Komunikasi ”New Normal” dan Beban Kesehatan Masyarakat Indonesia

Ilustrasi Dok Pxabay Infoworld

Oleh: Wildan dan Nurcholid Umam Kurniawan

Tujuh puluh persen waktu bangun kita,
digunakan untuk berkomunikasi.
Komunikasi menentukan kualitas hidup kita.
(dalam Rakhmat, 1991)

Kata komunikasi sendiri dipergunakan sebagai proses, sebagai pesan, dan sebagai pengaruh pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi. Dance (1970), menghimpun tidak kurang 98 definisi komunikasi. Adapun yang dimaksud dengan komunikasi “new normal” atau normal baru adalah kampanye, pesan oleh Pemerintah RI yang ditujukan kepada masyarakat Indonesia dalam rangka menghadapi pandemi

Covid-19.

Dengan komunikasi kita membentuk saling pengertian, menumbuhkan persahabatan,

memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan, dan melestarikan peradaban. Tetapi dengan komunikasi kita juga menyuburkan perpecahan, menghidupkan permusuhan, menanamkan kebencian, merintangi kemajuan, dan menghambat pemikiran (Rakhmat, 1991). Hidup itu pilihan ! Tuhan memberi anugerah hanya untuk manusia yaitu Prefrontal Cortex, otak yang ada persis dibalik tulang dahi, yang salah satu fungsinya untuk pengambilan keputusan (decision making), maka oleh Tuhan manusia diberi kebebasan untuk membuat pilihan (free choice), bebas berkehendak (free will), dan bebas bertindak (free act). Namun Tuhan mengingatkan umat manusia lewat Kitab Suci, jika mereka berperilaku tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, diancam kelak ke Neraka akan diseret pada dahinya (QS Al Alaq [96]: 15-16 dan QS Al Rahman [55]: 41).

Kesehatan berkaitan dengan sifat Tuhan Al-Rahman, Maha Kasih tanpa pilih kasih. Nikmat kesehatan sebagai bentuk rahmat Allah kepada kita, tidak tergantung iman kita, tidak tergantung pada ibadah kita, tidak tergantung pada kesalahan kita. Tetapi tergantung pada seberapa jauh kita mengetahui masalah-masalah kesehatan (Madjid, 2015).

Jangan mengulangi kesalahan kakek-nenek manusia, Adam dan Hawa, setelah diberi ilmu pengetahuan, mereka lupa batas, akhirnya Allah mengirim mereka ke dunia yang fana. Ilmu pengetahuan tidak menjamin kebahagiaan abadi. Tetapi dengan iman saja, kita tidak bisa unggul di dunia ini. Harus ada iman dan ilmu (Madjid, 2015).

Salah satu tujuan hidup berbangsa dan bernegara Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, adalah Memajukan Kesejahteraan Umum. Upaya kesehatan adalah salah satu upaya guna mewujudkan kesejahteraan umum. Tidak ada kesehatan tanpa kesejahteraan. Sebaliknya, tidak ada kesejahteraan tanpa kesehatan. Adapun upaya kesehatan meliputi upaya promosi dan prevensi (pencegahan), upaya kurasi (penyembuhan) dan upaya rehabilitasi (pemulihan). Jadi, upaya kesehatan adalah upaya kita bersama (kolektif) segenap bangsa Indonesia, sesuai dengan kemampuan, peran, posisi, kedudukan dan profesi kita masing-masing guna terwujudnya kesejahteraan umum. Itu pulalah yang dilakukan Muhammadiyah bahkan sejak negeri ini belum terbentuk. Landasan QS Al Maa’uun [107]: 1-7 menjadi filosofi dasarnya.

Baca Juga:   Beirut: The City of Coexistence

Saat ini situasinya kurang lebih begini, komunikasi yang dijalankan pemerintah dalam menghadapi pandemi ini diterima secara beragam oleh penerima informasi yakni rakyat. Penerima informasi menerjemahkan secara berbeda karena pemberi informasi juga tidak jelas content/isi informasinya, ditambah adanya perbedaan kebijakan antara stake holder di daerah baik di tingkat kabupaten, kotamadya maupun propinsi, alhasil terjadi kebingungan berjamaah di tingkat akar rumput (baca: rakyat) dan hal ini mendorong munculnya tafsir komunikasi yang berbeda-beda, kadang disesuaikan dengan kebutuhan individu maupun kelompok masing-masing, mana yang menguntungkan maka tafsir itu yang dipakai. Tafsir ‘new norma life’ akhirnya menjadi liar, ada yang menganggap ‘sudah normal’, ‘hidup dengan gaya baru’, ‘abnormal yang dianggap normal’, ‘bekerja dengan cara berbeda’ dan berbagai tafsir lainnya. Mana yang benar? Tentunya semua benar menurut tafsir masing-masing, sesuai tingkat pengetahuan dan perkembangan otak individu masing-masing. Di sinilah mungkin Reisa dianggap mampu menambah kemampuan pemerintah dalam menyampaikan komunikasinya ke rakyat, membantu Pak Yuri, selain mungkin karena alisnya yang mirip Galgadot akan menarik rakyat kembali mendengarkan informasi pemerintah dan komunikasinya sampai ke publik. Cantik, dokter, cerdas dan komunikatif, begitu harapannya, semoga.

Beban Kesehatan Masyarakat Indonesia

Pandemi ini memang membebani semua negara, termasuk Indonesia. Menurut Oganisasi Kesehatan Dunia (WHO), bahwa beban kesehatan (health burden) masyarakat Indonesia yang berupa penyakit menular, adalah jumlah penderita penyakit TBC di Indonesia menempati urutan ketiga terbanyak di dunia setelah China dan India, dengan tingkah kematian per tahun 67.000 orang. Kasus DBD di Indonesia pun tertinggi di dunia.

Namun, perlu diingat Covid-19 merupakan penyakit baru, yang kita belum banyak tahu seluruh dampaknya. Penyakit ini amat menular dan mematikan, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit komorbid, seperti hipertensi, jantung dan diabetes. Sejumlah riset terbaru menunjukkan Covid-19 bisa meningkatkan risiko serangan stroke, termasuk pada anak muda yang sebelumnya sehat (Journal Neurosurgery, 4 Juni 2020).

Norma Baru, Bukan Normal Baru

Baca Juga:   Wakil Rektor UM Jember: Perkuat SDM dan IT Hadapi New Normal

Pandai-pandailah mengambil hikmah, kata pepatah. Hikmah, yang menurut definisi Nabi Muhammad SAW adalah “kebenaran di luar kenabian”. Sebetulnya, hikmah pun bersumber pada Kebenaran Tunggal yang ditebarkan oleh Allah SWT ke setiap sudut bumi, namun ditangkap oleh para bijak-bestari dan kemudian dirumuskan dengan bahasa khusus. Konsekuensi logisnya adalah bahwa, hikmah mustahil bertentangan dengan Kitab Suci karena berasal dari sumber sama Kebenaran Tunggal yang ditangkap serta dikomunikasikan dengan bahasa yang berbeda, dua sisi kebenaran dari satu wajah kebenaran ! (Ibrahim, 2012). Melalui Kitab Suci Tuhan berfirman: “Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepada kalian dan mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian ketahui” (QS Al Nisa [4]: 113).

Lagi, kata pepatah: “Pengalaman adalah guru yang terbaik”. Namun, berguru pada pengalaman orang lain juga tidak kalah baik. Maka, agar tidak ditertawakan oleh

fihak pegadaian yang tagline-nyamenyeles