan sebatang kara… Mati sebatang kara…Dan dibangkitkan nanti sebatang kara…”

Baca Juga:   Musyda PDNA Purworejo Canangkan Gerakan Dakwah Komunitas

Menyampaikan kebenaran kepada khalayak luas memang amalan utama, namun berani menyampaikan kebenaran di depan penguasa yang zalim atau menyimpang memilik kedudukan tersendiri dalam Islam. Nabi Muhammad saw menyatakan ketika ditanya sahabat, jihad apa yang paling utama? Beliau menjawab, “Kalimat kebenaran di sisi pemimpin yang zalim“. (HR. Nasai, Ibnu Majah dan dishahihkan al Albani dalam Ash Shahihah: 491).

Mengingatkan dan meluruskan pemimpin yang zalim memiliki keutamaan yang besar mengingat dampak yang luas dari tidak adilnya seorang pemimpin dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Jika pemimpin yang menyimpang dibiarkan dalam penyimpangannya, tentu kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan sangat luas, dan hal seperti ini sudah semestinya dihentikan termasuk dengan nasehat dan peringatan.

Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, bahwa Umar bin Khathab pernah berkata kepadanya, “Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?” Lalu Ziyad menjawab,“Tidak tahu.” Umar berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Al-Qur’an, dan keputusan para pemimpin yang menyesatkan” (Riwayat AdDarimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih).

Di sisi lain, menyampaikan kebenaran di sisi penguasa yang zalim juga mengandung resiko yang tinggi, bisa-bisa sang penyampai kebenaran dihukum, disiksa dan mungkin saja dibunuh.

Namun demikian, untuk menasehati pemimpin ada etika yang perlu dipenuhi. Dalam Hadits riwayat Imam Ahmad Rasulullah saw berpesan :

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.”( HR. Ahmad, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no. 1096-1098).

Baca Juga:   Islam Normatif dan Islam Historis

Dr Ali Trigiyatno, Dosen Pascasarjana STAIN Pekalongan, Waket PDM Batang membidangi Majelis Tarjih dan Tabligh

Sumber: Majalah SM Edisi 18 Tahun 2016