Muhammadiyah Tidak Ambyar Dihantam Pandemi

Ilustrasi

Oleh: Muhammad Jamaludin Ahmad, Wakil Ketua LPCR PP Muhammadiyah

Salah satu berkah dan hikmah dari pandemi covid adalah membuat orang  “terpaksa” berkreasi dan berinovasi agar tetap bisa hidup dan berkehidupan. Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM)  di berbagai cabang dan ranting se Indonesia rata-rata bangkit dan bergerak untuk peduli dan membantu berbagai pihak untuk perang melawan covid-19 dan mencari solusi terhadap dampak negatif yang muncul akibat pandemi ini.

Berhentinya kegiatan yang sifatnya berkumpul secata fisik seperti pengajian, shalat berjamaah di masjid, mendorong AMM untuk mengisi kekosongan tabligh Muhammadiyah dengan menggarap dakwah secara online atau dakwah virtual agar tabligh Muhammadiyah terus berlangsung meski engan cara yang berbeda. Dakwah melalui media informasi  harus serius digarap oleh AMM. Salah satu yang sadar akan hal itu adalah Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Piyungan Bantul. Melalui bidang Media PC PM Piyungan serius menggarap program ” AMM TALK” secara rutin dan berseri.Mereka mentargetkan setiap sepekan dapat mengunggah tiga topik di media sosial khususnya di You Tube, fb dan instagram.

Demikian juga dengan AMM Imogiri, selama Ramadhan 1441 H juga sangat aktif dengan dakwah digitalnya melalui program “KORMA AMM” Imogiri. Modal Program Ramadhan ini perlu ditindaklanjuti paska ramadhan dengan program.yang lebih terencana.

LPCR PP Muhammadiyah sejak  periode Periode pertama (2010-2015) sudah menaruh perhatian agar tabligh Muhammadiyah dari para ulama, mubaligh, ustadz dan dai Muhammadiyah bisa diterima dan diakses dengan mudah oleh warga Muhammadiyah hingga ke cabang dan ranting juga untuk masyarakat umum termasuk generasi millenial. LPCR PP Muhammadiyah bekerjasama dengan RSU PKU Muhammadiyah Bantul, PW PM DIY juga dengan UAD menyelenggarakan Pelatihan pembuatan Video untuk AMM agar mereka mampu memproduksi video dakwah melalui rumah produksi AMM maupun karya pribadi mereka untuk mengisi di Youtube dan media sosial utk mengemban misi dakwah Muhammadiyah.

Pada LPCR PP Muhammadiyah periode ke dua (2015-2020) kepedulian ini semakin ditingkatkan.  Program pertama tingkat nasional yg diselenggarakan oleh LPCR adalah “KOPI DARAT PENGGIAT DAN PENGELOLA RADIO MUHAMMADIYAH”. Hal ini untuk menjawab kegelisahan warga muhammadiyah di Cabang Ranting yang kesulitan memperoleh kajian/pengajian yang berkualitas dari para mubaligh muhammaditah. Kegiatan ini mengajak persyarikatan Muhammadiyah di semua tingkatan dan AUM nya untuk menjadikan radio dan televisi (serta dakwah digital) sebagai gerakan nasional dan berjejaring.

Baca Juga:   Mutohharun Jinan; Memenuhi Janji

Selanjutnya setiap tahun mengadakan lomba Video tentang Cabang dan Ranting tingkat nasional. Salah satu yang ingin diraih oleh LPCR PP Muhammadiyah dari kegiatan ini bukan sekedar ingin mendokumentasi dinamika dan kegiatan Cabang dan Ranting Muhammadiyah akan tetapi sekaligus memiliki maksud dan tujuan yang lebih penting yaitu:

1. Mendorong partisipasi aktif  kaum muda  Muhammadiyah (AMM) untuk memajukan Muhammadiyah.

Tanpa keterlibatan anak anak  anak muda Muhammadiyah dalam menggerakkan persyarikatan maka Muhammadiyah akan ditinggalkan anak anak muda dan dakwahnya akan ketinggalan zaman karena tidak mampu “berkomunikasi menurut bahasa kaumnya”.

Adakah alasan lain mengapa anak anak muda diharapkan untuk terlibat menggerakkan dakwah muhammadiyah di tingkat akar rumput. Mengapa? Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah sebenarnya dirintis oleh seorang anak muda  yang bernama Muhammad Darwis atau Ahmad Dahlan dan juga didukung oleh anak-anak muda (bahkan lebih muda di Banding KHA Dahlan). Dengan adanya dukungan dari anak anak muda maka Muhammadiyah mampu berkembang dengan sangat pesat.

Bahkan dalam perjalanan sejarah kepemimpinan Muhammadiyah, di tingkat pimpinan pusat pernah dipimpim oleh seorang anak muda dari Surabaya  yang usianya sekitar 40 tahun. Anak muda itu bernama  Mas Mansur. Oleh karena itu anak anak muda tidak perlu menunggu usianya mencapai 40 tahun baru bersedia menjadi pimpinan persyarikatan Muhammadiyah.

LPCR PP Muhammadiyah memiliki program peremajaan Pimpinan Persyarikatan di PCM dan PRM yg akan terus digelorakan yaitu 40 %  kepengurusan ditingkat PCM dan PRM diupayakan berusia dibawah 40 tahun. Beberapa contoh PCM Unggulan nasional yang dipimpin oleh mereka yang usianya dibawah usia 40 tahun antara lain : PCM Cileungsi Bogor (Ketua usia 36 tahun), PCM Limbung Gowa Sulsel (Ketua usia 32 th),  PCM Sruweng Kebumen Jateng (Ketua usia 34 tahun).

2. Mendekatkan Tablig (Ustadz, dai, mubaligh,ulama) Muhammadiyah ke ummat.

Ketika Muhammadiyah hadir pada masa permulaan, banyak sekali masyarakat berbagai kalangan yang akhirnya dengan rela hati bergabung dengan Muhammadiyah karena tertarik dengan pengajian pengajian/kajian  Muhammadiyah yang disampaikan oleh para mubaligh Muhammadiyah dengan cara cara baru dan materi dakwah yang berbeda.

Saat ini banyak tabligh Muhammadiyah yang kurang mengikuti “cara cara baru dan menarik” karena kurang didukung media dakwah yang cukup memadai. Coba kita renungkan, kita hanya punya satu station televisi yaitu tvMu, hanya punya beberapa buah radio Muhammadiyah se Indonesia, Tidak memiliki amal usaha yang fokus sebagai rumah produksi film/videu dakwah, belum memiliki kanal di Youtube, fb, instagram yang di-like atau memilki subcriber diatas limapuluh ribu.

Baca Juga:   Puasa, Takwa, dan Keselamatan Jiwa di Masa Pagebluk

Akibatnya tabligh Muhammadiyah  kurang terpublikasi secara maksimal baik ke publik maupun ketingkat warga Muhammadiyah yang ada di cabang dan ranting terlebih lagi untuk kelompok millenial. Akibatnya banyak warga Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting yang kesulitan untuk mendengarkan tabligh/dakwah dari para dai Muhammadiyah melalui TV, Radio dan medsos.

Warga Muhammadiyah terpaksa mendapatkan “Asupan Dakwah” dari para mubaligh dan ustadz yang bukan Muhammadiyah. Akibatnya paham agama yang awalnya sesuai dengan paham agama dalam Muhammadiyah, sedikit demi sedikit berubah bahkan banyak warga Muhammadiyah yang akhirnya memutuskan keluar dari Muhammadiyah dan kemudian aktif menjadi pengikut kelompok Islam di luar Muhammadiyah.

Mereka tidak bisa disalahkan karena memang tabligh Muhammadiyah kurang menyentuh mereka sehingga mereka merasa kurang dibina dan kurang memperoleh manfaat menjadi warga Muhammadiyah.

Hal ini harus menjadi bahan evaluasi bagi pimpinan dan aktifis persyarikatan termasuk dari AMM. Ingat bahwa jumlah generasi millenial dan generasi Z (kids zaman now) jumlahnya diatas 36 % dari total jumlah penduduk. Siapa yang akan “bicara susuai bahasa mereka”?

Oleh karena itu AMM jangan berharap banyak pada pimpinan persyarikatan untuk menginisiasi program ini, namun sebaiknya AMM yang seharusnya malah menjadi inisiatiatornya  agar warga muhammadiyah mudah mengakses materi dakwah yang mereka butuhkan dan akhirnya memperoleh asupan dakwah dari para ustadz Muhammadiyah. Muhammadiyah memiliki ratusan bahkan ribuan ustadz muda Muhammadiyah alumni Timur tengah dan pesantren berkualitas. Muhammadiyah juga memiliki guru besar dan doktor di bidang agama yang jumlahnya sangat banyak. Ilmu mereka perlu dipublikasikan melalui segala media informasi seperti televisi dan radio termasuk melalui youtube dan media sosial lainya.

3. Memperkuat Daya Pengaruh dan Penguasaan Media Informasi.

Salah satu agenda penting bahkan menjadi prioritas program AMM (juga untuk PRM dan PCM) adalah menjadikan dakwah melalui media informasi khususnya dakwah dunia maya/digital sebagai Amal Usaha AMM (juga PRM dan PCM) terdepan. AUM