KRH Hadjid Sang Pejuang (4) Berhaji bersama Presiden Sukarno

M Muchlas Abror

KRH Hadjid pernah menjadi Anggota Dewan Konstituante mewakili Masyumi. Pada tahun 1955 berlangsung Pemilu pertama di Indonesia. Menurut penilaian dari banyak kalangan, Pemilu itu merupakan Pemilu yang demokratis. Dilaksanakan benar-benar secara langsung, umum, bebas, dan rahasia. Empat partai yang memperoleh suara banyak dan keluar sebagai pemenang dengan urutan sebagai berikut : 1. PNI, 2. Masyumi, 3. NU, dan 4. PKI.

Dewan Konstituante adalah lembaga terhormat. Tempat bersidangnya ya di Gedung Konstituante yang berada di tengah kota Bandung. Gedung ini terkenal pula dengan sebutan Gedung Asia Afrika. Karena pernah digunakan untuk tempat Konferensi Asia Afrika yang dihadiri oleh puluhan Kepala Negara dari dua benua (Asia dan Afrika). Lembaga ini memikul tugas berat karena akan menentukan corak pemerintahan RI dan juga menentukan nasib bangsa Indonesia.

Sidang-sidangnya pada tahun 1956 – 1959 berlangsung seru, hangat, dan panas. Bahkan, kalau masing-masing tidak dapat mengendalikan diri, tidak ada kesabaran dan berjiwa lapang, maka akan mengalami jalan buntu. Benar yang tak diharapkan terjadi, jalan buntu menjadi kenyataan. Akhirnya, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang antara lain isinya Konstituante dibubarkan. Sungguh, sayang sekali.

Berhaji bersama Presiden Sukarno

KRH Hadjid menerima kabar baik. Karena ada surat pemberitahuan yang diterimanya dari Direktur Kabinet Presiden yang ditandatangani oleh Mr. G. Pringgodigdo. Isi surat bahwa ia diikutsertakan untuk berhaji bersama Presiden Sukarno. Jumlah rombongan Presiden Sukarno dan Menteri Agama KH Masykur termasuk Pengawal dan Staf Presiden seluruhnya 31 orang. Dari golongan ulama yang ikut dalam rombongan ini antara lain KRH Hadjid mewakili Masyumi bersama teman seperjuangannya Prof KH Abdul Kahar Mudzakir, dan KH Bisri dari NU.

Baca Juga:   Membentengi Keluarga Muslim

Rombongan Presiden itu berangkat meninggalkan Jakarta pada pertengahan bulan Juli 1955 dan sampai di Arab Saudi menjadi tamu Negara/ Kerajaan. Seluruh acara dan upacara penyambutan rombongan tamu berjalan lancar, tertib, dan khidmat, baik di Bandara, di Istana Kerajaan Ibnu Saud, maupun di kediaman Gubernur Madinah, dll. Ibadah haji dapat dijalani secara baik. Wukuf di Arafah adalah acara puncak bagi siapa pun yang berhaji. Bagi Presiden bersama rombongan wukuf di Arafah pada waktu itu meninggalkan kenangan manis yang sulit dilupakan. Sebab, hari wukufnya bertepatan hari Jum’at sehingga disebut Haji Akbar.

Selama beberapa hari menjadi tamu negara, Presiden beserta rombongan meluangkan waktu dan berkesempatan untuk berziarah ke Madinah untuk shalat di Masjid Nabawi, ziarah ke makam Rasulullah saw, dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah meski secara singkat. Selain itu mengadakan pertemuan dengan para Pejabat Negara Kerajaan Arab Saudi. Juga tidak dilewatkan pertemuan khusus dengan Dubes Indonesia di Arab Saudi beserta stafnya, dan lain-lain.

Kunjungan kenegaraan ke Mesir dan India

Sesudah selesai menunaikan ibadah haji, sesuai jadwal yang telah direncanakan jauh sebelumnya, Presiden bersama rombongan mengadakan kunjungan kenegaraan ke Mesir dan berikutnya ke India. Dua negara itu berjasa besar dalam memberi dukungan pada masa awal terhadap Kemerdekaan Negara RI.

Kunjungan kenegaraan ke Kairo, Mesir, pada hari pertama, Presiden dan rombongan disambut di Gedung Negara dan singgah di Istana Koubbeh, tempat tamu bermalam. Hari kedua, berkunjung ke Museum Mesir, melihat mummy dan piramida. Hari ketiga, menyusur Sungai Nil dengan kapal boat menuju Delda Barrages. Bersamaan malam itu ada Perayaan Nasional Jumhuriah Square.

Setelah diperkenalkan kepada masyarakat Mesir, lalu Presiden Sukarno menyampaikan pidato. Dan di mimbar yang sama pula, Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser menyampaikan pidato penting. Pada hari berikutnya, menyaksikan Show of Force Angkatan Bersenjata Mesir di lapangan ElJumhuria. Terakhir, Presiden Gamal Abdul Nasser menganugerahkan beberapa bintang kehormatan kepada Presiden Sukarno dan para pejabat serta tokoh. KRH Hadjid termasuk menerima Bintang Nisyah dari Presiden Mesir. Bersambung

Baca Juga:   Kolaborasi Hamengku Buwono VII dan KH Ahmad Dahlan

Sumber: Majalah SM Edisi 15 Tahun 2016

Artikel sebelumnya

KRH Hadjid Sang Pejuang (1)

KRH Hadjid Sang Pejuang (2)

KRH Hadjid Sang Pejuang (3) Difitnah dan Ditahan